press enter to search

Selasa, 21/08/2018 09:07 WIB

Petugas Dishub Paksa Perempun Bercadar Turun dari Bus, Ketua Umum Kowani: Jangan Diskriminasi!

| Rabu, 16/05/2018 17:03 WIB
Petugas Dishub Paksa Perempun Bercadar Turun dari Bus, Ketua Umum Kowani: Jangan Diskriminasi! Giwo Rubianto

JAKARTA (aksi.id) - Ketua Umum Kongres Wanita Indonesia (Kowani) DR Ir. Giwo Rubianto, MPd,  meminta masyarakat untuk tidak mendiskriminasi perempuan bercadar setelah rentetan serangan aksi terorisme di Jawa Timur dalam beberapa hari terakhir.

"Masyarakat sebaiknya tidak takut dan melakukan diskriminasi terhadap perempuan bercadar," ujar Giwo di Jakarta, Rabu.

Pasalnya, menurut Giwo, pemakaian cadar oleh perempuan merupakan hak azasi mereka dalam menjalan perintah agama.

"Yang penting dari sisi pakaian tidak merugikan dan membuat perhatian orang lain," kata mantan Ketua Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI).

Terkait dengan kasus aksi terorisme itu sendiri, Giwo mengimbau masyarakat tetap waspada dan saling menjaga lingkungan dalam artian jika ada hal-hal yang mencurigai perlu segera dilaporkan.

"Jika ada orang baru yang belum dikenal perlu adanya komunikasi , jadi kerukunan tetangga di lingkungan RT dan RW perlu diguyubkan lagi, terutama pasca bom ini, di semua wilayah".

Sebelumnya, beredar sebuah video berdurasi 30 detik tentang perempuan bercadar digiring keluar dari bus di Terminal Gayatri, Tulungagung, Jawa Timur.

Video menjadi perbincangan karena perempuan bercadar tersebut digiring keluar dari bus.

PETUGAS DISHUB PAKSA TURUN

Sebelumnya seorang petugas dinas perhubungan terpaksa menurunkan wanita muda bercadar dari atas bus umum di Terminal Gayatri, Tulungagung, Jawa Timur karena dianggap gerak-geriknya yang mencurigakan.

Menurut keterangan Kepala Terminal Gayatri Oni Suryanto, Selasa, kejadian itu dilakukan lantaran si perempuan yang berusia sekitar 14 tahun itu tak kunjung mau menjawab saat ditanya petugas.

"Kejadiannya (Senin, 14/5) kemarin. Datang sekitar pukul 06.00 WIB dan naik ke bus jurusan Trenggalek sekitar pukul 08.00 WIB. Saat itu dia terlihat kebingungan, tapi saat ditanya tidak mau menjawab," katanya.

"Kecurigaan petugas semakin menjadi lantaran perempuan belia yang belakangan diketahui berinisial SAN itu tidak pakai alas kaki sejak masuk terminal hingga naik bus jurusan Ponorogo," kata Oni.

Namun setelah diinterogasi, gadis SAN mengaku sebagai santri Pondok Pesantren Darussalam, Kelurahan Kampungdalem, Tulungagung.

Kepada petugas, SAN mengaku ingin pulang ke Ponorogo namun tak ingin usaha pulang kampung tanpa izin itu ketahuan pengurus pondok.

"Jadi bukan karena penumpang yang takut dan tak mau wanita itu naik di bus. Tetapi karena mencurigakan, akhirnya diminta turun dulu oleh petugas," kata Oni.

Akhirnya, tim berkoordinasi dengan kepolisian.

Tak berselang lama, polisi dari Polres Tulungagung datang dan membawa wanita tersebut.

"Kami serahkan ke polisi untuk tindakan lebih lanjut. Sebab mereka yang lebih memiliki kewenangan," ujar Oni.

Dikonfirmasi terpisah, Kabag Humas Polres Tulungagung Iptu Sumaji mengatakan informasi penurunan penumpang dari atas bus Bagong jurusan Trenggalek benar namun telah dipelintir sehingga menjadi hoax.

"Berita yang beredar menjadi seolah ada diskriminasi perlakuan terhadap wanita bercadar di terminal. Padahal tidak begitu," katanya.

Menurut Sumaji, penurunan penumpang SAN lebih dilakukan lantaran santri yang masih duduk di bangku kelas 8 SMP ini membuat penumpang lain was-was.

Gerak-gerik yang misterius membuat SAN yang bercadar dan membawa sebuah tas dilaporkan penumpang lain kepada petugas dishub di unit Terminal Gayatri, Tulungagung.

"Keterangan yang bersangkutan juga informasi dari pihak pondok, santri berinisial SAN ini sudah keempat kalinya ini mencoba kabur dari pondok. Tiga kali kepergok pengasuh pondok, ini yang terakhir dia berinisiatif pakai cadar supaya tidak mudah dikenali," katanya.

(antara).