press enter to search

Kamis, 18/10/2018 09:53 WIB

Pesawat Tenaga Surya akan Uji Terbang Lintasi Samudera Pasifik

| Minggu, 10/06/2018 06:03 WIB
Pesawat Tenaga Surya akan Uji Terbang Lintasi Samudera Pasifik

JAKARTA (aksi.id) - Setelah sukses mencapai Cina dari Uni Emirat Arab, pesawat tenaga surya Solar Impulse akan menghadapi tantangan terbesar dalam misi keliling dunia, yaitu terbang non-stop dari Nanjing di Cina sampai Hawaii di Samudera Pasifik.

Bagi sebuah pesawat yang mengangkut ratusan penumpang, rute berjarak 8.000 kilometer itu dapat ditempuh dalam sekitar 10 jam. Tapi untuk sebuah pesawat eksperimental bertenaga surya, perjalanan tersebut bisa memakan waktu 5-6 hari.

Lalu, karena meluncur tanpa bahan bakar fosil, penerbangan itu perlu cuaca yang ramah. Guna memastikannya, tim Solar Impulse masih tertahan di Nanjing demi menunggu kesempatan yang tepat.

Pebisnis dan insinyur asal Swiss, Andre Borschberg, akan memegang kendali. Dia sangat yakin dengan teknologi pesawat itu, namun dia juga menyadari sulitnya misi yang akan ditempuhnya.

“Pada akhirnya ini juga akan menjadi tentang saya; ini akan menjadi perjalanan ke dalam diri saya,” katanya kepada BBC. “Ini akan menjadi penemuan mengenai perasaan saya dan bagaimana saya menjaga diri saya selama penerbangan lima atau enam hari,” sambungnya.

Borschberg akan duduk pada kursinya selama perjalanan itu, dalam kokpit yang besarnya tidak lebih dari bilik telepon.

Dia boleh tidur selama sekitar 20 menit dan akan melakukan yoga untuk menyegarkan tubuhnya. Dia diharuskan siap untuk bereaksi dengan cepat.

Cuaca

Walau Solar Impulse memiliki rentang sayap lebih dari 70 meter, beratnya hanya beberapa ton. Bila si pilot berhadapan dengan turbulensi, dia harus mengatasinya dengan semua ilmu dan pengalamannya selama 40 tahun terbang.

Setiap langkah perjalanan itu akan diawasi dari ruang kendali proyek itu di Monako.

Bisa jadi kelompok pendukung yang menghadapi tekanan terbesar adalah tim ahli meteorologi. Mereka harus menemukan rentang waktu yang tepat dengan kondisi cuaca yang pas di lautan Pasifik.

Para peneliti cuaca kini memiliki keahlian untuk melihat cuaca 24 jam ke depan, namun semakin jauh jarak yang diteliti, semakin banyak pula ketidakpastiannya.

Musuh terbesar dalam hal ini adalah awan cirrus yang tinggi karena itu akan membatasi jumlah daya yang dapat ditarik pesawat itu dari 17.000 panel suryanya.

Pada saat hari senja, keempat baterai lithium-ion Solar Impulse harus terisi penuh agar pesawat itu dapat bertahan hingga matahari terbit pada pagi hari.

“Ini sangat penting,” kata direktur misi ini, Raymond Clerc.

“Bahkan dengan baterai yang terisi 100%, besok paginya hanya akan tersisa 10% atau 7%. Jadi bila baterai hanya terisi 90% di malam hari, besok paginya akan habis total.”

Hak atas foto
Image captionAndre Borschberg dan Bertrand Piccard ialah dua pilot Solar Impulse yang bergiliran mengendarai pesawat tersebut.

Strategi sangat penting untuk proyek ini. Kelompok simulasi di Monako akan terus memonitor keadaan di depan, menerima laporan cuaca terbaru dan batasan wilayah terbang untuk memberikan prediksi agar pesawat itu dapat terbang di rute ter-optimal.

Rencana dasarnya adalah untuk terbang tinggi hingga 8.500 meter selama pagi hari agar panel surya dapat terisi dengan baik.

