press enter to search

Jum'at, 21/09/2018 02:59 WIB

Musibah Proyek Konstruksi, PII: Akibat Kurang SDM Berpengalaman

Redaksi | Rabu, 21/02/2018 11:51 WIB
Musibah Proyek Konstruksi, PII: Akibat Kurang SDM Berpengalaman

JAKARTA (aksi.id) - Persatuan Insinyur Indonesia (PII) menilai insiden robohnya pier head proyek Tol Bekasi-Cawang-Kampung Melayu (Becakayu) kemarin merupakan imbas dari kurangnya tenaga berpengalaman khusus di bidang pengangkatan dan pemasangan benda berat (heavy lifting and erection works).

Wakil Ketua Umum Persatuan Insinyur Indonesia (PII) Heru Dewanto mengatakan beberapa kasus kecelakaan tersebut diakibatkan oleh kegagalan struktur (structural failure), namun terutamanya diakibatkan oleh kegagalan dalam proses pelaksanaan, khususnya terkait dengan heavy lifting and erection work.

"Heavy lifting and erection works merupakan bagian dari kegiatan konstruksi yang mengandung risiko sangat tinggi terkait dengan aspek keselamatan (safety)," kata Heru dalam keterangan resmi, Rabu (21/2).

Heru menilai diperlukan persiapan, kesiapan dan kelengkapan dari seluruh elemen yang mendukung, seperti peralatan kerja, sistem dan prosedur kerja, serta SDM (operator, rigger, supervisor) yang kompeten.

"Ironisnya, dari 7 ribu insinyur dengan sertifikat kompetensi profesional bidang teknik sipil saat ini, keahlian khusus yang terkait dengan pekerjaan pengangkatan dan pemasangan benda berat masih sangat kurang. Insinyur Profesional Heavy Lifting and Erection memang masih sangat kurang, dan bahkan kompetensi tersebut nyaris belum terdaftar di PII," tutur Heru.

Ia menambahkan, PII mengajukan sejumlah rekomendasi untuk mencegah insiden kegagalan dalam proses konstruksi proyek-proyek infrastruktur. Yang pertama, segera melakukan pendidikan dan pelatihan untuk menghasilkan Heavy Lifting and Erection Professional Engineer dengan standard kompetensi dan jumlah yang memadai.

"Yang kedua, mensyaratkan alokasi Heavy Lifting and Erection Professional Engineer dan safety cost (biaya keselamatan) secara khusus di dokuman tender proyek-proyek infrastruktur skala besar," ujarnya.

Selain itu, PII juga menghimbau manajemen perusahaan pelaksana proyek infrastruktur untuk memastikan fungsi kerja maupun keandalan alat bantu kerja senantiasa terjaga dengan baik, seperti peralatan berat, perlengkapan penerangan di area kerja sesuai standar kerja, selalu terjaga dalam musim penghujan, alat-alat dioperasikan oleh operator dan para asisten yang kompeten.


"Manajemen harus selalu memperhatikan dengan cermat aspek kompetensi, fisik, dan mental dari setiap tenaga kerja dan tim proyek yang terlibat di dalam pekerjaan heavy lifting and erection, " kata Heru.

Heru pun menekankan tentang pentingnya keberadaan tenaga ahli keselamatan (Safety Engineer) yang kompeten dalam setiap pekerjaan konstruksi.

"Kehadiran safety engineer itu vital, apalagi mereka yang telah mengantungi standar kompetensi, untuk tenaga professional seperti itu manajemen perusahaan juga harus siap memberikan billing rate yang memadai. Safety engineer bukan insinyur kelas dua " tandas Heru. (bir)