press enter to search

Kamis, 19/07/2018 08:56 WIB

Go Digital Pariwisata Mencuat dalam Diskusi Perkembangan TI

Redaksi | Selasa, 13/03/2018 08:22 WIB
Go Digital Pariwisata Mencuat dalam Diskusi Perkembangan TI Menpar di Kantor Watimpres (foto: ist)

JAKARTA (aksi.id) - Go digital pariwisata mencuat dalam Diskusi Perkembangan Teknologi Informasi (TI) yang digelar di Jakarta, Senin (12/3/2018).

Di hadapan Dewan Pertimbangan Presiden (Watimpres) Menteri Pariwisata Arief Yahya memaparkan Wonderful Indonesia Go Digital dengan lugas dan menarik.

Diskusi tersebut diadakan untuk
Mendapatkan informasi yang berkaitan dengan perkembangan teknologi digital terbaru yang ada di Indonesia dari alternatif kebijakan yang harus diambil untuk mengantisipasi dampak dan tantangan secara keseluruhan termasuk di sektor perekonomian Indonesia.

"Kehadiran dunia digital menentukan deregulasi agar pemerintah menyesuaikan perkembangan zaman," jelas Menpar.

Seiring dengan perubahan konsumen yang makin digital dan hyper-connected_ kini muncul tren sharing economy di sektor pariwisata. Model bisnis berbagi ini merupakan cara baru yang dilakukan oleh generasi baru Milenial untuk melakukan bisnis dengan cara yang lebih efisien yaitu saling berbagi dalam memanfaatkan aset atau resources.

“Jika dahulu dalam pendekatan owning economy harus menguasai; membeli aset, memerlukan capital expenditure, dan banyak idle capacity, sekarang ini dengan sharing economy tanpa harus melakukan hal tersebut akan lebih banyak memanfaatkan semaksimal mungkin idle capacity atau lebih super-efisien,” kata Menpar.

Dengan menerapkan sharing economy kini bermunculan perusahaan-perusahaan digital yang mampu secara revolusioner mengubah lanskap industri pariwisata. Misalnya, perusahaan AirBnB yang sama sekali tidak memiliki hotel kini bisa menjadi perusahaan pemesanan kamar terbesar di dunia, demikian halnya perusahaan Uber yang tidak memiliki armada taksi bisa menjadi perusahaan pemesanan taksi terbesar di dunia. AirBnB yang didirikan tahun 2007 bermula dari gagasan menyewakan kamar yang kosong, kata Arief Yahya, kini valuasi perusahaan ini sebesar US$ 1.3 miliar di tahun 2012 dengan 2 juta transaksi kemudian meningkat menjadi US$ 30 miliar di tahun 2016 dengan lebih dari 36 juta transaksi dan angka fantastis ini melebihi capaian jaringan hotel konvensional seperti Hilton atau Hyatt.

Begitu pula Grab dan Gojek telah memiliki kapitalisasi pasar lebih besar yaitu masing-masing Rp20 triliun dan Rp38 triliun mengalahkan Blue Bird dan Garuda Indonesia yang memiliki kapitalisasi pasar masing-masing Rp9,8 triliun dan Rp12,3 triliun. Hal ini juga terjadi pada online travel agent seperti Traveloka bisa bernilai sekitar Rp15 Triliun mengalah perusahaan travel agent besar di Indonesia yang memiliki kapitalisasi kurang dari Rp1 triliun.

Melihat tren dunia tersebut, menurut Arief Yahya, maka jelas industri pariwisata nasional harus mengambil peluang dari munculnya sharing economy untuk menyatukan dan mengkolaborasikan seluruh elemen Pentaheliks (akademisi, pelaku bisnis, komunitas, pemerintah, dan media ) dalam payung Indonesia Incorporated.

“Untuk itulah Kemenpar sejak tahun lalu berinisiatif mengembangkan Indonesia Travel Exchange (ITX) sebagai platform online travel agent (OTA) B to B yang dapat digunakan oleh setiap pelaku industri atau komunitas untuk menempatkan inventori yang dimiliki dan kemudian dapat digunakan untuk menawarkan paket-paket wisata kepada para travellers di seluruh dunia,” pungkas dia. (omy)

Keyword

Artikel Terkait :

-