press enter to search

Sabtu, 26/05/2018 22:56 WIB

Indonesia Kehilangan Enthus Susmono

| Selasa, 15/05/2018 08:50 WIB

BEKASI (aksi.id) - Kalau banyak orang non-Jawa menyenangi wayang kulit maka berterima kasih lah antara lain kepada Enthus Susmono.

Wong Ortega (orang Tegal) ini hadir di tengah publik. Lima kali mendampinginya saat pentas, sudah cukup memahami bahwa pria ini menawarkan kesenian wayang kepada semua kalangan.

Dia menerabas batas  pakem, dia mengusung wayang dengan pertalian kuat kondisi kekinian. Tak hanya memasuki persoalan-persoalan sosial tetapi jiga wilayah politik.

Bahasa Jawa ala pesisir diaduk dengan bahasa Indonesia dihadirkannya dalam dialog wayang.  Penggunaan multibahasa ini yang menjadi salah satu daya tarik bagi orang yang tak memahami bahasa Jawa. Bahkan dia mementaskan wayang golek di tengah pertunjukan.

Enthus juga tak ragu menampilkan diksi kritik dengan kalimat yang jelas dan tegas. Meledak-ledak namun tak jarang kocak pada posisi itu, dia menerjemahkan wayang yang tidak hanya pentas budaya dan edukasii, tetapi juga kanal  menumpahkan kontrol sosial.

Koreksi verbal juga diluncurkannya apabila ada nayaga yang memainkan irama gamelan kurang tepat mengikuti tembang atau suluk.

Saat `goro-goro,` Enthus juga rak ragu untuk menampilkan dialog dan tembang kocak Punakawan. Yang paling poupler adalah tembang `Udud Lagi.`

Selain dalang, Enthus juga berjuluk kiai. Dia selalu saja menyisipkan nilai-nilai Islam dalam dialog wayang. Bahkan di setiap pagelaran selalu diawali dengan gending shalawat kepada Nabi Muhammad SAW.

Paling anyar, pria ini menjadi Bupati Tegal dan menjadi calon Bupati untuk kedua kali. Maka lengkap sudah status Enthus, dari dalang, kiai hingga bupati.

Walau menjadi bupati, dia tidak meninggalkan habitatnya sebagai dalang plus kiai san sanrri. Dia tetap mengaji dan menyampaikan ceramah di forum pengajian.

PENGHARGAAN INTERNASIONAL

Karena aksi ngedalangnya iru, Enthus Susmono banjir penghargaan internasional. Dia undang pentas di banyak negara, termasuk di Eropa.

Bisa jadi Enthus tak miliki cita-cita kelak akan mendapatkan penghargaan seperti iru. Bisa jadi Enthus tak pernah menyangka banyak orang non-Jawa menyukai wayang karena pagelaran wayangnya.

Yang pasti Enthus tidak tahu bahwa Indonesia kehilangan sosoknya.

Met jalan, Pak Kiai. Semoga Engkau husnul khotimah. Allah Swt ampuni semua dosamu san merahmatimu di alam kubur, akhirat dan surga. Amin.

(Agus Wahyudin).

 

 

Keyword Enthus Susmono