press enter to search

Sabtu, 22/09/2018 20:10 WIB

Ini Dia Diovio Alfath Anak Muda Indonesia Raih Penghargaan Kementerian Luar Negeri Amerika

| Rabu, 16/05/2018 23:09 WIB
Ini Dia Diovio Alfath Anak Muda Indonesia Raih Penghargaan Kementerian Luar Negeri Amerika Pemuda Indonesia, Diovio Alfath, penerima penghargaan "Emerging Young Leaders" dari Deplu AS (Dok: VOA)

aha dan kerja keras warga Indonesia, Diovio Alfath dalam membela kelompok minoritas dan membantu pengungsi di Indonesia mendapat apresiasi dari pemerintah Amerika Serikat.

Belum lama ini ia menjadi satu diantara sepuluh pemuda dari berbagai negara yang dianugerahi penghargaan bergengsi “Emerging Young Leaders” dari departemen luar negeri AS atas usahanya dalam menciptakan perdamaian.

 

Pemuda Indonesia, Diovio Alfath, penerima penghargaan "Emerging Young Leaders" dari deplu AS (Dok: VOA)
Pemuda Indonesia, Diovio Alfath, penerima penghargaan "Emerging Young Leaders" dari deplu AS (Dok: VOA)

“Penghargaan ini adalah bukti bahwa kerja keras kami selama ini diberi apresiasi oleh departemen luar negeri Amerika Serikat,” papar Diovio Alfath saat ditemui oleh VOA seusai acara penyerahan penghargaan di gedung departemen luar negeri AS di Washington, DC.

 Bersama para penerima penghargaan “Emerging Young Leaders” lainnya yang antara lain berasal dari Irak, Turki, Bangladesh, Lituania, Pakistan, Norwegia, Afrika Selatan, Panama, dan Tajikistan, Diovio mendapat kesempatan untuk mengikuti berbagai pelatihan di AS yang fokus kepada tema hak-hak azasi manusia.

 

 

Diovio Alfath bersama para penerima penghargaan "Emerging Young Leaders" dari Pemerintah AS (Dok: Diovio Alfath)
Diovio Alfath bersama para penerima penghargaan "Emerging Young Leaders" dari Pemerintah AS (Dok: Diovio Alfath)

 

Karena kepeduliannya terhadap persatuan dan perdamaian di Indonesia, Diovio mendirikan organisasi non pemerintah bernama Sandya Institute pada tahun 2014. Awalnya organisasi ini merupakan wadah untuk klub diskusi kecil bersama teman-temannya di fakultas hukum Universitas Indonesia.

 "Disini saya percaya bahwa nilai-nilai persatuain Indonesia sudah semakin merenggang dan penghargaan terhadap kelompok minoritas juga semakin berkurang. Maka dari itu, karena saya terinspirasi ingin mengubah dunia, spesifiknya Indonesia, saya mulai Sandya Institute secara kecil,” ujar pemuda berumur 23 tahun ini.

 Satu hal yang menjadi fokus utama dari Sandya Institute adalah Sunrise Refugee Learning Center yang membantu dan mendidik para kelompok pengungsi dari Afrika Utara, Timur Tengah, dan Myanmar. Fakta tahun 2016 dari UNHCR menyatakan ada lebih dari 13 ribu pengungsi yang kini tinggal di Indonesia.


“Nah, disitu kami memberikan mereka soft skills, bahasa Indonesia, bahasa inggris dan keterampilan lainnya, agar mereka bisa hidup secara nyaman di Indonesia sebelum mereka di-resettle ke negara berikutnya,” jelas Diovio.

 Sandya Institute juga memiliki program School of Peace and Human Rights yang bertujuan untuk meningkatkan kesadaran para pemuda Indonesia akan hak azasi dan perdamaian.

 “Kami juga bekerja sama dengan lembaga-lembaga yang sudah prominentseperti UNHCR seperti LBH Jakarta, non-government focus ke pengungsi yaitu suaka. Kami bekerja sama di sini untuk membuat buku ‘Know Your Rights’ untuk pengungsi. Jadi buku ‘Know Your Rights’itu adalah buku yang berisi panduan-panduan terhadap kelompok minoritas, dalam kelompok ini refugee, bagaimana mereka melihat hak mereka di sana,” kata Diovio.

 Diovio melanjutkan bahwa buku panduan ini tidak hanya ditujukan untuk para pengungsi melainkan untuk semua kelompok minoritas, termasuk minoritas suku, agama, ras, etnisitas, dan juga kelompok minoritas seksualitas.

 "Ada sahabat saya, minoritas agama. Dia zaman dulu belum bisa mencantumkan ktpnya. Saya juga sering melakukan penelitian-penelitian dan saya mendapatkan award ini juga karena saya melakukan penelitian-penelitian terhadap kelompok minoritas agama, Sunda Wiwitan, dan kelompok yang lain juga. Nah, disitu saya bertemu dan berinteraksi (dengan) mereka secara langsung saya mendengarkan cerita mereka secara langsung dan beberapa dari mereka juga ada teman saya, jadi saya sangat tergerak mendengarkan penderitaan mereka,” papar Diovio.

 

Diovio Alfath bersama para penerima penghargaan "Emerging Young Leaders" dari Pemerintah AS (Dok: Diovio Alfath)
Diovio Alfath bersama para penerima penghargaan "Emerging Young Leaders" dari Pemerintah AS (Dok: Diovio Alfath)

 

Lantas apa yang membuat Diovio begitu tergerak membela dan membantu kaum minoritas, serta para pengungsi di Indonesia?

 “Saya percaya bahwa seluruh manusia terlahir dengan kebebasan, keadilan, bermartabat, memiliki hak dan tidak ada yang seharusnya ditinggalkan. Inilah mengapa saya melakukan pekerjaan saya melawan ketidakadilan yang dialami kelompok minoritas di Indonesia,” papar Diovio.

 Diovio juga bercerita mengenai pengalamannya ketika berada di Jerman dan melihat sekelompok pengungsi yang terlantar.

 “Ketika saya jalan mereka itu berteriak-teriak dan ada yang dimarahi, jadi saya sangat prihatin dan saya berdiskusi dengan dosen saya di fakultas hukum universitas Indonesia, beliau menyarankan saya untuk menemui kelompok minoritas pengungsi yang ada di Jakarta. Dan setelah saya pelajari dengan beliau ternyata (jumlah) minoritas pengungsi di Indonesia itu besar banget,” ujarnya.

 Bersama Sandya Institute, Diovio berencana mengadakan berbagai seminar dan pelatihan, juga konferensi internasional untuk melindungi para pengungsi. Ia berpesan kepada para pemimpin muda di Indonesia agar terus berjuang untuk mencapai apa yang dicita-citakan.

 “Saya berharap kalian tetap melanjutkan perjuangan kalian, karena kita melakukannya secara bersama-sama. Dan jika kalian ingin berkolaborasi dengan Sandya Institute, jangan ragu menghubungi saya dan ketika saya melihat kita punya kesamaan visi dan misi, saya akan membantu sebisa saya,” pungkasnya. (VOA).