press enter to search

Sabtu, 21/07/2018 01:27 WIB

Ini Dia Sosok Kho Ping Ho yang Disebut Rocky Gerung

| Kamis, 12/04/2018 18:02 WIB
Ini Dia Sosok Kho Ping Ho yang Disebut Rocky Gerung Ceruta sioat Bukek Siansu salah satu katya hebat dari Kho Ping Ho.

BEKASI (aksi.id)- Nama Kho Ping Ho kembali berkibar seiringan dengan pernyataan dosen filsafat Universitas Indonesia, Rocky Gerung, dalam acara ILC di TVOne, Selasa (11/4/2018 malam.

Saat itu, ia memberikan perumpamaan untuk 2019, dengan mengutip cerita silat (Cersil) karya Kho Ping Hoo, Bu Kek Siansu.

“Salah satu fiksi yang paling saya suka, dan Anda yang ada di sini saya kira masih mengkuti, fiksi yang dibuat Kho Ping Hoo,” ucap Rocky.

“Kho Ping Hoo itu gak pernah ke China. Tapi dia bisa mengambakan antropologi China, ilmu silat China itu demikian lengkap, demikian sempurna. Sehingga kita terbawa di dalam imajiniasi itu. Jadi fiksi itu menghidupkan,” kata Rocky Gerung.

Ia lantas mengambil petikan dalam cerita silat tersebut.

“Salah satu quotation di dalam Kho Ping Hoo, saya masih ingat sampai sekarang, jadi Anda lihat betapa fiksi itu sangat berbekas,” katanya.

“Dalam satu adegan silat, Kho Ping Hoo, menggambarkan begini. Tokohnya namanya Bu Kek Siansu. Masih ingat ya. Kho Ping Hoo, tulis begini. Bu Kek Siansu telah menyarungkan pedangnya sebelum tubuh bedebah itu jatuh ke bumi,” kata Rocky.

“Jadi saya bayangkan waktu SMP, secepat apa besutan pedangnya Bu Kek Siansu, sehingga dia sudah menyarungkan pedangya, baru tubuh bedebah itu jatuh ke bumi,” ujar Rocky.

Semua terdiam menyimak seksama.

Seolah mereka ingin mendengar cerita dan makna yang ingin disampaikan Rocky Gerung tentang kehebatan Bu Kek Siansu.

Rocky pun melanjutkan ceritanya.

“Lalu orang bertanya, siapa Bu Kek Siansu. Siapa tubuh bedebah itu. Tunggu 2019,” kata Rocky dan tawa pun meledak terbahak.

SIAPA KHO PING HO?

Asmaraman Sukowati atau Kho Ping Hoo (juga dieja Kho Ping Ho, Hanzi: 許平和; pinyin: Xǔ Pínghé, lahir di Sragen, Jawa Tengah, 17 Agustus 1926 adalah penulis cersil (cerita silat) yang sangat populer di Indonesia

Dia meninggal 22 Juli 1994 pada umur 67 tahun) adalah penulis cersil (cerita silat) yang sangat populer di Indonesia karena serangan jantung. Kho Ping Hoo adalah kakek dari mantan drummer Club 80`s sekaligus komedian Deddy Mahendra Desta.

Kho Ping Hoo dikenal luas karena kontribusinya bagi literatur fiksi silat Indonesia, khususnya yang bertemakan Tionghoa Indonesia yang tidak dapat diabaikan.

Selama 30 tahun ia telah menulis sedikitnya 120 judul cerita. Walaupun menulis cerita-cerita silat berlatar Tiongkok, penulis yang produktif ini tidak bisa membaca dan menulis dalam bahasa Mandarin. Ia banyak mendapat inspirasi dari film-film silat Hong Kong dan Taiwan.

Karena tidak bisa berbahasa Mandarin, Kho Ping Hoo tidak memiliki akses ke sumber-sumber sejarah negeri Tiongkok berbahasa Tionghoa, sehingga banyak fakta historis dan geografis Tiongkok dalam ceritanya tidak sesuai dengan kenyataan yang sebenarnya. Dari sebab itu, karya Kho Ping Hoo akan membingungkan bagi yang mengerti sastra atau sejarah Tiongkok yang sebenarnya.

Selain karya-karya yang termuat di artikel ini, masih terdapat karya-karya Asmaraman S. Kho Ping Hoo lain yang merupakan karangan-karangan lepas (satu judul/kisah tamat) baik berlatar belakang Tionghoa maupun Jawa seperti serial Pecut Sakti Bajrakirana dan serial Badai Laut Selatan yang berlatarbelakang masa Kesultanan Mataram Islam dan zaman Airlangga.

HANYA SEKALI KE CHINA

Kho Ping Hoo akhirnya tiba di Tanah Leluhur-nya China, melalui salah satu karyanya "Suling Emas" yang diterjemahkan dalam bahasa Mandarin. 

Peluncuran komik silat Kho Ping Hoo "Suling Emas" versi Mandarin dilaksanakan Duta Besar RI untuk China merangkap Mongolia Imron Cotan, di Beijing, Sabtu, 14 Desember 2013 .


"Meski seluruh karyanya berlatar belakang Negeri China, bahkan teknik silatnya pun Kung Fu, namun almarhum hanya sekali mengunjungi China yakni ke Provinsi Shandong tepatnya di area Gunung Thaysan," ungkap Imron.

Ia menambahkan,"sebelum datang ke Thaysan, Kho Ping Hoo sudah melukiskannya dalam salah satu komik karyanya. Bayangkan, dia sama sekali belum pernah mengenal dan menginjakkan kakinya ke China, seperti Thaysan, tapi China sangat mewarnai cerita komiknya, termasuk Kung Fu-nya".

Cerita silat "Suling Emas" karya Kho Ping Hoo, versi Mandarin akan diedarkan di China secara on-line. 

"Untuk tahap awal, kita cetak 200 buku "Suling Emas", agar masyarakat China, khususnya di Beijing dapat mengenal sosok Kho Ping Hoo," kata pengusaha Kasim Gazhali, selaku pemegang hak cipta dan penerbit.

Buku elektronik "Suling Emas" karya Kho Ping Hoo versi Mandarin akan beredar secara on-line di China mulai pertengahan Januari 2014 dengan harga 1,88 Yuan, katanya.

MENGESANKAN

Sementara itu Sekjen Pusat ASEAN-China Ma Mingqiang mengatakan imajinasi Kho Ping Hoo tentang China yang digambarkan dalam setiap karyanya, sangat mengesankan. 

"Dia tidak pernah menjejakkan kaki di China, namun bisa menggambarkan China begitu rinci dan sangat sesuai dengan kenyataannya, dalam karyanya," katanya.

Ma Mingqiang menambahkan,"ini menandakan kebudayaan bisa menjadi jembatan penguat hubungan dua bangsa Indonesia dan China yang telah berlangsung lama. Semoga masyarakat China dapat menikmati dan mengenal sosok Kho Ping Hoo dengan karyanya, yang penuh dengan cerita heroik dan mengandung nilai luhur Indonesia serta China,".

(awe/wikipedia/antaranews/tribunnews).