press enter to search

Sabtu, 22/09/2018 19:40 WIB

Malaysia Minta Bantuan Interpol Cari Pemilik Kapal Pesiar Equanimity Ditahan Polri di Bali

Redaksi | Kamis, 08/03/2018 21:04 WIB
Malaysia Minta Bantuan Interpol Cari Pemilik Kapal Pesiar Equanimity Ditahan Polri di Bali Low Taek Jho

KUALA LUMPUR (aksi.id) - Pengusaha yang diduga terlibat skandal keuangan miliaran dolar di badan investasi negara Malaysia, 1MDB, Low Taek Jho, tak diketahui keberadaanyam pemerintah Malaysia telah meminta bantuan Interpol untuk mencari pemilik kapal Equanimity, yang ditahan Polri di Bali tersebut.

"Kami yakin Interpol akan bertindak secara profesional, tapi sejauh ini polisi belum menerima informasi tentang keberadaannya," kata Ahmad Zahid Hamidi, wakil perdana menteri Malaysia di parlemen, hari Senin (23/10).

"Kami sudah meminta Interpol untuk menemukannya," tambah Hamidi.

Juru bicara Low sejauh ini belum mengeluarkan pernyataan.

Low sendiri belum dikenai dakwaan, namun aparat penegak hukum di Amerika Serikat berupaya menyita aset senilai US$1,7 miliar atau sekitar Rp23 triliun yang mereka katakan bersumber dari penyalahgunaan dana 1MDB.

Berdasarkan dokumen gugatan perdata di Amerika, aset tersebut antara lain berupa pesawat jet pribadi, hotel dan rumah di New York, yang diduga dibeli oleh Low.

Low dituduh menggunakan dana 1MDB untuk membeli lukisan Picasso senilai US$3,2 juta yang dihadiahkan kepada aktor Hollywood Leonardo DiCaprio.

Ia juga diduga memberi perhiasan dengan nilai total US$9 juta untuk model Australia, Miranda Kerr. Baik DiCaprio maupun Kerr telah mengembalikan hadiah tersebut kepada pihak berwenang dan berjanji bekerja sama dengan penyelidik.

Aparat penegak hukum di Amerika mengatakan mereka berupaya menyelidiki pelanggaran pidana yang terkait dengan transaksi 1MDB.

1MDB didirikan oleh Perdana Menteri Najib Razak dan saat ini menghadapi penyelidikan pencucian uang di setidaknya enam negara, termasuk Amerika, Swiss, dan Singapura.

Dugaan penyalahgunaan dana 1MDB oleh sejumlah pejabat mencapai US$4,5 miliar, menurut gugatan di AS.

Skandal ini menyeret nama PM Razak namun dalam berbagai kesempatan ia menegaskan tidak bersalah.

KAPAL SIAP DISERAHKAN

Sementara itu, aparat penegak hukum di Indonesia bersiap menyerahkan kapal pesiar mewah Equanimity yang disita di Bali bulan lalu ke aparat penegak hukum Amerika Serikat.

Pajabat di Bareskrim Polri, Kombes Polisi Daniel Silitonga, mengungkapkan Polri dan Biro Penyeledikian Federal AS (FBI) tengah menyiapkan dokumen yang diperlukan untuk serah terima kapal berbendera Kepulauan Cayman tersebut.

"Proses (serah terima kapal) sedang dilakukan," kata Daniel Silitonga kepada kantor berita AFP, hari Kamis (08/03).

Pejabat polisi lain, Agung Setya, kepada kantor berita Reuters mengatakan bahwa pihaknya juga sudah meminta keterangan kapten dan awak kapal tapi `tidak ditemukan kaitan mereka dengan kasus dugaan penggelapan dana atau pencucian uang`.

Kapal pesiar Equanimity disita pada Februari atas permintaan aparat penegak hukum Amerika karena diduga `dibeli dari dana yang diperoleh secara tidak sah` dari badan investasi pemerintah Malaysia, 1MDB.

FBI dan Kementerian Kehakiman AS saat ini tengah menangani kasus dugaan penggelapan dana atau korupsi senilai US$4,5 miliar atau sekitar Rp62,1 triliun di 1MDB, lembaga yang dibentuk oleh Perdana Menteri Najib Razak.

Aparat penegak hukum AS ingin mendapatkan kembali aset senilai US$1,7 miliar (Rp23,4 triliun) yang diduga digelapkan dari 1MDB, termasuk di antaranya kapal pesiar mewah Equanimity, yang ditaksir bernilai setidaknya US$250 juta atau Rp3,4 triliun.