press enter to search

Jum'at, 21/09/2018 09:42 WIB

Setelah 18 tahun Disekap Majikan di Inggris, TKI Parinah Akhirnya Tiba di Rumahnya di Cilacap

| Jum'at, 13/04/2018 10:11 WIB
Setelah 18 tahun Disekap Majikan di Inggris, TKI Parinah Akhirnya Tiba di Rumahnya di Cilacap Parinah memeluk anak, cucu, serta menantunya satu per satu. Erat sekali. (Foto: tribunnews.com).

CILACAP (aksi.id) - Parinah, TKI, asal Cilacap yang “hilang” belasan tahun, akhirnya bisa pulang ke rumahnya, berkat surat kedua yang dikirimkannya saat si majikan tertidur. Gembira bisa pulang, tapi dia masih tetap menunggu gajinya yang selama ini belum dibayar.

Parinah berada di Inggris sejak tanggal 28 Mei 2001, setelah sebelumnya bekerja dengan majikan di Arab Saudi sejak tahun 1999.

PADA detik-detik setelah mobil itu berhenti, tak banyak lagi kata yang terucap. Hanya pelukan erat dan uraian air mata.

Semua yang berada di pelataran rumah di Desa Nusawungu, Cilacap, Jawa Tengah, itu pun larut dalam keharuan. Parinah, perempuan yang diantarkan mobil Daihatsu Xenia hitam tadi, memeluk anak, cucu, serta menantunya satu per satu. Erat sekali. Seolah tak mau sedetik pun melepaskan mereka dari pelukan.

’’Senang sekali rasanya bisa pulang,’’ kata Parinah sembari masih sesenggukan kepada wartawan setelah masuk ke dalam rumah milik Sunarti, salah seorang anaknya, itu.

Wajar kalau suasananya demikian mengharukan. Itu adalah kepulangan pertama Parinah ke kampung halaman setelah ’’menghilang’’ selama sekitar 14 tahun. Dari awalnya berangkat menjadi TKI (tenaga kerja Indonesia) ke Arab Saudi pada Desember 1999 sampai kemudian dipulangkan dari London, Inggris.

Tak heran kalau perempuan 50 tahun tersebut melewatkan begitu banyak momen penting dalam kehidupan keluarganya. Tiga anaknya, Sunarti, Parsin, dan Nurchamdan, yang ketika dia tinggal masih lajang atau bahkan remaja kini masing-masing telah punya anak.

Untuk kali pertama pula Parinah bertemu dengan ketiga cucunya, Oktavia, Angga Syahputra, dan Prima Syahputra. ’’Waktu akan nikah (pada 2005) dulu saya mencoba kirim surat. Tapi, tak ada jawaban,’’ kata Sunarti yang tinggal di Dusun Nusaori kepada Radarmas (Jawa Pos Group).

Sunarti berkirim surat setelah menerima surat dari sang ibu pada 5 Maret 2005. Itulah surat pertama yang diterima keluarga setelah perempuan kelahiran Banyumas pada 28 Januari 1968 tersebut dibawa si majikan pindah ke Inggris. Kepindahan yang tanpa sepengetahuan keluarga.

Surat pertama dari Parinah itu sudah langsung berisi permintaan agar dibantu pulang ke Indonesia. Lantaran masih kecil dan tak tahu prosedur pemulangan ibunya, Sunarti tidak melakukan upaya apa-apa.

Dia dan kedua adiknya, Parsin (kini berusia 33) dan Nur Hamdan (saat ini 29 tahun), saat itu hanya kebingungan. ’’Cuma ada petunjuk kartu nama majikan. Ada juga nomor telepon yang bisa dihubungi,’’ ungkapnya.

Ke alamat yang tertulis di kartu nama itulah empat kali keluarga membalas surat tersebut, termasuk surat dari Sunarti untuk memberi tahu dia akan menikah dengan Marito, selalu kembali.

Sesuai alamat di kartu nama, Parinah tinggal bersama majikan di Hove, kota kecil di sebelah Brighton. Keterangan dari kantor pos di sana yang tertera di surat-surat dari keluarga sama: nama Parinah yang dituju tidak ada.

Di desanya, Parinah dua kali menikah. Yang pertama dengan Nur Hadi. Setelah Nur meninggal, dia menikah lagi dengan Sikin yang kini tak diketahui keberadaannya.

Parinah berangkat ke Arab Saudi pada 16 Desember 1999 melalui PT Afrida Duta. Dan, mendapat majikan bernama Alaa M. Ali Abdallah yang berprofesi dokter spesialis kandungan.

Tak seperti saat di Inggris, selama bekerja di Saudi, komunikasi dengan keluarga berjalan lancar. Baik melalui surat maupun telepon.

Tapi, setelah surat pertama pada Maret 2005 tadi, semua gelap. Parinah seperti hilang ditelan bumi. Bisa jadi keluarga majikan membatasi akses dia.

