press enter to search

Sabtu, 21/07/2018 01:26 WIB

Atas Pemecatan IDI, KSAD Mulyono Persilakan Terawan Membela Diri

Redaksi | Kamis, 05/04/2018 10:16 WIB
 Atas Pemecatan IDI, KSAD Mulyono Persilakan Terawan Membela Diri ayor Jenderal TNI Terawan (ketiga dari kiri) bersama Ketua Komisi I DPR Abdul Kharis Almasyhari (keempat dari kiri) di Rumah Sakit Pusat Angkatan Darat, Jakarta, Rabu, 4 April 2018. TEMPO/Hendartyo Hanggi

akarta - Metode Cuci Otak dokter Terawan menuai kontroversi di dunia kedokteran, Kepala Staf Tentara Nasional Indonesia Angkatan Darat Jenderal Mulyono mempersilakan Mayor Jenderal Terawan Agus Putranto Kepala Rumah Sakit Pusat Angkatan Darat Gatot Subroto (RSPAD), membela diri atas pemecatannya. Dokter Terawan dipecat Majelis Kehormatan Etik Kedokteran (MKEK) lantaran diduga melanggar etik dalam melakukan praktik pengobatan cuci otak.

"Ya, silakan saja," ujar Mulyono di Istana Kepresidenan, Jakarta, Rabu, 4 April 2018. Namun dia menyatakan izin membela diri untuk Terawan merupakan wewenang Kepala Pusat Kesehatan TNI AD.

Mulyono mengatakan dirinya mendukung Terawan. "Ya, sepanjang kita berjuang untuk kebaikan, ya, tidak apa-apa," katanya.

Menurut dia, Terawan patut dibela karena kinerjanya selama ini sudah bagus. Hal ini terbukti dari pernyataan pasien Terawan yang mengaku merasa nyaman dan sembuh setelah diobati dengan metode cuci otak.

"Sekarang saya tanya. Dokter melakukan pengobatan yang salah di mana? Kecuali yang diobati mati kabeh. Wong yang diobati merasa nyaman, enak, sembuh. Itu berarti kan ilmunya bener," ucap Mulyono.

Mulyono menuturkan Ikatan Dokter Indonesia (IDI) seharusnya tak serta merta menjatuhkan hukuman kepada Terawan. Kedua pihak dinilai perlu duduk bersama dan saling berkomunikasi.

Mulyono juga menyatakan tak ada komunikasi terkait dengan Terawan antara dirinya dan IDI. Tiba-tiba IDI mengirimkan undangan untuk menghadiri penjatuhan hukuman kepada Terawan. "Dokter Terawan itu kan institusi. IDI enak sekali menjatuhkan hukuman, aku disuruh hadir. Memangnya siapa?" tuturnya.

Ketua IDI Daeng Muhammad Faqih mengatakan pemberhentian Terawan berkaitan dengan pelanggaran etik. Kepada Tempo, dia enggan menjelaskan secara detail pelanggaran etik yang dilakukan dokter tersebut. Ia hanya mengatakan persoalan etik itu berkaitan dengan praktik pengobatan cuci otak yang dilakukan Terawan. (ny/sumber/Tempo.com)

Artikel Terkait :

-