press enter to search

Sabtu, 15/12/2018 16:33 WIB

Kepribadian Sangat Terkait dengan Kesehatan Mental dan Fisik Masa Depan

Redaksi | Rabu, 07/03/2018 20:23 WIB
Kepribadian Sangat Terkait dengan Kesehatan Mental dan Fisik Masa Depan

LONDON (aksi.id) - Kita biasanya memikirkan kepribadian dalam hal perbedaan yang bisa kita lihat - Sarah murah senyum dan cerewet, Johan sering merepotkan, sementara Rudi rapi dan teratur. Perbedaan ini sangat menarik, tapi jika kita hanya berfokus pada perilaku yang dapat diamati, tidak banyak yang kita tahu tentang akar kepribadian.

Melihat ke dalam tubuh kita memberi petunjuk lebih besar. Dan setetes temuan terbaru, baru-baru ini berubah menjadi arus yang deras, karena penelitian mengungkapkan bagaimana kepribadian terkait dengan banyak aspek biologi kita, dari hormon dan sistem kekebalan tubuh kita, hingga mikroba di usus kita.

Ini adalah penemuan penting karena kepribadian - terutama sifat hati nurani dan neurotisme - sangat terkait dengan kesehatan mental dan fisik masa depan dan umur panjang kita. Mengungkap dasar fisiologis kepribadian bisa membantu menjelaskan musababnya.

Sejumlah tokoh besar psikologi kepribadian bertanya-tanya tentang hal ini. Pada tahun 1961, psikolog AS Gordon Allport mengatakan bahwa dia memiliki keyakinan bahwa "suatu saat di masa depan, fakta-fakta yang terbukti benar mengenai kepribadian akan ditemukan saling terkait dengan fakta-fakta biologi manusia yang terbukti benar," namun dia mengakui bahwa masih banyak yang harus dibuktikan oleh biologi.

Kemudian pada dasawarsa yang sama, psikolog Inggris kelahiran Jerman Hans Eysenck melangkah lebih jauh, menerbitkan Biological Basis of Personality - sebuah peta sementara, begitu dia sebutkan, untuk mendasarkan psikologi dalam fisiologi.

Pada tahun 1987, dia merenungkan bahwa penelitiannya sendiri dengan subjek anak kembar menunjukkan bahwa kepribadian memiliki basis genetik dan bahwa, "jika memang demikian, pastilah itu harus tercermin dalam struktur fisiologis tertentu, sekresi biokimia, dan ciri biologis organisme lainnya ... ".

Eysenck dan yang lainnya percaya bahwa kepribadian kita sebagian besar berasal dari rangsangan di otak dan gagasan-gagasannya berpusat pada perbedaan antara introver dan ekstrover. Mereka pasti tercengang dan senang atas pemahaman terkini kita tentang bagaimana kepribadian begitu menggelitik perhatian kita.

Contohnya hormon kortisol, yang dilepaskan saat kita mengalami stres. Penelitian awal yang menghubungkan kortisol dan kepribadian menghasilkan hasil yang tidak konsisten. Tapi penelitian ini mengandalkan penyeka air liur sesekali, yang tidak ideal karena kadar kortisol berfluktuasi begitu banyak sepanjang satu hari, apalagi selama beberapa minggu dan bulan.

Namun, sebuah penelitian yang diterbitkan akhir 2017 mengatasi masalah ini dengan menganalisis kadar kortisol pada rambut lebih dari 2.000 peserta, yang juga menyelesaikan kuesioner kepribadian. Para peneliti memotong 3cm rambut dari masing-masing relawan, yang memberikan ukuran kortisol yang telah terakumulasi selama tiga bulan terakhir.

penampilanHak atas foto GETTY IMAGES
Kita biasanya berpikir kepribadian berkaitan dengan penampilan

Semakin tinggi skor yang dimiliki peserta terhadap sifat kesadaran (yang dikaitkan dengan disiplin diri, ketertiban dan ambisi), semakin rendah kadar kortisol pada rambut mereka. Yang juga penting, para periset juga mencatat seberapa sehat peserta, bagaimana makanannya, olah raga dan asupan alkoholnya.