Lalu, pada malam hari, Borschberg akan turun ke ketinggian sekitar 900 meter untuk menghemat energi sebanyak mungkin. Dalam beberapa fase selama pesawat sedang turun, baling-balingnya bahkan dapat dimatikan. Dia akan melayang turun.

Dan inilah masalahnya. Pada ketinggian tinggi, Solar Impulse akan dibantu angin buritan untuk mendorongnya ke arah timur. Namun semakin pesawat itu turun, lebih besar kemungkinan dia akan disambut angin yang bertiup ke barat. Penerbangan pada saat malam hari diperkirakan sangat pelan.

“Tapi bagi kami, waktu bukanlah prioritas utama,” kata Clerc. “Bagi kami, energi adalah prioritas utama dan bila kami harus terbang satu hari lebih itu bukan masalah karena kami memiliki peralatan dan perlengkapan cukup untuk pilotnya. Mungkin sulit baginya, namun secara teknis itu tidak menjadi masalah.”

Skenario ekstrem

Apabila dilihat di peta, tidak tampak lokasi mendarat yang praktis jika Solar Impulse menghadapi kesulitan selepas melewati bagian timur Jepang.

Dalam satu atau dua skenario ekstrem, pesawat itu bisa mendarat di tengah laut bila tidak mungkin mencapai Hawaii.

Dan bila belum jauh melewati Cina atau Jepang, Borschberg dapat berputar kembali. Kelompok pengawasnya juga harus mempersiapkan kemungkinan pendaratan di atas air.

Pilotnya sendiri tidak akan menetap di pesawat karena adanya risiko tersengat listrik ketika pesawat itu terkena air. Borschberg akan keluar dengan perahu karet dan menunggu dijemput oleh kapal.

Bertrand Piccard, yang berganti gilir dengannya dalam perjalanan keliling dunia, mengatakan ada keyakinan kuat pada kemampuan kendaraan itu untuk tampil dengan baik dalam kondisi yang disebutnya “masa-masa genting”.

"Kami memiliki banyak kelebihan, jadi jika salah satu sistem listrik gagal kita dapat mengatur ulang itu dengan sangat cepat. Dan kami - sebagai pilot – sudah hafal cara melakukan itu. Kita sudah sangat kenal baik dengan sistemnya,” katanya kepada BBC.

Piccard lah yang akan kemudian membawa pesawat itu dari Hawaii ke Phoenix di Amerika Serikat setelah perhentian sementara. Perjalanan itu tidak akan terlalu panjang – “hanya” empat hari terbang non-stop.

Seperti rekan bisnisnya, dia juga termotivasi oleh perjalanan pribadi ini.

“Ini adalah keajaiban berpetualang,” katanya.

“Ketika anda keluar dari kebiasaan dan rutin, dan bisa menemukan kekuatan batin, keterampilan baru, dan Anda akan melihat bahwa Anda bisa berfungsi lebih baik dari biasanya.”

Apabila berhasil, penerbangan ini akan memecahkan sejumlah rekor penerbangan. Salah satunya adalah penerbangan tenaga surya pertama yang melintasi Samudera Pasifik.

Perjalanan sejauh ini

  • Tahap 1: 9 Maret. Abu Dhabi (UEA) ke Muskat (Oman) – 441 km dalam 13 jam 1 menit
  • Tahap 2: 10 Maret. Muskat (Oman) ke Ahmedabad (India) – 1.468 km dalam 15 jam 20 menit
  • Tahap 3: 18 Maret. Ahmedabad (India) ke Varanasi (India) – 1.215 km dalam 13 jam 15 menit
  • Tahap 4: 19 Maret. Varanasi (India) ke Mandalay (Myanmar) – 1.398 km dalam 13 jam 29 menit
  • Tahap 5: 29 Maret. Mandalay (Myanmar) ke Chongqing (Cina) – 1.459 km dalam 20 jam 29 menit
  • Tahap 6: 21 April. Chongqing (Cina) ke Nanjing (Cina) – 1.241 km dalam 17 jam 22 menit.

Sumber: BBC Indonesia