Pada 2005 itu juga Parinah berkirim surat disertai bukti transfer ke rekening Bank BRI milik sang adik. Ketiga anaknya memang dirawat orang tuanya, dibantu sang adik. Sebab, Parinah sudah berpisah dari suami.

’’Pernah kirim 500 poundsterling. Tapi, kata pihak bank, uang itu tidak masuk,’’ tutur Sunarti dalam wawancara sebelumnya dengan Radarmas.

Sampai kemudian pada 28 Januari 2018 keluarga menerima surat kedua dari Parinah. Isinya sama: mohon bantuan untuk dipulangkan ke Indonesia.

’’Saya lari keluar ke kantor pos saat majikan masih tidur,’’ kenang Parinah. Menurut Parinah, saat itu sekitar pukul 9 atau 10. Kebetulan, letak kantor pos tak jauh dari rumah si majikan.

Begitu mendapat surat kedua itu, Sunarti dan adik-adiknya melapor ke Kantor Imigrasi Cilacap. Mereka lantas mendapat arahan ke mana dan bagaimana membantu pemulangan ibunya.

Usaha anak-anak Parinah tak sia-sia. Pada 5 Maret 2018, datang surat dari Dirjen Protokol dan Konsuler Kemenlu Indonesia. Surat pemberitahun itu menyatakan bahwa KBRI Inggris sudah menghubungi pengguna jasa Parinah. Namun, majikan Parinah tidak kooperatif.

Selanjutnya, KBRI London meminta bantuan aparat hukum setempat, dalam hal ini kepolisian di Brighton, Sussex, Inggris, agar pengguna jasa Parinah diproses hukum. Akhirnya, pada 5 April, Parinah berhasil dikeluarkan dari rumah majikannya.

Pada hari itu juga, majikan Parinah dan keluarganya ditangkap dengan tuduhan modern slavery atau perbudakan modern.

Parinah mengaku tak pernah kekurangan soal makan. Tapi, gajinya selama bekerja tidak pernah diberikan. Identitasnya juga disembunyikan. Tidak boleh pergi kalau tidak dengan anggota keluarga majikan.

Parinah tiba di Bandara Soekarno-Hatta, Jakarta, Rabu (11/4). Kamis pagi (12/4) dia sampai di Desa Nusawungu dengan diantar petugas Balai Pelayanan, Penempatan, dan Perlindungan Tenaga Kerja Indonesia (BP3TKI) Serang, Banten, serta Koordinator LTSA PTKLN Cilacap Ervi Kusumasari.

Parinah tentu masih menunggu hak-haknya selama bekerja bisa dia terima. Tapi, setidaknya semua pengalaman tak menyenangkan selama belasan tahun telah berlalu. Dia sudah kembali ke tengah anak-anak dan cucu-cucunya yang demikian lama ditinggalkannya.

Sementara dia akan tinggal di Dusun Nusaori. Serumah dengan Sunarti dan keluarganya. Sebab, rumah miliknya di Desa Petarangan, Banyumas, sudah dijual sekitar lima tahun lalu.

’’Saya belum tahu akan mengerjakan apa. Saya nikmati dulu waktu bersama anak-anak dan cucu-cucu,’’ kata Parinah.

Tapi, Sunarti sudah menegaskan, dirinya dan adik-adiknya tak akan mengizinkan sang ibu bekerja di luar negeri lagi sebagai TKI ’’Pokoknya, ibu tidak boleh pergi lagi. Ngurus cucu saja di rumah,’’ ujar Sunarti yang diiyakan sang adik, Parsin. 

MAJIKAN

Kepolisian Brighton, Sussex, Inggris, akan menyeret majikan yang mempekerjakan TKI Parinah ke pengadilan setempat dalam waktu dekat. Majikan TKI Parinah akan diseret dengan dugaan pelanggaran pasal pidana Modern Slavery Act atau perbudakan modern menurut hukum yang berlaku di Inggris.

"Kasus Parinah sudah ditangani oleh Kepolisian di Brighton, Sussex. Pihak kepolisian dalam waktu dekat akan menyeret majikan ke Pengadilan dengan tuduhan melakukan modern slavery," kata Fungsi Protokol dan Konsuler KBRI London Gulfan Afero lewat pesan singkat kepada Liputan6.com.

Gulfan melanjutkan, Parinah juga sudah membuat pernyataan kepada pihak Kepolisian Brighton bahwa dirinya belum mendapatkan gaji sebagaimana mestinya dari pihak majikan. Pernyataan itu dicantumkan dalam kesaksian Parinah yang akan diserahkan kepada Pengadilan untuk proses hukum lanjutan.

"Parinah akan menagih kompensasi berupa gaji yang belum dibayarkan dan hak-hak lain yang belum diperoleh dari pihak majikan melalui pengadilan setempat," papar Gulfan.

Saat ini, Gulfan Afero memastikan bahwa KBRI London akan terus melakukan pengawalan dan perbantuan hukum terhadap kasus yang menimpa TKI Parinah, meski perempuan asal Banyumas itu telah kembali ke Tanah Air.

