press enter to search

Kamis, 15/11/2018 23:26 WIB

Ini Dia Sikap & Orientasi Lulusan Universitas Harvard

| Jum'at, 08/06/2018 17:03 WIB
Ini Dia Sikap & Orientasi Lulusan Universitas Harvard

 MASSACHUSETTS (aksi.id) - Universitas Harvard telah melahirkan banyak orang berkarir cemerlang - dan musim panas ini kembali lahir lulusan universitas ternama Amerika Serikat ini.

Tetapi jika mereka menjadi pemimpin politik dan bisnis generasi masa depan, akan seperti apa keyakinan mereka?

The Harvard Crimson meneliti secara rinci lulusan baru ini, koran mahasiswa ini mengungkapkan sikap mereka terkait dengan masalah politik, seks dan teknologi.

Ini adalah 10 hal yang terungkap terkait dengan kelompok elit usia muda ini.

1. Generasi yang gelisah.

Di antara lulusan tahun 2018, 41% dari mereka pernah mendapatkan bimbingan kejiwaan dari layanan kesehatan universitas.

Sekitar 15% juga mendapatkan bantuan dari luar kampus. Ini mengingatkan kita bahwa anak-anak muda ini belajar saat terjadi peningkatan kekhawatiran terkait dengan stres dan kesehatan di kampus.

Lulusan Harvard tidak mendukung kepresidenan Donald Trump.Hak atas foto GETTY IMAGES
Lulusan Harvard tidak mendukung kepresidenan Donald Trump.

2. Satu dari lima orang lulus Harvard dalam keadaan masih perawan.

Terdapat jumlah angka yang sama terkait dengan orang-orang yang belum pernah "kencan" saat di universitas.

Terkait dengan tempat kencan, 69% menggunakan app kencan. Tetapi lebih dari seperlima lulusan baru dilaporkan pernah "dilecehkan secara seks" saat masih menjadi mahasiswa.

3. Liberal di zaman Trump.

Secara politik lulusan muda yang masuk ke Harvard saat pemerintahan Obama ini, adalah penentang presiden yang sekarang, 72% mengatakan AS menuju arah yang salah.

Hanya 3% yang memberikan suara mendukung Trump dan dua pertiga dari lulusan ini menyatakan diri liberal atau sangat liberal.

4. Kebebasan berpendapat di Kampus?

Terdapat sejumlah isyarat mereka menyensor pandangannya dan tidak berdebat secara terbuka. Sekitar dua pertiga mahasiswa "pada suatu waktu pernah memilih untuk tidak menyatakan pandangan dalam forum akademis karena khawatir akan menyinggung orang-orang lain".

Ini terutama terjadi diantara para pendukung Republik. Hampir setengah mahasiswa menginginkan diberikan "peringatan" jika mata kuliah yang mereka ambil memasukkan hal-hal yang menggelisahkan atau menyinggung.

Lulusan Harvard kemungkinan besar tetap berada di AS timur laut atau pindha ke California.Hak atas foto REUTERS
Lulusan Harvard kemungkinan besar tetap berada di AS timur laut atau pindah ke California.

5. Menenggak minuman.

Alkohol terbukti adalah sarana hiburan yang masih paling populer. Meskipun anak-anak muda ini dipandang sebagai orang-orang berprestasi tinggi yang tinggi tingkat stresnya, mereka kemungkinan besar tetap akan minum. Lebih 90% menenggak alkohol dan sebagian besar minum setiap minggu.

Tetapi rokok bisa dibilang benar-benar hilang. Hampir tidak ada perokok dan lebih sepertiganya bahkan tidak pernah menghisap rokok. Lebih banyak jumlah mahasiswa yang mencoba ganja daripada rokok.

6. Penembakan sekolah.

Terjadi sejumlah unjuk rasa besar ynag dilakukan generasi muda di AS setelah terjadinya sejumlah penembakan di sekolah. Mahasiswa Harvard mendukung desakan membatasi akses terhadap senapan, sembilan dari 10 mahasiswa bahkan mendukung pengawasan senjata yang lebih ketat.

Telepon pintar, terutama iPhones, dimiliki kebanyakan mahasiswa.Hak atas foto GETTY IMAGES
Telepon pintar, terutama iPhone, dimiliki kebanyakan mahasiswa.

7. Mahasiswa pintar, telepon pintar.

Ini adalah kelompok mahasiswa yang benar-benar ada di dalam teknologi digital. Hampir semua lulusan baru ini memiliki telepon pintar, dan begitu banyaknya pemilikannya sehingga menjadi diremehkan.

Terdapat keberpihakan kepada iPhone, telepon pintar yang dipakai 87% lulusan, dan 80% dari mereka menggunakan alat komputer Apple lainnya.

8. Harvard memperkenalkan aturan dimana mahasiswa berjanji tidak akan melakukan kecurangan akademis. Tetapi penelitian ini mengisyaratkan ini tidak mengubah tingkah laku dan tingkat kecurangan tetaplah sama.

Sekitar seperlima mahasiswa mengaku pernah curang. Hanya sedikit yang mengatakan pernah ketahuan.

9. Kesenjangan akses.

Penerimaan di universitas ternama selalu penuh kontroversi. Lebih 60% mendukung tindakan pemberian kelonggaran kepada kelompok terpinggirkan dan memprioritaskan penerimaan sejumlah mahasiwa berdasarkan etnisitasnya.

Hal ini banyak didukung di antara lulusan kulit hitam dan Amerika Latin, dan kurang didukung di antara mahasiswa Asia dan kulit putih.

10. Selanjutnya?

Para lulusan ini memasuki zaman dimana terdapat berbagai pandangan yang terkutub. Amerika Serikat juga terpisahkan berdasarkan geografi.

Lulusan berprestasi tinggi ini akan tersebar di seluruh negeri - mereka merencanakan karir yang akan membuat mereka berkumpul di tiga tempat. New York, Massachusetts dan California.

Sekitar sepersepuluhnya akan ke luar negeri.

Tujuan kerja paling besar begitu lulus adalah menjadi konsultan, keuangan dan teknologi. Ini juga memberikan gambaran dimana `uang baru akan dibuat`, 60% lulusan baru masih berharap dapat tetap bergantung pada dana orangtua.

Sumber: BBC Indonesia

Artikel Terkait :

-