press enter to search

Rabu, 23/05/2018 06:02 WIB

Menuju Sekolah, Guru SDN di Jombang Harus Jalan 1,5 Jam di Tengah Hutan dan Seberangi 3 Sungai

| Kamis, 03/05/2018 07:11 WIB
Menuju Sekolah, Guru SDN di Jombang Harus Jalan 1,5 Jam di Tengah Hutan dan Seberangi 3 Sungai MENANTANG MAUT: Salah satu sungai yang harus disebrangi para guru dan siswa. Sungai ini arusnya sangat deras, terutama saat musim penghujan. foto: rony suhartomo/ BANGSAONLINE

JOMBANG (aksi.id) - Guru dan murid  Sekolah Dasar Negeri (SDN) Pojok Klitih 3 Kecamatan Plandaan, para guru dan murid harus berjibaku dengan derasnya air sungai untuk bisa mencapai sekolah mereka.

Selain menempuh medan yang membahayakan, mereka masih diharuskan berjalan kaki selama kurang lebih 1,5 jam menyusuri hutan untuk bisa sampai di sekolah tempat mereka belajar mengajar.

Namun semangat para guru dan murid SDN Pojok Klitih 3 Plandaan memang patut diacungi jempol. Lokasi sekolah mereka yang ada di Dusun Nampu Desa Klitih Kecamatan Plandaan, jika di musim penghujan seperti saat ini bagaimana rumitnya jalur yang harus mereka tempuh setiap hari. Meski begitu, baik guru maupun murid tetap bersemangat dan tidak putus asa.

Salah satu guru yang melewati perjuangan itu, Laila Maulidia. Bagi warga Desa Pojok Klitih, Kecamatan Plandaan, Kabupaten Jombang, Jatim, perempuan 35 tahun ini memang tidak ubahnya seperti ibu rumah tangga lain. Setiap pagi, dia memasak atau mencuci untuk kebutuhan suami dan anak di rumah.

Namun, sehari-hari, Laila harus berjuang menjalankan profesinya. Laila mengajar di sebuah sekolah dasar (SD) terpencil di tengah hutan, yakni di SD Negeri Pojok Klitih 3 Kecamatan Plandaan, Jombang. Lokasinya yang terpencil sulit ditempuh.

Untuk mencapai sekolah tempatnya mengajar, Laila dan guru lain mesti melewati perjalanan yang sangat berat setiap hari. Tidak ada jalan yang layak di sana. Maka setelah menitipkan sepeda motor kepada warga, mereka harus berjalan kaki menembus hutan dengan medan jalan yang licin dan berbatu.

Tak hanya itu saja, Laila dan teman-temannya juga terbiasa menyeberangi tiga sungai sekaligus. Tak tanggung-tanggung, perjuangan berat untuk mengajar ini sudah mereka jalani selama belasan tahun. Jarak yang harus ditempuh mencapai 3,5 kilometer atau sekitar 1,5 jam perjalanan.

Setelah menempuh perjalanan yang sangat berat, rasa lelah mereka langsung terbayar begitu tiba di sekolah. Mereka disambut dengan senyum hangat anak didiknya di SDN Pojok Klitih 3 yang berjumlah 17 orang. Dalam satu kelas, jumlah muridnya ada yang dua orang, tiga, hingga lima orang.

Bagi Laila dan guru-guru lain, mengajar di SDN Pojok Klitih 3 sudah bukan lagi sekadar kewajiban, tapi juga sudah merupakan panggilan jiwa untuk mengabdi. Mereka merasa punya tugas mulia untuk menjaga kelangsungan pendidikan anak-anak di sekolah terpencil ini.

“Kita tahu kalau datang saja ke sekolah, betapa senangnya anak-anak itu. Kita berpikir ulang, trus kalau kita nggak datang, gimana dengan anak-anak. Anak-anak kan butuh pendidikan. Mungkin kalau di sini ada pilihan sekolah lain, anak-anak akan milih yang lain. Tapi, ini kan nggak ada. Jadi, kita nikmati saja. Dulu dapat SK juga sudah teken kontrak kita harus mau ditempatkan di mana saja,” papar Laila Maulidia.

Di Hari Pendidikan Nasional, Laila dan guru-guru SDN Pojok Klitih 3 menyimpan harapan kepada pemerintah agar segera membangun jalan dan jembatan yang layak di daerah-daerah terpencil di Jombang. Mereka bermimpi suatu saat menyeberangi jalan dan sungai dengan sepeda motor seperti rekan-rekan mereka di daerah lain.

Salah satu guru yang melewati perjuangan itu, Laila Maulidia. Bagi warga Desa Pojok Klitih, Kecamatan Plandaan, Kabupaten Jombang, Jatim, perempuan 35 tahun ini memang tidak ubahnya seperti ibu rumah tangga lain. Setiap pagi, dia memasak atau mencuci untuk kebutuhan suami dan anak di rumah.

Namun, sehari-hari, Laila harus berjuang menjalankan profesinya. Laila mengajar di sebuah sekolah dasar (SD) terpencil di tengah hutan, yakni di SD Negeri Pojok Klitih 3 Kecamatan Plandaan, Jombang. Lokasinya yang terpencil sulit ditempuh.

Untuk mencapai sekolah tempatnya mengajar, Laila dan guru lain mesti melewati perjalanan yang sangat berat setiap hari. Tidak ada jalan yang layak di sana. Maka setelah menitipkan sepeda motor kepada warga, mereka harus berjalan kaki menembus hutan dengan medan jalan yang licin dan berbatu.

Tak hanya itu saja, Laila dan teman-temannya juga terbiasa menyeberangi tiga sungai sekaligus. Tak tanggung-tanggung, perjuangan berat untuk mengajar ini sudah mereka jalani selama belasan tahun. Jarak yang harus ditempuh mencapai 3,5 kilometer atau sekitar 1,5 jam perjalanan.

Setelah menempuh perjalanan yang sangat berat, rasa lelah mereka langsung terbayar begitu tiba di sekolah. Mereka disambut dengan senyum hangat anak didiknya di SDN Pojok Klitih 3 yang berjumlah 17 orang. Dalam satu kelas, jumlah muridnya ada yang dua orang, tiga, hingga lima orang.

Bagi Laila dan guru-guru lain, mengajar di SDN Pojok Klitih 3 sudah bukan lagi sekadar kewajiban, tapi juga sudah merupakan panggilan jiwa untuk mengabdi. Mereka merasa punya tugas mulia untuk menjaga kelangsungan pendidikan anak-anak di sekolah terpencil ini.

“Kita tahu kalau datang saja ke sekolah, betapa senangnya anak-anak itu. Kita berpikir ulang, trus kalau kita nggak datang, gimana dengan anak-anak. Anak-anak kan butuh pendidikan. Mungkin kalau di sini ada pilihan sekolah lain, anak-anak akan milih yang lain. Tapi, ini kan nggak ada. Jadi, kita nikmati saja. Dulu dapat SK juga sudah teken kontrak kita harus mau ditempatkan di mana saja,” papar Laila Maulidia.

Di Hari Pendidikan Nasional, Laila dan guru-guru SDN Pojok Klitih 3 menyimpan harapan kepada pemerintah agar segera membangun jalan dan jembatan yang layak di daerah-daerah terpencil di Jombang. Mereka bermimpi suatu saat menyeberangi jalan dan sungai dengan sepeda motor seperti rekan-rekan mereka di daerah lain.

(via/sumber: inews.id).

 

Keyword Guru