press enter to search

Selasa, 14/08/2018 20:58 WIB

Buronan Interpol, Kapal Andrey Dolgov dengan 30 ABK Ditangkap di Sabang

| Sabtu, 07/04/2018 18:50 WIB
Buronan Interpol, Kapal Andrey Dolgov dengan 30 ABK Ditangkap di Sabang Kapal Andrey Dolgov

SABANG (aksimid) -  Kapal Angkatan Laut (KAL) Simeulue di bawah koordinasi Pangkalan TNI AL (Lanal) Sabang, Provinsi Aceh, berhasil menangkap kapal buronan International Police (Interpol) di Zona Ekonomi Eksklusif (ZEE) Indonesia. Penangkapan kapal asing itu berlangsung Jumat siang kemarin, 6 April 2018.

Informasi yang dihimpun Antara dari sumber terpercaya di Sabang, Sabtu (7/4/2018) menyatakan, kapal Andrey Dolgov berbendera Togo (Afika) ditangkap saat melintasi ZEE teritorial Indonesia atau sebelah timur Pulau Rondo, Kota Sabang.

"Kapal Andrey Dolgov itu buruan Interpol dan ditangkap KAL Simeulue yang dipimpin oleh Letda Eko Herianto di koordinat Lintang 5.41-56.21, Bujur 93.54-51.93 atau di Samudera Hindia paling barat Aceh, teritorial Indonesia," kata sumber tadi.

Dia menjelaskan, kapal Andrey Dolgov dinakhodai seorang warga negara Rusia bernama Matveev Alesandr. Adapun jumlah keseluruhan anak buah kapal (ABK) yang ikut berlayar bersamanya adalah 30 orang. Sebanyak 20 di antaranya berstatus warga negara Indonesia (WNI), sedangkan 10 lainnya warga negara asing (WNA).

"Kapal Andrey Dolgov tidak memiliki dokumen apapun, ABK-nya juga tidak punya paspor," ujarnya.

Kapal Andrey Dolgov berbendera Togo yang memiliki kapasitas 378 tonase kotor/gross tonage (GT), terdaftar sebagai kapal tangkapan ikan dan diduga melakukan perdagangan manusia. Kapal itu diketahui pernah ditangkap oleh pihak otoritas Pemerintah Republik China (Taiwan) pada 2017.

Tak hanya itu, di awal 2018, Kapal Andrey Dolgov juga pernah ditangkap Pemerintah Mozambik di perairan Afrika. Kapal buruan Interpol tersebut sekarang telah disandarkan di Dermaga Lanal Sabang.

Secara terpisah, Menteri Kelautan dan Perikanan, Susi Pudjiastuti mengatakan 

bendera terakhir yang dipakai adalah bendera Togo, namun pemerintah Togo tidak mengakui identitas kapal tersebut, justru membawa Nahkoda ke pengadilan dengan tuduhan pemalsuan dokumen.

"Pemalsuan dokumen kebangsaan ini dilakukan untuk menghindari pengawasan dan penegakan hukum," ungkap Susi.

Dalam kapal terdapat total crew 20 orang yang terdiri dari 14 Warga Negara Indonesia (WNI) dan enam warga Rusia.

 

"WNI tersebut tidak memiliki dokumen perjalanan antar negara atau paspor sehingga terdeteksi merupakan korban perdagangan manusia," katanya.

Di dalam kapal ditemukan barang bukti sebanyak 600 alat tangkap gillnet dengan panjang 50 meter per buah, sehingga total 30 kilometer dan jenis ikan yang menjadi target penangkapan adalah Antartic Toothfish.

"Ikan itu seharusnya hanya bisa ditangkan oleh kapal berbendera Convention for The Conservation of Antartic Marine Living Resources (CCAMLR) dan harus memiliki izin penangkapan di kawasan tersebut," paparnya.

(via).