Kesadaran berkorelasi dengan nilai yang lebih sehat pada semua hal ini, yang memang masuk akal, namun yang terpenting kaitan antara kortisol rambut dan kesadaran tetap ada, bahkan setelah memperhitungkan perbedaan dalam perilaku terkait kesehatan ini.

Oleh karena itu, studi ini memberikan bukti awal bahwa orang yang sangat teliti juga cenderung tidak stres. Artinya, mereka tidak hanya memiliki tingkat kortisol yang lebih rendah karena mereka menjalani kehidupan yang lebih sehat, tetapi juga karena pada tingkat fisiologis dasar mereka kurang peka terhadap stres, yang mungkin memberi kontribusi pada kehidupan mereka yang lebih panjang, hidup lebih sehat daripada rata-rata orang lain.

Ada ciri kepribadian lain yang sangat terkait dengan kesehatan: neurotisme. Orang yang memiliki nilai tinggi pada sifat ini rentan terhadap kemarahan, permusuhan, rendahnya mood dan kekhawatiran. Mereka juga lebih rentan terhadap risiko buruknya kesehatan fisik .

Temuan baru menunjukkan bagaimana hal ini dapat tercermin pada tingkat yang sangat dalam di dalam tubuh mereka, di mikrobakteria yang hidup di usus mereka.

Dalam studi lain yang dipublikasikan pada 2017, peneliti menganalisis DNA dari 672 sampel tinja dari relawan yang juga telah menyelesaikan kuesioner kepribadian. Bahkan setelah mengendalikan perbedaan dalam diet, para peneliti menemukan hubungan yang kecil namun signifikan antara skor yang lebih tinggi pada neurotisme dan tingkat Gammaproteobacteria, yang mencakup banyak patogen.

Kita sering mendengar tentang mikroba usus "baik" atau "ramah" dan mikroba "buruk" untuk kesehatan fisik dan mental kita. Gammaproteobacteria termasuk bakteri yang berpotensi berbahaya yang cenderung sesuai dengan kategori yang terakhir. Level yang meningkat juga bisa menjadi tanda peradangan kronis (peradangan akut membantu tubuh mengatasi luka dan infeksi, namun peradangan kronis berbahaya).

Mikroba yang baik, sebaliknya, dapat berkontribusi pada kesehatan dan penting untuk perkembangan otak . Dalam penelitian ini, kesadaran juga terkait dengan partisipan microbiome - kurang teliti cenderung memiliki tingkat bakteri "ramah" Lachnospiraceae yang lebih rendah, yang dapat membantu mencegah peradangan kronis dan menjamin pemeliharaan berat badan yang sehat.

kepribadianHak atas fotoGl GETTY IMAGES
Hormon kortisol yang keluar tiap kali kita sress bisa diukur dari rambut kita

Kepribadian dan mikrobiome terkait sehingga bisa membantu menjelaskan mengapa orang dengan kepribadian yang lebih neurotik dan kurang teliti lebih rentan terhadap penyakit dibanding yang lain.

Gambarannya tetap rumit, bagaimanapun, dan studi baru ini hanya bersifat pendahuluan. Kita belum bisa mengidentifikasi dengan jelas apa yang terjadi lebih dulu - apakah kepribadian mempengaruhi mikrobakteria di usus, atau sebaliknya?

Namun, kita tahu bahwa keduanya terkait sejak dini dalam kehidupan: sebuah studi tahun 2015 menemukan bahwa berbagai karakteristik mikrobakteria usus berkorelasi dengan temperamen pada balita yang berusia hanya 18-27 bulan.

