press enter to search

Jum'at, 21/09/2018 04:54 WIB

Dokter dan Perawat Rumah Sakit Haji Sukolilo Surabaya Mogok Kerja

| Senin, 04/06/2018 13:32 WIB
Dokter dan Perawat Rumah Sakit Haji Sukolilo Surabaya Mogok Kerja Ratusan dokter dan perawat RS Haji Sukolilo berunjuk rasa menuntut perubahan sistem remunerasi di rumah sakit tersebut. (Foto: iNews/Yudha Prawira)

SURABAYA (aksi.id) - Lebih dari 100 dokter dan perawat Rumah Sakit (RS) Haji Sukolilo Surabaya berunjuk rasa, Senin (4/6/2018). Mereka memilih mogok bekerja, hingga tuntutan ketidakadilan remunerasi atau uang jasa pelayanan diselesaikan.

Unjuk rasa ratusan dokter dan perawat di halaman rumah sakit ini digelar seusai apel pagi. Dengan membawa berbagai poster dan spanduk, mereka mendesak direktur RS Haji Sukolilo mengubah semua sistem maupun tim remunerasi rumah sakit. Sebab, kebijakan sistem tersebut dianggap tidak adil. Bahkan belakangan, ada indikasi penyelewengan dana.

Koordinator Aksi, dr Wiwid Samsul Hadi menjelaskan, ada yang tidak benar dalam sistem remunerasi yang diterapkan manajemen. Akibatnya dokter maupun perawat yang bekerja lebih tidak mendapatkan uang jasa sebagaimana mestinya.

“Dalihnya pemerataan, tetapi yang muncul justru ketidakadilan. Bayangkan, ada banyak dokter dan perawat bekerja lebih (lembur) tetapi remunerasinya sama dengan mereka yang bekerja biasa. Ketidakadilan ini sudah berlangsung lama,” katanya.

Aksi unjuk rasa dokter dan perawat inipun cukup ampuh. Pihak manajemen rumah sakit akhirnya menyetujui tuntutan mereka. Yakni dengan mengubah sistem maupun tim remunerasi di rumah sakit milik Pemerintah Provinsi (Pemprov) Jawa Timut (Jatim) tersebut. Keputusan ini didapat setelah pihak manajemen dan perwakilan demonstran menggelar pertemuan tertutup selama hampir dua jam.

“Sudah ada kesepakatan. Tadi kami semua bersepakat untuk mengubah sistem remunurasi yang ada,” kata Plt Direktur Utama RS Haji dr Kohar Hari Santoso.

Kendati demikian, aksi unjuk rasa dan mogok kerja dokter dan perawat pagi tadi berimbas buruk pada pelayanan rumah sakit. Banyak layanan terhadap pasien terbengkalai karena aktivitas rumah sakit lumpuh. Akibatnya, tak sedikit masyarakat yang kecewa karena harus menunggu lama.

“Saya sudah datang sejak pukul 07.30 WIB berharap bisa segera dilayani. Ternyata aktivitas lumpuh karena unjuk rasa. Akhirnya menunggu lama,” ucap salah seorang pasien Wulandari.

Untuk diketahui, nilai remunerasi yang dituntut para dokter dan perawat bervariasi. Tergantung jumlah pelayanan yang diberikan kepada pasien. Untuk nilai terendah mencapai Rp500.000 per bulan. Sedangkan nilai tertinggi mencapai Rp50 juta per bulan.