press enter to search

Selasa, 21/08/2018 09:07 WIB

Defisit Neraca Perdagangan Jadi Isu Negatif di Tengah Gejolak Kurs Rupiah

| Selasa, 15/05/2018 13:28 WIB
Defisit Neraca Perdagangan Jadi Isu Negatif di Tengah Gejolak Kurs Rupiah Defisit neraca perdagangan yang merupakan terburuk sejak 2014 itu semakin menambah beban rupiah untuk menguat

JAKARTA (aksi.id) - Defisit neraca perdagangan April 2018 semakin memperpanjang daftar isu negatif yang dalam satu minggu terakhir menghampiri Indonesia. Pergerakan nilai tukar rupiah, bukan tidak mungkin semakin tertekan merespons sentimen ini.

"Defisit neraca perdagangan ini akan memperbesar defisit transaksi berjalan, dan menjadi isu negatif di tengah gejolak nilai tukar yang terjadi," kata Direktur RIset CORE Indonesia Piter Abdullah kepada CNBC Indonesia, Selasa (15/5/2018).

Sejauh ini, sambung Piter, pergerakan mata uang Garuda tak kuasa menahan gejolak eksternal yang berasal dari ekspektasi kenaikan suku bunga Fed Fund Rate. Selain itu dari sisi domestik, dipengaruhi oleh defisit transaksi berjalan kuartal I-2018 yang melebar, serta isu keamanan bom Surabaya.


Menurut Piter, defisit neraca perdagangan yang merupakan terburuk sejak 2014 itu semakin menambah beban rupiah untuk menguat. Apalagi, saat ini nilai tukar rupiah sudah kembali menembus level Rp 14.000/US$, lantaran belum ada sentimen positif yang mampu mendongkrak rupiah.

"Dengan neraca perdagangan yang defisit, CAD [Current Account Deficit] pasti akan membesar. Artinya, supply dolar di domestik akan semakin terbatas," jelasnya.

Piter menegaskan, persoalan yang terjadi di domestik ini perlu menjadi perhatian penuh pemerintah maupun Bank Indonesia (BI). Meningkatkan kepercayaan investor terhadap prospek perekonomian Indonesia menjadi solusi yang bisa dilakukan kedua penjaga ekonomi Indonesia itu.

"Ini menjadi tambahan tugas bagi pemerintah dan BI untuk menjaga kepercayaan investor. Karena defisit ini menambah isu negatif yang harus direspons BI dan pemerintah," tegasnya.