Misalnya, di antara anak laki-laki dan perempuan, mereka yang dinilai lebih bahagia dan lebih aktif oleh ibu mereka, yang merupakan tanda ekstraversi balita, juga cenderung memiliki bakteri usus yang lebih beragam, yang baik untuk kesehatan, dan ini tidak sepenuhnya karena perbedaan diet mereka.

Penanda lain dari peradangan kronis di dalam tubuh juga berhubungan dengan kepribadian. Sebuah studi tahun 2014 terhadap lebih dari 26.000 orang menemukan bahwa individu yang mendapat nilai tinggi untuk kesadaran juga menghasilkan protein tingkat rendah yang dikeluarkan oleh sistem kekebalan tubuh untuk melawan penyakit, termasuk protein C-reaktif dan interleukin-6, yang diukur dengan sampel darah.

Keterbukaan yang lebih tinggi (terkait dengan kemauan untuk mencoba hal-hal baru dan peka secara estetik) juga berkorelasi dengan protein C-reaktif yang lebih rendah. Para periset percaya bahwa keterkaitan terakhir ini mungkin karena individu yang berpikiran terbuka cenderung menjalani gaya hidup yang lebih aktif dan bervariasi secara intelektual, yang pada gilirannya membantu mengurangi peradangan sistematis mereka.

kepribadianHak atas foto GETTY IMAGES
Mikroba yang baik sangat penting untuk perkembangan otak

Tentu saja, hanya sedikit dari kita yang menghabiskan banyak waktu untuk mengkhawatirkan tingkat protein mikroba atau C-reaktif kita. Namun, aspek tubuh kita yang jauh lebih kita kenal, termasuk tekanan darah dan detak jantung kita, juga terkait dengan kepribadian.

Misalnya, sebuah penelitian yang diterbitkan pada 2017 terhadap 5.000 orang berusia 50 tahun di Inggris, menemukan bahwa mereka yang memiliki hipertensi lebih mungkin untuk mendapat nilai tinggi pada sifat neurotik dan rendah kesadaran. Ini menyoroti jalur lain yang dengannya ciri-ciri ini dapat mempengaruhi kesehatan fisik.

Sementara meski detak jantung rendah biasanya dianggap sebagai tanda kesehatan fisik yang baik, ketika menyangkut kepribadian, implikasinya lebih buruk. Beberapa penelitian telah menemukan bahwa denyut jantung yang lebih rendah berkorelasi dengan skor psikopati yang lebih tinggi.

Orang yang cocok dengan deskripsi ini menunjukkan daya pesona, tiada rasa takut dan impulsif. Ini tidak terlalu mengejutkan mengingat penelitian telah menyebut keterkaitan denyut jantung rendah dengan perilaku agresif dan jahat.

Dua penjelasan utama adalah bahwa detak jantung rendah adalah tanda tak kenal takut dan bahwa hal itu dapat mencerminkan keadaan yang tidak menyenangkan karena "sulit terangsang", mendorong sejumlah psikopat untuk mencari bantuan (agar `terangsang`) melalui kekerasan dan konflik. Seperti sebelumnya, diperlukan lebih banyak penelitian untuk menguji gagasan ini.

Jelas kepribadian kita sangat terkait dengan susunan fisik tubuh. Di masa depan yang tidak terlalu jauh, dimungkinkan untuk mengukur kepribadian dengan cara yang sama sekali berbeda. Alih-alih menggunakan kuesioner dan pengamatan perilaku, kita nanti mungkin bisa menggunakan tes darah dan monitor denyut jantung, untuk menilai protein, hormon, mikrobakteria dan denyut nadi di balik permukaan kulit seseorang.

Oleh karena itu kita mungkin segera menyaksikan munculnya biologi kepribadian yang menyusul psikologi, seperti yang diharapkan oleh Gordon Allport selama beberapa dekade yang lalu.

Keyword Kepribadian

Artikel Terkait :

-