press enter to search

Jum'at, 19/10/2018 04:55 WIB

Perjalanan Muhammad Ali Menjadi Muslim

Prima | Minggu, 29/10/2017 18:54 WIB
Perjalanan Muhammad Ali Menjadi Muslim Petinju legendaris Muhammad Ali

JAKARTA, (aksi.id) - Keputusan Muhammad Ali menjadi mualaf banyak mempengaruhi jalan hidupnya sebagai petinju. Ali terlahir dengan nama Cassius Marsellus Clay pada 17 Januari 1942 dan beragama Nasrani. Ia memutuskan menjadi muslim ketika karir tinjunya tengah menanjak di tahun 1964.

Alasan Ali masuk Islam terungkap lewat catatan yang diwariskan kepada istrinya, Belinda Boyd, perempuan berusia 67 tahun itu yang saat ini memakai nama Khalilah Camacho Ali memberikan sebuah catatan kepada Jonathan Eig, penulis buku autobiografi Ali yang berjudul "Ali".

Pada Rabu (25/10), Eig membawa catatan tersebut ke Museum Nasional Sejarah dan Budaya Afrika untuk diarsipkan. Eig menganggap catatan ini begitu penting bagi narasi sejarah keturunan Afrika di Amerika Serikat.

Eig kemudian menuliskan pengalamannya di Washington Times tentang catatan Khalilah tersebut. Sisi spiritual sang legenda tinju Muhammad Ali, menurut Eig, bermula dari sebuah momen sederhana tanpa penafsiran muluk-muluk.

Dalam catatan tersebut, Ali bercerita bahwa suatu hari ia melihat kolom kartun dalam koran pagi yang menarik perhatian dirinya. Kolom kartun itu menunjukkan gambar seorang kulit putih memukul budak kulit hitam miliknya dan memaksanya beribadah seperti yang dijalani kebanyakan orang kulit putih.

“Saya menyukai kartun tersebut. Pesannya masuk akal bagi saya,” tulis Ali. Ali tidak mempermasalahkan ajaran Kristen yang dianut. Namun, yang mengusik pikirannya adalah proses yang membawanya menjadi pemeluk Kristen yang ditempuh dengan pemaksaan.

“Lalu, dia merasa kenapa harus tetap menjaga sisa-sisa warisan zaman perbudakan? Bagaimana jika ia tidak memegang teguh agama dan namanya, apa lagi yang bisa ia ubah?” ungkap Eig tentang catatan-catatan Ali.

Pada tahun 1964, Ali pun mengumumkan bahwa dirinya telah menjadi pemeluk Islam. Momen tersebut bersamaan dengan jadwal pertandingan perebutan gelar juara dunia kelas berat melawan Sonny Liston pada 25 Februari 1964 di Miami, Amerika Serikat. Saat itu, Ali yang masih berusia 22 tahun mampu mengambil sabuk juara dunia dari Liston yang 10 tahun lebih tua darinya.

Selama di Miami, Ali tampak beberapa kali menghabiskan waktu bersama Malcolm X, aktivis demokrasi AS yang juga aktif di kalangan Islam. Mengutip History, konferensi pers di pagi hari setelah pertandingan menjadi momen bersejarah di mana Ali membenarkan kabar kepindahannya menjadi pemeluk Islam.

"Aku percaya pada Allad dan kedamaian," ujar Ali. Ia selanjutnya menyatakan bahwa dirinya tidak ingin berada di lingkungan orang kulit putih atau menikahi perempuan kulit putih. "Aku tahu apa yang kulakukan. Aku tidak harus menjadi apa yang kalian inginkan, aku bebas menjadi apa yang aku inginkan," paparnya kala itu.

Saat itu nama Cassius Clay di dunia tinju telah cukup dikenal, namun akhirnya berubah menjadi Muhammad Ali. Perubahan nama ini disahkan oleh tokoh organisasi Muslim AS Elijah Muhammad pada 4 Maret 1964.

Kedekatan Ali dengan Elijah Muhammad meluruskan kabar kedekatan sang petinju dengan organisasi Nation of Islam. Nation of Islam sendiri merupakan gerakan Islam politik di AS yang mengusung gagasan pembebasan kulit hitam Muslim radikal.

Ali bersinggungan dengan organisasi tersebut sejak tahun 1962. Malcolm X dan Elijah Muhammad, kedua tokoh ini dikenal sebagai orang yang telah membantu memperkenalkan Ali kepada Islam.

Sejak berganti nama, kehidupan rohani Muhammad Ali menjadi perbincangan yang tidak kalah hangat dengan karier tinjunya. Namun, beberapa koran konservatif di Amerika Serikat masih menggunakan nama Carrius Clay Jr untuk memberitakan kemenangan demi kemenangan yang diraih oleh Muhammad Ali. Meskipun telah jelas bahwa nama si legenda tinju itu telah berubah secara resmi.

Prestasi Ali tidak bisa dipisahkan dari kehidupan pribadinya sebagai seorang Muslim. Ali tampak begitu ekspresif ketika muncul di media. Misalnya pernyataan ia terkait Perang Vietnam di mana Ali tidak merespons panggilan tugas militer pada 28 April 1967.

“Saya tidak ingin menjadi aib bagi agama saya, orang-orang di sekitar saya, atau saya sendiri, dengan menjadi alat untuk melawan mereka yang berjuang untuk keadilan, kebebasan, dan kesetaraan yang menjadi haknya,” tegas Ali.

Kehidupan rohaninya tak henti mendapat sorotan. Ali adalah petarung yang beringas di atas ring tinju, sekaligus juga seorang Muslim yang taat. Ia terus menekuni Islam di bawah lingkungan Nation of Islam. Hingga ia kemudian berkesempatan menunaikan haji ke tanah suci Mekkah pada 3 Januari 1972.

Dalam wawancara pada tahun 1991, terungkap bahwa kematian Elijah Muhammad ikut mempengaruhi batin dan spiritualitas Ali. Sejak 1975, Ali kemudian berguru pada putra sekaligus penerus Elijah, Wallace Muhammad. Akan tetapi, bapak dan anak ini memiliki cara pandang berbeda.

Paradigma Wallace tidak seradikal ayahnya. Wallace mengajarkan Islam yang lebih moderat, menyatakan bahwa orang kulit putih tidak selamanya dipandang sebagai iblis.

Ajaran ini kemudian membuat Ali jauh lebih lembut. Hingga kemudian membawa petualangan spiritual Ali lebih jauh lagi setelah ia dikabarkan mendalami Sufisme.

Setelah 21 tahun bertarung di atas ring, karier tinju Ali berakhir di tahun 1981 dengan catatan 56 kali kemenangan dan lima kali kalah. Ali juga telah memperoleh sabuk juara dunia kelas berat sebanyak tiga kali. Catatan kehebatan karier tinju Ali ditambah dengan gaya bertarungnya yang khas. Hal-hal tersebut kemudian membuat ia memperoleh julukan “The Greatest” sebagai salah satu figur olahraga penting di abad 20.

Ali meninggal pada 3 Mei 2016 di usia 74 tahun setelah berjuang melawan penyakit guncangan septik yang menderanya. Nama Muhammad Ali akan terus dikenang sebagai sebagai legenda tinju sekaligus tokoh muslim Amerika yang konsisten berjuang bagi kemanusiaan. (kumparan).