press enter to search

Jum'at, 21/09/2018 15:34 WIB

Ribuan Domba Australia Mati Saat Diekspor Pakai Kapal Ternak

| Senin, 09/04/2018 00:02 WIB
Ribuan Domba Australia Mati Saat Diekspor Pakai Kapal Ternak

CANBERRA (aksi.id) - Menteri Pertanian Federal Australia David Littleproud mengatakan adalah ‘tidak dapat dipercaya’ kalau masih terus berlangsung kematian domba-domba Australia dalam proses pengiriman dengan kapal ekspor ternak hidup.

Komentar ini diungkapkan setelah aktivis penyayang binatang memperlihatkan kepadanya rekaman dari sebuah kapal yang diakuinya "mengejutkan dan mengecewakan".

Insiden itu berkaitan dengan pengiriman hampir 64.000 domba yang dikirim dari Fremantle di Australia Barat ke Timur Tengah pada Agustus tahun lalu.

Sekitar 2.400 domba mati karena stress akibat udara panas, yang hampir dua kali lipat dari standar industri.

"Saya telah melihat rekaman itu dan saya benar-benar terkejut dan kecewa," kata David Lttleproud.

"Ini adalah mata pencaharian para petani Australia yang ada di kapal itu.

"Itu adalah kebanggaan dan kegembiraan mereka dan apa yang saya lihat sedang terjadi benar-benar ‘tidak dapat dipercaya’.”

Departemen Pertanian merilis sebuah laporan tentang insiden ini minggu lalu, tetapi David Littleproud mengatakan ia baru melihat cuplikan domba tersebut Rabu (4/4/2018) kemarin.

Dia memuji lembaga Animal Australia karena menunjukkan kepadanya rekaman gambar domba-domba yang mati tersebut.

"Hal seperti ini tidak bisa berlanjut," kata menteri.

"Jika Anda melakukan hal yang salah, Anda akan ditindak.

"Kami melihat domba yang pada dasarnya mati karena udara panas yang dibiarkan saja dan membusuk, yang tidak bisa mendapatkan air dan makanan, dan itu sangat mengganggu saya bahwa hal semacam ini telah terjadi."

Emanuel Exports adalah eksportir yang bertanggung jawab atas pengiriman domba-domba yang mati itu.

Eksportir akui kematian domba

Pengiriman ekspor ternak hidup dengan kapal itu memang menghadapi panas dan kelembaban yang ekstrim di Doha.

Pemilik perusahaan Emanuel Eksports, Graham Daws mengatakan insiden itu telah mendorong perusahaannya untuk mengubah protokol mereka.

"Insiden kematian yang tinggi seperti yang terjadi pada Agustus 2017 di Kapal Awassi Express memang sangat buruk," katanya.

"Emanuel Exports telah mengambil langkah-langkah selama lebih dari enam bulan terakhir untuk mengatasi masalah-masalah yang terungkap dari penyelidikan luas terhadap kami tentang perjalanan pengiriman ternak domba tersebut dan temuan dari penyelidikan yang dilakukan oleh Departemen Pertanian dan Sumber Daya Air Federal.

"Langkah-langkah tersebut termasuk mengurangi tingkat stok di musim panas hingga 15 persen di luar patokan Standar Australia untuk Ekspor Ternak (ASEL)."

Tahun lalu dalam kasus yang berbeda, investigasi oleh Departemen Pertanian Federal terhadap proses pengiriman ternak oleh Emanuel Exports menemukan bahwa tidak mungkin mengetahui berapa banyak domba yang mati di kapal ternak ke Timur Tengah pada Juli 2016.

Dalam insiden itu, Emanuel Exports mengirim lebih dari 69.000 domba dari Fremantle ke Timur Tengah dan penyelidikan ini dilakukan ketika terungkap lebih dari 2 persen domba-domba itu mati di kapal akibat stres karena udara panas.

Pasca insiden terbaru ini, departemen mempertimbangkan rencana revisi pengelolaan udara panas untuk domba yang diekspor ke Timur Tengah selama bulan-bulan terpanas tahun ini - yakni pada Juli dan Agustus.

Perubahan tersebut diharapkan akan dilaksanakan tahun ini.

Dewan Eksportir Ternak Hidup Australia mengatakan, pihaknya telah melihat rekaman itu dan menggambarkannya sebagai "sangat menyedihkan".

CEO lembaga itu, Simon Westaway mengatakan industri eksport ternak perlu melakukan lebih banyak upaya untuk mencegah kematian domba selama musim panas di belahan bumi utara.

"Bahkan jika situasinya dapat dijelaskan, kematian ini jelas tidak dapat diterima," katanya.

"Kami berkomitmen untuk melakukan reformasi lebih lanjut dan peningkatan yang masih terus berlangsung dalam hal kesejahteraan hewan dalam perdagangan domba hidup senilai $ 250 juta (setara Rp 2,7 triliun)." 

(lia/sumber: australiaplus.com).