Kasus tersebut masih dalam proses penanganan Kepolisian Brighton, sebelum dilimpahkan ke Kejaksaan dan Pengadilan setenpat dalam waktu dekat.

"KBRI London tetap menjalin komunikasi dan koordinasi intensif untuk memonitor penyelesaian kasus tersebut di Pengadilan. Saat ini pihak kepolisian masih melengkapi berkas perkara kasus tersebut sebelum dilimpahkan kepada penuntut umum," ujar pejabat KBRI London itu.

"Harapan kami, setidak-tidaknya Parinah harus mendapatkan gaji yang belum dibayar sesuai dengan standar di Inggris serta berbagai kompensasi lainnya. Semua itu menunggu keputusan dari pengadilan setempat.

Menurut kebijakan saat ini, upah minimum pekerja di Inggris adalah sekitar 7,85 pound sterling per jam atau sekitar Rp 153.171

"Kasus baru akan dilimpahkan ke pengadilan sekitar awal musim panas nanti di Inggris atau sekitar bulan Juli 2018," tambahnya.

Saat ini, KBRI London belum mengetahui motif dan alasan jelas mengapa pihak majikan melakukan perbuatan tersebut. KBRI London menduga telah terjadi unsur-unsur praktik perbudakan modern sesuai hukum setempat.

"Menurut dugaan kami, pihak majikan berupaya untuk menutupi kewajiban majikan membayar gaji sesuai dengan ketentuan Upah Minimum Regional di Inggris, pembayaran asuransi, serta pengaturan terkait jam kerja dan hak-hak lembur serta cuti Parinah," kata Gulfan Afero.

"Kami juga menilai bahwa pihak majikan berupaya mengekang Parinah dan menjauhkan dirinya dari pergaulan publik, tetangga, dan pihak keluarganya di Indonesia.

Alasan majikan melakukan itu, menurut penilaian Gulfan, agar praktek-praktek yang memenuhi unsur perbudakan modern terhadap Parinah itu tidak terendus oleh tetangga atau publik.

Pola Pikir Majikan yang Salah?
 
TKI asal Banyumas yang bernama Parinah di KBRI London. Parinah sempat hilang kontak dengan keluarga selama 18 tahun. Ia juga diduga menjadi korban perbudakan modern oleh majikannya di Inggris (sumber: Twitter KBRI London)
TKI asal Banyumas yang bernama Parinah di KBRI London. Parinah sempat hilang kontak dengan keluarga selama 18 tahun. Ia juga diduga menjadi korban perbudakan modern oleh majikannya di Inggris (sumber: Twitter KBRI London)

Sementara itu, Wahyu Susilo Direktur Eksekutif Migrant Care mengatakan, kasus yang menimpa TKI Parinah disebabkan oleh mindsetobjektivikasi yang tertanam dalam pola pikir majikan.

"Para TKI kita dianggap sebagai objek atau properti yang bisa dibawa majikan ke mana-mana, bahkan hingga kontrak kerjanya sudah habis," kata Wahyu.

Kasus tersebut juga memperlihatkan bahwa banyak tenaga kerja Indonesia yang terisolasi dan berkomunikasi dengan pihak keluarga di Tanah Air, apalagi, pemerintah RI.

Selain itu, ada faktor lain yang melatarbelakangi peristiwa semacam itu bisa terjadi. Menurutnya TKI Parinah termasuk WNI yang sudah menjadi TKI pada kala pemerintah RI belum memiliki mekanisme perlindungan yang responsif.

"Dulu, pemerintah RI juga kerap tidak  atau enggan merespons pengaduan-pengaduan TKI yang hilang kontak," jelasnya. 

Sebaliknya, Wahyu memuji pemerintahan sekarang ini yang notabene lebih pro-aktif dalam menangani pengaduan-pengaduan hilang kontak. 

Parinah, TKI korban dugaan perbudakan modern di Inggris. (dok. KBRI Inggris/Galoeh Widura)

Wahyu Susilo menyarankan bahwa ada sejumlah hal yang harus dilakukan oleh berbagai pihak agar kasus seperti TKI Parinah tidak terulang lagi.

Pertama, pihak keluarga TKI yang kehilangan kontak harus segera melapor ke otoritas RI terkait.

"Apalagi sekarang beberapa lembaga pemerintah sudah memiliki platform komprehensif seputar pelaporan TKI yang tertimpa musibah di luar negeri, seperti Kementerian Luar Negeri, BNP2TKI, dan Kementerian Tenaga Kerja RI," jelasnya.

Sedangkan, para TKI di luar negeri juga harus mawas diri terhadap status kontrak kerja masing-masing. TKI harus lebih proaktif terkait kontrak kerja masing-masing.

"Kalau ada kendala, segera laporkan ke perwakilan RI di negara setempat dan pihak keluarga di Tanah Air," imbuhnya.

Terakhir, Wahyu mengimbau agar perwakilan RI di negara asing juga harus pro-aktif melakukan outreach serta menerima dan menindaklanjuti laporan TKI yang tertimpa musibah.

(jpnn.com/lioutan6.com).

Keyword TKI Parinah