press enter to search

Kamis, 18/10/2018 09:50 WIB

Di Depan Civitas Academika STPI, Dua Staf Ahli Menhub Papan Konsep Kepemimpinan Exellance

Redaksi | Senin, 04/06/2018 14:55 WIB
Di Depan Civitas Academika STPI, Dua Staf Ahli Menhub Papan Konsep Kepemimpinan Exellance Staf ahli Menhub Bidang Multimoda dan Keselamatan Dr. Cris Kuntadi, Ketua STPI Capt. Novyanto, Staf Ahli Menhub Bidang Ekonomi dan Kemitraan Ir. Suprasetyo serta Komandan Skuadron Wings V Lanud Hassanusin Makassar Letkol Png Anton Palagun

IMG-20180604-WA0016

CURUG (aksi.id) -  Staf ahli Menhub Bidang Multimoda dan Keselamatan Dr. Cris Kuntadi paparkan konsep kepemimponan exellance di depan civitas academika STPI Curug.

Cris tampil sebagai pembicara pada Kuliah Umum STPI bersama dua narasumber lain, yaitu Staf Ahli Menhub Bidang Ekonomi dan Kemitraan  Ir. Suprasetyo  serta Komandan Skuadron Wings V  Lanud Hassanusin Makassar Letkol Png Anton Palaguna.

Dalam paparanya, Cris menyebut untuk menjadi pemimpin yang sukses dan exellance minimal harus menguasai dua hal, yaitu hard skill yang meliputi  kemampuan teknis terkait bidang pekerjaannya.

Kedua, menurut Cris, harus menguasai soft skill, seperti kemampuan manajerial, disiplin, taat asas, komitmen kebangsaan dan lainnya.

“Sebagai pemimpin masa depan, harus  siap menghadapi era global. Oleh karena itu, kemampuan bahasa asing terutama Bahasa Inggris mutlak harus dimiliki,” jelas Cris.

Selain itu, seorang pemimpin  harus mampu dan cepat beradaptasi dengan lingkungannya. Dia juga bisa bergaul dan menyatu dengan anak buah, sekaligus mempunyai kemampuan lobby dan komunikasi yang bagus dengan banyak kalangan.

“Jika hard skill dan soft skill dikuasai dan diaplikasikan dengan baik, kita optimis akan bisa memimpin dengan baik dimanapun ditugaskan,” papar Cris.

Sementara, Suprasetyo dalam paparannya menekankan perlunya kemampuan atau pengetahuan yang baik untuk bisa sukses memimpin.

“Seperti tag line  ini, Kita Pancasila: Bersatu, Berbagi,  Berprestasi. Kalau ingin sukses harus bersatu, seperti perjuangan Indonesia merdeka diawali dengan persatuan,” sebut Pras, sapaan akrab ini.

Selanjutnya,  sebut dia, pemimpin juga harus rela  dan mau berbagi. Berbagi merupakan inti dari gotong royong yang merupakan akar budaya bangsa Indonesia.

Yang tak boleh ditinggalkan, menurut Pras, seorang pemimpin itu harus berprestasi. “Dengan bekal prestasi dan kemampuan itulah, dia akan mampu memimpin dan melaksabakan tugas dengan baik,”  tukas Pras.

Baik Cris atau Pras sepakat, Indonesia ke depan membutuhkan sosok pemimpin muda yang exellance, menguasai bidang tugas dan bisa melaksaakan pekerjaan dengan baik.

“Dengan sosok pemimpin seperti ini,  masa depan Indonesia akan baik dan sejahtera,” tandas Cris Kuntadi.(helmi)