press enter to search

Rabu, 25/04/2018 10:03 WIB

Ini Dia Eman Sulaeman Disabilitas yang Menjadi Kiper Tangguh & Ngetop Sedunia

| Jum'at, 06/04/2018 06:48 WIB

JAKARTA (aksi.id) - Ketika suatu hari Eman Sulaeman (30) memohon kepada orangtuanya untuk mengizinkannya bermain sepak bola, sang ayah dan ibu khawatir kalau putra mereka yang terlahir dengan kondisi kaki tak sempurna itu kelak akan dicemooh banyak orang.

 
Namun, Eman kini membuat banyak orang terpukau dengan kemampuannya sebagai kiper.
 
Kelihaiannya dalam menjaga gawang telah diakui banyak orang dari dalam hingga luar negeri, sekaligus mendobrak stigma tentang batas pencapaian bagi penyandang disabilitas atau difabel.
 
"Saya menangis selama berhari-hari, memohon mereka (orangtua saya) untuk membelikan saya sebuah bola," katanya kepada AFP di sela sebuah pertandingan yang ia jalani baru-baru ini di daerah Indramayu, Jawa Barat.
 
"Mereka mengalah dan pergi mencari bola plastik murah."
 
Tampak sejumlah penggemar Eman hadir menyaksikan sang idola bermain dalam pertandingan tersebut. 
 
Mereka mengambil foto dan bersorak ketika Eman dengan gesit melindungi gawangnya, bergeser cepat meski tubuhnya bertumpu dengan kekurangan pada kakinya.
 
Tidak mudah bagi Eman. Penggemar berat mantan kiper Manchester United Edwin Van Der Sar dan bintang Real Madrid Cristiano Ronaldo itu harus berlatih tanpa lelah untuk meraih pencapaiannya seperti saat ini.
 
"Saya menghabiskan waktu lama belajar berjalan seimbang sebelum saya bisa menendang bola," katanya.
 
Pada 2016, ia mendapat kesempatan besar untuk bergabung dengan tim Indonesia di ajang Homeless World Cup di Glasgow, Skotlandia.
 
Turnamen sepak bola tahunan ini bertujuan untuk meningkatkan kesadaran tentang tunawisma dan melibatkan para pemain mulai dari pecandu narkoba, pencari suaka, hingga penyandang disabilitas.
 
Dalam kompetisi itu, Eman dinobatkan sebagai kiper terbaik.
 
"Itu seperti khayalan. Pertama kalinya saya berada di luar negeri dan saya dinobatkan sebagai kiper terbaik," katanya.
 
"Kerumunan orang dan bahkan semua anggota panitia penyelenggara bertepuk tangan untuk saya. Saya benar-benar tersentuh."
 
Media Inggris pada saat itu memuji Eman dan refleks gerak cepatnya yang mirip seekor kucing.
 
"Orang-orang cacat seperti saya dan orang miskin semua bisa bersatu tanpa dipandang rendah atau diberi stigma," ujarnya.
 
Eman yang kini menjalankan usaha toko reparasi elektronik, bertekad untuk menyebarkan cintanya pada olahraga dengan mendirikan komunitas pecinta futsal di kampung halamannya, Majalengka, dan melatih sepak bola di beberapa sekolah menengah pertama setempat.
 
Dia bermimpi untuk bisa bersaing dalam ajang besar seperti Paralympic Games suatu hari nanti, dan berharap bahwa dia akan terus menjadi inspirasi bagi atlet penyandang cacat lainnya.
 
"Kita harus tetap percaya diri dan termotivasi untuk memunculkan potensi dalam diri kita," katanya.
 
"Meskipun kami (difabel) memiliki keterbatasan, dalam keterbatasan itu ada hal-hal luar biasa," ujarnya lagi. 
  • Eman Sulaeman, ein beinamputierter Torhüter aus Indonesien (Getty Images/AFP/A. Berry)

    Pembentukan Karakter Sejak Dini

    Eman terlahir dengan keterbatasan fisik. Kedua kakinya tidak tumbuh sempurna. Dengan kondisi disabilitas tersebut, ia tidak jarang mendapat cibiran atau dianggap berbeda. Namun Eman tidak berkecil hati dan malah memilih sepakbola sebagai hobi yang ia geluti hingga dewasa. "Saya menangis berhari-hari meminta orangtua untuk membelikan bola," kisahnya seperti dilansir AFP.

  • Eman Sulaeman, ein beinamputierter Torhüter aus Indonesien (Getty Images/AFP/A. Berry)

    Disabilitas Bukan Halangan

    Berkat sepakbola Eman tumbuh bugar dan perkasa. Selama bermain ia terbiasa bertumpu pada kaki kanannya yang sepanjang betis dan tangan kiri untuk menyeimbangkan kaki kirinya yang hanya sepanjang paha. Selama bertahun-tahun ia berlatih sambil berkaca pada legenda kiper Belanda, Edwin van der Sar.

  • Eman Sulaeman, ein beinamputierter Torhüter aus Indonesien (Getty Images/AFP/A. Berry)

    Mewakili Merah Putih

    Hasilnya Eman terpilih mewakili Indonesia untuk berlaga di ajang Homeless World Cup 2016 silam. Prestasi itu masih dikenangnya hingga kini. "Nggak pernah terbayang, awalnya cuma saya pikir untuk menyalurkan hobi dan senang-senang sama teman saja, nggak kebayang bisa mewakili Indonesia di ajang dunia," ujarnya kepada Tribun.

  • Eman Sulaeman, ein beinamputierter Torhüter aus Indonesien (Getty Images/AFP/A. Berry)

    Bertabur Pujian Dunia

    Di sana ia mendulang pujian dari media-media internasional dan menyabet predikat penjaga gawang terbaik. Namun buat Eman penghargaan tersebut tidak banyak mengubah situasi hidupnya. Ia tetap mengurus klub futsal yang ia dirikan dan rajin berlatih agar bisa berlaga menjaga gawang. Klubnya itu adalah sumber kebahagiaan buat sang kiper.

  • Eman Sulaeman, ein beinamputierter Torhüter aus Indonesien (Getty Images/AFP/A. Berry)

    Sepakbola Lawan Diskriminasi

    Eman merasa bersyukur karena bisa mewujudkan mimpinya bermain bola. "Saya sangat mencintai sepakbola. Olahraga ini membantu saya melawan diskriminasi yang saya hadapi sejak kecil," ujarnya.

    (mira/sumber: kompas.com/liputan6.com/dw.com).