press enter to search

Jum'at, 19/10/2018 05:08 WIB

Kisah Seusai Kudeta Gagal di Turki

| Kamis, 17/05/2018 23:11 WIB
Kisah Seusai Kudeta Gagal di Turki Rakyat Turki merebut dan menguasai tank yang digunakan tentara pelaku kudeta

ANKARA (aksi.id) - Kudeta gagal di Turki tahun 2016 sebabkan 250 orang tewas. Pada acara peringatan setahun sukses tumpas kudeta di Ankara dan Istanbul jadi demonstrasi bagi haluan masa depan negara Turki. Para pendukung presiden Erdogan berkumpul mendengarkan pidato di depan gedung Parlemen.

 

Demonstranten mit türkischen Nationalsymbolen. Manche heben die Hand zum
 

Berbeda Pandangan

Banyak warga yang terlibat langsung melawan kudeta, untuk mendukung pemerintah yang terpilih secara demokratis, juga hadir dalam rapat akbar itu. Tapi tidak semuanya mendukung demokrasi. Seperti grup "serigala abu-abu" nama julukan partai gerakan nasionlistis ini, demonstrasikan salam partai ekstrim kanan Turki.

Der Erdogan-Anhänger Kalayci hält seinen Rücken im beschrifteten T-Shirt zur Kamera.
 

Rela Mati demi Erdogan

Sureyya Kalayci (ki) dan putranya Sohn Ahmet (ka), menjadi aktivis yang memblokir jalanan di Ankara untuk menghentikan upaya kudeta militer setahun lalu. Saat peringatan setahun suskes tumpas kudeta, Kalayci memakai baju yang ia tulisi sendiri nyatakan kesetiaan pada Erdogan. "Cukup telefon saya, dan perintakan saya untuk mati, sayapun siap mati"

Ein viele Quadratmeter großes Plakat an einer Hauswand.
 

Pengawas Demokrasi

Plakat di sebuah gedung di Ankara ini bertuliskan: Kami terus memonitor demokrasi". Inilah dukungan bagi "demokrasi" pasca percobaan kudeta setahun silam. Sebagian penduklung Erdogan meyakini, bahwa pendukung imam Fetullah Gülen masih ada di dalam institusi pemerintahan, dan terus menyiapkan kudeta berikutnya.

Familien feiern den Gedenktag
 

Percaya Kekuatan Nasional

Seorang demonstran mengatakan tertembak kakinya saat usaha kudeta yang gagal, dan menggeletak setahun di rumah sakit. Kini dia hadir dalam rapat akbar di Ankara, dan menyatakan siap membela negara. Ia menyebutkan, pengkhianat berusaha mempengaruhi militer lakukan kudeta. Tapi efeknya negara kini semakin kuat.

Demonstranten unterstützen Erdogan
 

Dukung Aksi Pembersihan

Demonstran yang membawa anak ini memakai ikat kepala bertuliskan "syuhada tak pernah mati. Tanah air tidak bisa dibagi". Banyak demonstran mendukung aksi pembersihan terhadap kelomopk anti Erdogan. Sejauh ini lebih 150.000 pegawai negeri dipecat dan lebih 50.000 orang ditahan di penjara. Demonstran ini menyebutkan, warga yang tidak bersalah tidak perlu takut.

Demonstranten mit türkischen Flaggen
 

Demo Tandingan Pengritik Status Quo

Para pengritik situasi darurat dan represi terhadap tersangka lawan politik pemerintah gelar demo tandingan. Peserta aksi menentang kewenangan besar bagi tentara untuk melakukan tindakan apapun. Jika ada referendum, para penentang status quo akan memilih menolak dituasi darurat.

 

Ein Demonstrant hält einen beschrifteten Schal in die Höhe:
 

Rindukan Kejayaan Usmaniyah

Dampak dari represi, menyebabkan Erdogan dipandang banyak pendukungnya sebagai penguasa tunggal di Turki. Ia dianggap sebagai tokoh yang bisa mengembalikan kejayaan Turki seperti di masa kekaisaran Usmaniyah yang runtuh 100 tahun lalu. Hal ini terlihat dari banner yang dibawa dengan tulisan :"Kami cucu Usmaniyah. Recep Tayyip Erdogan."

Ein Teilnehmer der Veranstaltung trägt eine Flagge mit einem Erdogan-Porträt. “Bleib stark, das Volk ist mit dir”.
 

Semua Mengharap Erdogan Terpilih Kembali?

Demostran pendukung Erdogan mengusung bendera bertuliskan. "Tetap kuat, rakyat mendukungmu". Tapi banyak yang diam-diam mengharapkan hal sebaliknya. Seorang sopir taksi mengatakan, jika Erdogan terpilih kembali 2019, Turki akan jadi ngara Syariah. Bagi pria ini bukan masalah, tapi bagi perempuan akan jadi masalah berat. Penulis:Diego Cupolo (as/ap/dw.com).

Keyword Turki Erdogan