press enter to search

Sabtu, 21/04/2018 07:15 WIB

Kisah TKI Ilegal: Tidur di Antara Pohon Sawit & Menyusuri Pantai dengan Air Setinggi Leher

| Selasa, 17/04/2018 06:14 WIB
Kisah TKI Ilegal: Tidur di Antara Pohon Sawit & Menyusuri Pantai dengan Air Setinggi Leher Dian Adi Wahyudi (kanan), warga Asal Ponorogo, yang pernah dua kali bekerja di Malaysia.

BEKASI (aksi..id) - Naik turun dengan air setinggi leher di pantai, bersembunyi di lubang di perkebunan sawit dan naik kapal boat menerjang laut merupakan perjuangan keras tenaga kerja Indonesia (TKI) ketika bekerja secara ilegal di Malaysia.

 Adalah Dian Adi Wahyudi, yang pernah mengalami pengalaman pahit menjadi pekerja migran ilegal seperti itu. "Itu saya lakukan tahun 2006 sampai 2008. Dua tahun kerja di Malaysia," ungkap warga Bekasi asal.Ponorogo itu kepada Aksi.id, Senin (16/4/2018) malam.

Dia tertarik bekerja di luar negeri ketika sejumlah calo menawarkan pekerjaan itu di kampungnya di  Kecamatan Badegan, Kabuoaten Ponorogo, Jawa Timur. "Hasil jual beberapa kambing, saya setor uang ke calo itu," ujarnya.

Uang jutaan rupiah itu antara lain untuk tiket pesawat Surabaya-Batam dan transportasi plus konsumsi di perjalanan. "Naik bus dari Ponorogo ke Surabaya pakai duit sendiri," ujarnya.

Hanya dengan membawa tas berisi baju dan celana masing-masing tiga stel, berangkat lah Dian ke Surabaya. Tanpa menbawa paspor dan dokumen sebagai TKI.

"Memang nggak punya paspor sama surat permit. Namanya juga ilegal. Di sana (Bandara Juanda) sudah ada delapan orang lain yang ternyata seperti saya. Saya lalu naik pesawat ke Batam pada pagi hari," jelasnya.

Sesampai di Bandara Hang Nadim, Batam, sekitar pukul 13.00, mereka dijemput oleh seseorang. Dengan menggunakan mobil, mereka meningalkan bandara. Di tengah perjalanan sempat makan siang.

Perjalanan menggunakan mobil berakhir menjelang maghrib. Ternyata mereka dibawa ke Dumai dan diturunkan ke perkebunan kepala sawit. Masuk ke perkebunan di tengah kegelapan, jalan kaki sekitar 10 kilometer. 

Seseorang memandu mereka di perkebunan kelapa sawit. Tidak mamakai penerangan, namun orang itu sudah hafal betul lintasan yang harus dilalui.

Mereka tiba di satu tempat, masih di perkebunan sawit,  di dekat pantai. "Ternyata di sana banyak lubang. Saya dan yang lainnya disuruh masuk lubang. Ukuran kubangnya lumayan gede, bisa untuk 15 orang. Kami nggak boleh menyalakan hape. Juga nggak boleh merokok. Takut cahayanya terlihat sama petugas patroli," ungkapnya.

Di dalam lubang, mereka kadang melihat lampu sorot. Dari pemandu itu, mereka tahu bahwa itu merupakan lampu sorot dari kapal patroli, yang memang ditugaskan untuk mencegah lalu lintas TKI ilegal.

Di perkebunan sawit itu, mereka harus berhadapan dengan risiko kemungkinan munculnya binatang seperti ular dan babi. "Yang pasti nyamuknya banyak banget. Kayaknya gede-gede juga tuh nyamuk. Makanya waktu masih di Batam, kami dibekali obat gosok anti nyamuk. Kami juga dikasih sebotol air dan roti," ujar Dian.

Hari berganti. Sekitar pukul 01.00 dinihari, mereka diperintahkan ke luar dari lubang dan agar bersegera menuju pantai untuk baik perahu boat. "Wah ternyata, saya harus ke boat dengan melewati air laut setinggi leher. Tas terpaksa dipanggul di kepala biar nggak basah. Mana dingin banget," jelasnya sambil menambahkan saat itu pemandu tidak ikut ke boat.

Sembilan TKI ilegal itu  lalu naik ke perahu boat. Di tengah badan kedinginan karena basah kuyup, mereka juga harus menghadapi angin laut yang begitu kencang.

Sekitar 40 menit perjalanan, mereka tiba di bibir pantai Johor Bahru, Malaysia. "Kayak waktu berangkat, di sana juga kami harus turun di pinggir laut.  Bedanya  airnya cuma sekitar sepinggang," tutur Dian.

Begitu turun di pantai, mereka bersama seorang pemandu berlari cepat untuk masuk ke perkebunan kelapa sawit di tengah kegelapan. Dan pengalaman berulang, mereka kembali masuk lubang. Peraturan yang sama juga diberlakukan: Tidak boleh menyalakan hape dan merokok.

 "Nggak bisa tidur. Pakaian masih basah. Nggak sempet juga ganti baju. Saya pikir ganti bajunya nanti aja kalau udah sampe ke tempat kerja," ucapnya.

Jelang matahari muncul, mereka dijemput. oleh seseorang. Kembali harus berjalan beberapa kilometer untuk mencapai mobil. Sekitar setengah jam perjalanan, mereka sudah tiba di tempat kerja. "Namanya daerah Sengkuang. Kami diturunkan di proyek perumahan. Di sana kami kerja," tuturnya.

RAZIA

 Oleh seorang mandor proyek, mereka diberi pemahaman berbagai hal, termasuk untuk berlari secepat mungkin bila ada razia. "Saya bersama teman-teman yang baru datang, harus tidur di perkebunan kelapa sawit. Makanya mandor asal Madura itu ngasih tempat tidur gantung," ungkap Dian.

Mereka langsung bekerja sebagai buruh bangunan di proyek perumahan itu. Sorenya, setelah mandi, mereka pergi ke perkebunan sawit. Puluhan TKI ilegal memasang tempat tidur di antara pepohonan kelapa sawit.

"Kayak kepompong yang banyak bergelantungan. Kami tidur kayak tarzan. Waktu tidur kadang mesti bangun karena ada ratusan babi hutan lewat di bawa tempat saya tidur," tuturnya.

Dian mengemukakan sering kali ada razia terhadap pekerja ilegal. "Kalau ada razia, buru-buru kami lari ke tengah perkebunan sawit. Biasanya petugas razia nguber sampe ke dalem perkebunan. Petugas itu takut mati," cetusnya.

Lalu berapa dia dibayar untuk bekerja sebagai buruh kasar seperti itu? "Sehari 45 ringgit. Lumayan gede kalo tahun 2006. Uang segitu udah bersih. Makan dan minum gratis. Cuma rokok aja mesti beli," ujarnya. (Agus W).