press enter to search

Senin, 01/06/2020 18:48 WIB

Genjot Logistik Dalam Program Jembatan Udara, SCI: Manfaatkan Pesawat Kargo TNI AU

Redaksi | Rabu, 07/03/2018 18:25 WIB
Genjot Logistik Dalam Program Jembatan Udara, SCI: Manfaatkan Pesawat Kargo TNI AU

JAKARTA (aksi.id) - Sistem logistik berperan penting untuk peningkatan daya saing dan kesejahteraan, baik secara nasional maupun wilayah. Namun sistem logistik yang efisien terkendala masalah konektivitas di beberapa wilayah, termasuk Papua.

"Pendistribusian yang terkendala kondisi geografis dan topografis berdampak terhadap tingkat ketersediaan dan disparitas harga barang kebutuhan pokok dan barang penting, serta bahan bakar
minyak (BBM).," ungkap Setijadii, Chairman Supply Chain Indonesia, kepada Aksi.id dan BeritaTrana.com, Rabu (7/3/2018).

Jenis barang kebutuhan pokok terdiri dari hasil pertanian (beras, kedelai bahan baku tahu dan tempe, cabe, bawang merah), hasil industri (gula, minyak goreng, tepung terigu), dan barang kebutuhan pokok hasil peternakan dan perikanan (daging sapi,
daging ayam ras, telur ayam ras, ikan segar yaitu bandeng, kembung dan tongkol/tuna/cakalang).

Jenis barang penting terdiri dari benih (benih padi, jagung, dan kedelai), pupuk, gas elpiji 3 (tiga) kilogram, triplek, semen, besi baja konstruksi, dan
baja ringan.

Dia mengemukakan SCI mengapresiasi upaya pemerintah dalam meningkatkan ketersediaan dan menurunkan disparitas harga terutama di Papua dengan Program Tol Laut dan Jembatan Udara.

Kombinasi kedua program itu diharapkan menurunkan
permasalahan tersebut, termasuk di wilayah-wilayah pedalaman karena banyak wilayah terpencil yang masih sulit dijangkau dengan transportasi darat atau sungai.

Masalah ketersediaan dan disparitas ini terjadi terutama bukan di wilayah pesisir yang dekat dengan pelabuhan, namun di pedalaman.

Program Jembatan Udara pada tahun 2017 dilakukan dengan angkutan udara perintis  kargo khusus yang melayani penerbangan dari ibu kota kabupaten ke wilayah distrik atau cakupan.

Selain itu, dilakukan subsidi angkutan udara kargo yang merupakan angkutan udara khusus kargo dengan menggunakan pesawat berbadan besar sekelas Boeing 737 Freighter dan melayani penerbangan dari ibu kota kabupaten ke ibukota kabupaten lainnya.  

Pemilihan jenis pesawat tersebut terutama memperhatikan ketersediaan dan kondisi lapangan atau tempat pendaratan pesawat terbang.

Pertimbangan penting lainnya  adalah harga beli, kapasitas angkut, jarak jelajah, dan biaya operasional. Selain itu, masalah perawatan dan ketersediaan suku cadang pesawat juga harus dipertimbangkan.

Pemilihan jenis pesawat dapat mempertimbangkan tiga jenis pilihan pesawat angkut berat TNI AU, seperti yang diulas di www.indomil.com, yaitu Il-476 Ilyushin, A400M-Atlas, dan C130J-30 Hercules.

Menurut situs tersebut, pesawat Il-476-Ilyushin berdaya angkut 60 ton dengan jarak jelajah 5.000 km, A400M-Atlas berdaya angkut 37 ton dengan jarak jelajah 4.500 km,dan C-130J-30 Hercules berdaya angkut 18 ton dengan jarak jelajah 5.250 km.

Untuk wilayah terpencil yang tidak tersedia lapangan terbang/pendaratan, bisa  digunakan helikopter angkut berat dengan kapasitas angkut dan ruang kargo sekelas Hercules C-130.

"Karena progrram jembatan udara ini.mendesak dan kalau beli pesawat itu pasti harganya sangat mahal, maka patut dipertimbangkan penggunaan pesawat TNI AU. Lebih efisien," tuturnya. (awe).