press enter to search

Jum'at, 21/09/2018 15:03 WIB

Belum Lama Diresmikan Jokowi, Kapal Roro Bitung-Davao Hanya Sekali Berlayar Lalu Berhenti Beroperasi

Redaksi | Rabu, 20/09/2017 10:47 WIB
Belum Lama Diresmikan Jokowi, Kapal Roro Bitung-Davao Hanya Sekali Berlayar Lalu Berhenti Beroperasi Presiden Jokowi & Duterte melepas kapal roro Davao-Bitung

BITUNG (aksi.id) ‑ Baru beberapa bulan lalu Presiden Filipina Rodrigo Duterte didampingi Presiden Jokowi meresmikan Pelayaran Perdana Kapal Roll on roll off (Roro) menghubungkan Bitung‑General Santos‑Davao, tepatnya 30 April 2017 lalu.

Kapal milik Asian Transport Marine Corporation  yang digadang-gadang menjadi kapal ekspor berbagai komoditi Indonesia--khususnya Sulut-- ke Filipina cuma tinggal cerita. Kapal yang direncanakan akan beroperasi dua kali dalam sebulan itu hanya beroperasi satu kali dan saat ini terhenti.

Saat pelayaran perdana 2 Mei 2017 lalu, kapal MV Super Shutle Ro‑Ro 12 itu tiba di Sulut dan  disambut bak raja di Pelabuhan Bitung. Namun setelah itu, kapal yang mampu mengangkut 500 kontaner tersebut tak pernah muncul lagi sejak 2 Mei.

Padahal, kapal direncanakan sandar dua bulan sekali.

Kontras dengan segala kemeriahan itu, lima bulan kemudian, tepatnya pertengahan September, terlihat ratusan kontainer kapal roro malah teronggok di Pelabuhan Bitung

Kontainer berwarna biru bertuliskan super shuttle itu parkir di sisi kiri terminal kapal penumpang.

Dari tampilannya, ratusan kontainer itu masih baru. Warnanya mengkilap. Beberapa kontainer terlihat mulai berkarat.

Terhentinya operasi Roro tersebut berdampak terhadap pengusaha di Sulut. Sebelumnya dikabarkan sejumlah komoditi seperti kelapa dan lainnya siap diekspor keFilipina  melalui rute cepat Bitung-General Santos-Davao.

"Wah sudah berpikir ekspansi ke Filipina tapi ternyata kapalnya belum jalan," kata Ray, seorang pengusaha rumah ada , seperti dikutip tribunnews.com.

Kegagalan itu membuat Ray batal ekspansi ke Filipina

Ia pun saat ini terpaksa hanya mengandalkan ekspor ke eropa yang memakan banyak biaya.

"Padahal Filipina adalah peluang baru, lebih dekat, lebih murah ke sana hingga biaya operasional tak terlalu tinggi," kata dia.

Sementara itu Syam Panai, Ketua Asosiasi Logistik Forwarder Sulut (ALFI) mengungkapkan,  belum terhentinya operasi Roro Davao - Genaral Santos ‑Bitung membuat pengusaha terpaksa memilih rute lama Bitung ‑Jakarta ‑Filipina untuk membawa produknya ke  Filipina.

"Mereka kecewa karena dibilang rute harapan, hanya tiga hari dari Davao ke Bitung, tapi nyatanya pengusaha tetap pada rute

lama yang makan waktu seminggu hingga dua minggu lamanya," kata dia.

Anggota Dewan Bitung yang juga pengusaha Ramlan Ifran minta pemerintah menyelamatkan rute tersebut. "Ini peluang yang bagus jangan sampai hilang karena masalah regulasi," kata dia.

Pria yang akrab disapa Haji Olan itu menuturkan, masalah utama kapal itu adalah regulasi pengiriman barang. Ada aturan pembatasan barang dari dan ke Filipina.

"Akibatnya pengusaha semen sulit bawa barang kesana karena aturan pembatasan tersebut," kata dia.

Menurutnya, pada rute yang sama pada akhir tahun 90 an, hal itu tak menjadi masalah. Namun kini regulasi berubah.

"Pemerintah sementara membahas regulasi itu, dugaan saya ini yang membuat kapal terhambat operasionalnya," kata dia.

Sementara ituWakil Ketua Kadin Sulawesi Utara Daniel Pesik membeber, ketatnya regulasi membuat pengusaha kewalahan.

Ia mencontohkan, untuk mengurus kesehatan saja, pengusaha harus ke Jakarta. "Kantor Kesehatan Pelabuhan kita kan hanya kelas C, jadi harus urus di Jakarta," beber dia. (art)