press enter to search

Senin, 16/07/2018 15:08 WIB

Marak Kecelakaan Proyek Infrastruktur Akibat `Kejar Setoran` Sebelum Pilpres 2019?

Redaksi | Rabu, 21/02/2018 06:20 WIB
Marak Kecelakaan Proyek Infrastruktur Akibat `Kejar Setoran` Sebelum Pilpres 2019?

JAKARTA (aksi.id) - Presiden Joko Widodo menargetkan 245 proyek infrastruktur selesai tahun 2019 atau di akhir masa jabatannya. Namun selama dua tahun terakhir terjadi 14 kecelakaan dalam proyek itu, yang menimbulkan korban tewas dan luka-luka.

Terkait rentetan insiden proyek tersebut, Ketua Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia (YLKI), Tulus Abadi, mengibaratkan percepatan pembangunan infrastruktur seperti pengemudi angkutan umum yang tergesa-gesa karena mengejar setoran.

"Ini membuktikan proyek konstruksi tersebut tidak direncanakan dengan matang dan dengan pengawasan yang ketat dan konsisten," ujarnya, Selasa (20/02).

Menteri Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR), Basuki Hadimuljono, membantah tudingan pihaknya mempercepat penyelesaian infrastruktur jelang pemilihan presiden (pilpres).tahun 2019.

Basuki mencontohkan, dari segi volume kerja, target tol 1.000 kilometer dalam lima tahun masih proporsional untuk kemampuan kontraktor dalam negeri.

"Target kami perlima tahun hanya 1.000 kilometer. Kalau negara lain, satu tahun mungkin lebih dari 1.000 kilometer. Jadi untuk perhitungan volume itu, kami tidak terburu-buru," kata Basuki di Jakarta.

Basuki merujuk pada Cina yang disebutnya membangun 4.000 hingga 5.000 tol dalam setahun. Sebelum 2014, Kementerian PUPR mencatat Indonesia hanya memiliki tol sepanjang 780km.

Pada 2019, panjang tol itu ditargetkan Jokowi meningkat menjadi 1.800 kilometer.

Adapun, kecelakaan proyek infrastruktur, Selasa dini hari kemarin (20/02), terjadi di tol Becakayu yang melintasi Jakarta dan Bekasi. Tol bernilai kontrak Rp7,2 triliun yang dimulai 2014 itu akan dibangun sepanjang 11 kilometer.

Siapa lalai?

Usai rapat dengan Menteri Badan Usaha Milik Negara Rini Soemarno dan Menteri Perhubungan Budi Karya Sumadi, Basuki mengumumkan penghentian sementara seluruh proyek infrastruktur layang atau di atas tanah, baik jembatan, tol, maupun rel.

Basuki menunjuk Ketua Asosiasi Kontraktor Indonesia, Budi Harto, untuk mengevaluasi seluruh proyek infrastruktur layang di Indonesia selama moratorium tersebut.

Peninjauan kembali itu mencakup desain, standar operasional, sumber daya manusia, peralatan, dan pengawasan.

"Ini perintah presiden," ujar Basuki soal kemungkinan molornya target penyelesaian infrastruktur.

.

Ahli Keselamatan dan Kesehatan Kerja Kementerian PUPR, Arie Setiadi, menyebut beberapa penyebab kecelakaan proyek infrastruktur belakangan ini, antara lain faktor pekerja (human error) dan kesalahan kontraktor.

Kementerian PUPR masih menyelidiki pemicu jatuhnya timber bracket tiang tol Becakayu. Namun dalam insiden lainnya, yaitu jatuhnya crane di proyek rel kereta api ganda di Jatinegara, Jakarta, kesalahan dibebankan kepada PT Hutama Karya (Persero).

Hutama Karya, serupa dengan PT Waskita Karya (Persero) Tbk di proyek Tol Becakayu, adalah BUMN yang ditunjuk sebagai pelaksana proyek.

Akibat kejadian di Jatinegara, Hutama Karya dihukum pemerintah tidak akan mendapatkan proyek selama satu tahun ke depan.

Sementara itu, Menteri Rini Soemarno berjanji akan mengevaluasi direksi Wastika. Tujuh dari 14 kecelakaan infrastruktur terakhir digarap perusahaan pelat merah tersebut.

"Kalau memang ada kesalahan human error, kami pasti akan berikan sanksi," kata Rini.

Mengapa bisa celaka?

Juru Bicara Kementerian PUPR, Endra Atmawidjaja, menyebut sebagian besar kecelakaan infrastruktur di Jakarta terjadi malam atau dini hari.

Insiden Tol Becakayu terjadi sekitar pukul 3.00 WIB, sedangkan crane di proyek rel ganda Jatinegara ambruk pukul 5.00 WIB.

Endra mengatakan, pengerjaan proyek di Jakarta memang diefektifkan pada pukul 22.00 hingga 6.00 WIB. Menurutnya, hal itu dilakukan agar lalu lintas Jakarta tidak terganggu.

"Bayangkan di Jakarta mengaspal jalan jam tujuh pagi, pasti macet. Artinya kami punya waktu sempit untuk bekerja untuk tidak menimbulkan dampak lain seperti kemacetan," ujarnya..

Direktur Operasi II Waskita, Wirya Adyana, menyebut pihaknya akan mengevaluasi jam kerja pada proyek Becakayu. Ia berkata, selama ini jam kerja di proyek itu hanya terbagi atas dua shift.

"Kami sekarang sedang kaji apakah perlu tiga shift. Pengecoran beton tidak boleh berhenti. Satu shift delapan jam plus lembur tiga-empat jam," kata Wirya.

Dalam insiden Becakayu, tujuh orang mengalami luka dan dilarikan ke Rumah Sakit Universitas Kristen Indonesia dan Rumah Sakit Polri Kramat Jati.

Didin, seorang pekerja di proyek Becakayu, mengaku khawatir mengalami musibah serupa, meski terdapat aturan untuk mengenakan helm dan rompi selama di area kerja.

Didin bekerja di bagian pembersihan jalan. Ia mengaku bekerja secara reguler selama delapan jam, tapi harus bersiaga untuk lembur jika truk pengangkut material datang ke lokasi proyek malam dan dini hari.

"Saya harus waspada karena kejadian ini kapan pun bisa terjadi," tuturnya.