press enter to search

Jum'at, 21/09/2018 05:15 WIB

Kepala Botak, Sejarah & Citra Jempolan Lelaki

| Minggu, 10/06/2018 01:03 WIB
Kepala Botak, Sejarah & Citra Jempolan Lelaki

BEKASI (aksi.id) - Ingin terlihat lebih pintar, berpengaruh, berpendidikan dan jujur? Buanglah rambut Anda.

Orang Viking menggunakan krem kotoran bebek. Ahli kedokteran Yunani kuno, Hippocrates, percaya obat terbaik kebotakan adalah kotoran burung dara, yang dicampur lobak pedas, jinten dan jelatang.

Sebuah resep Mesir berusia 5.000 tahun mengisyaratkan campuran duri landak hangus dengan minyak, madu, pualam, oker merah dan potongan kuku, dioleskan ke daerah yang terkena.

Selama pria telah mengenal cermin, mereka mempermasalahkan kepalanya. Ini adalah obsesi Julius Caesar, yang melakukan segala hal agar rambutnya kembali; rangkaian daun salam yang dipakainya lebih merupakan usaha menutupi kepalanya yang bercahaya daripada tradisi Romawi.

Saat dia bertemu Cleopatra, dia hampir botak sepenuhnya. Sebagai usaha terakhir untuk menyelamatkan rambutnya, dia mengusulkan obat buatan sendiri dari tikus, gigi kuda dan minyak beruang.

Tetapi, dia tetap tidak berhasil. Caesar kehilangan rambut sama seperti pria besar sebelum dan sesudahnya, termasuk Socrates, Napoleon, Aristotle, Gandhi, Darwin, Churchill, Shakespeare dan Hippocrates – yang meskipun sudah menggunakan kotoran burung dara, menjadi sangat botak sehingga ada sejenis kebotakan berdasarkan namanya. Pada akhirnya rambutnya di bagian bawah mulai tumbuh dan Caesar menyisirnya ke arah depan, teknik yang dipandang sebagai “gaya ilusi”. Sekarang dinamakan comb-over.

`Penyakit`

botakHak atas foto WIKIMEDIA COMMONS
Charles Darwin cocok dengan pandangan pria botak adalah laki-laki yang cerdas, berstatus tinggi dan berpengaruh (Kredit: Wikimedia Commons).

Ribuan tahun kemudian, kita sudah beralih dari karangan bunga dan campuran yang memuakkan ke krim, tonik dan sampo mahal dan yang terakhir rambut palsu, pil dan pembedahan. Sekarang Anda bisa mendatangi klinik perawatan rambut, konseling kehilangan rambut dan tidaklah aneh melihat iklan yang mengajak pria botak untuk “mengunjungi dokter mereka”. Dokumen membicarakan kebotakan dengan menggunakan istilah penyakit, sementara gejala ini sekarang memiliki nama yang ilmiah, “androgenic alopecia”. Jika Anda tidak mengetahui, Anda kemungkinan akan berpikir ini adalah suatu penyakit.

Dunia menghabiskan dana US$3,5 miliar atau Rp45.000 triliun untuk mengobati kebotakan setiap tahun. Ini lebih besar daripada anggaran negara Masedonia atau seperti ditegaskan Bill Gates tahun lalu, jauh lebih besar dibandingkan dana yang kita gunakan untuk mengatasi malaria, yang hanya memerlukan US$200 juta atau Rp2,5 triliun per tahun.

Dan pengobatan saat ini berbeda isinya dengan efek samping yang lebih besar. Penjualan obat antibotak Propecia, yang dikaitkan dengan impotensi, mencapai tingkat tertinggi US$264 juta atau Rp3,4 triliun pada tahun 2014. Transplantasi rambut, dikenal berdarah-darah dan membuat pria menangis. Menurut survei tahun 2009 oleh International Society of Hair Restoration Surgery, hampir 60% pria lebih menginginkan rambut lebat daripada uang dan teman.

Apa kita melakukan kesalahan?

Terdapat semakin banyak bukti bahwa kebotakan ternyata bukanlah evolusi kebetulan yang mengejutkan. Pria botak dipandang lebih cerdas, dominan dan berstatus tinggi; kulit kepala berkilat kemungkinan membantu mereka merayu perempuan dan bahkan menyelamatkan nyawa.

Sebelum kita menyentuh apa yang membuat kebotakan menjadi suatu hal yang besar, pertama-tama kita harus meluruskan sejumlah hal.

Berbeda dengan pandangan umum, kehadiran pria botak super macho seperti Bruce Willis, tingkat kemungkinan Anda kehilangan rambut tidak membuat Anda menjadi lebih laki-laki.

Pria botak tidak lebih subur dan tingkat testosteron mereka juga tidak lebih tinggi, meskipun mereka lebih cenderung memiliki bulu di lengan, kaki dan dada. Kemungkinan, yang lebih mengejutkan, pria botak sebenarnya tidak memiliki lebih sedikit rambut di kepala mereka.

Jadi bagaimana hal ini terjadi?

Terkait dengan semua histeria kebotakan, kita memiliki catatan panjang tentang ketidakbenarannya. Aristotle berpikir ini disebabkan seks. Pada masa Romawi kuno, wabah kepala licin di antara kalangan militer dipandang disebabkan oleh helm logam berat yang dipakai para tentara. Teori sesudahnya, mengaitkan dengan “kekeringan otak” yang dipandang dapat menarik kepala dari rambut dengan membuat otak mengerut, polusi udara atau salah potong rambut.

Di tahun 1897, terjadi gelombang kepanikan di dunia ketika seorang ahli kulit Perancis mengumumkan temuan penyebab kebotakan: sebuah mikroba. Tukang potong rambut dan jurnal kedokteran segera beraksi, mengumumkan bahwa sisir harus direbus secara teratur dan anggota keluarga yang botak sama sekali tidak boleh menggunakan sisir yang lainnya.

Sekarang kita mengetahui kebotakan disebabkan rusaknya produk testosteron, dihydrotestosterone (DHT). Di janin, hormon ini berperan penting dalam perkembangan alat kelamin pria. Pada pria dewasa, hal ini menyebabkan akar rambut mengerut. DHT membuat rambut “terminal” pada kepala laki-laki berubah menjadi rambut “vellus” yang pendek dan halus mirip kepala bayi.

Dan karena ini produk testosteron, Anda kemungkinan berpikir semakin banyak testosteron sama degan semakin banyak DHT, yang berarti semakin banyak rambut rusak. Pada kenyataannya, Anda hanya memerlukan sedikit kebotakan pada mulanya. Yang membedakan orang botak adalah kepekaan akar rambut, yang merupakan warisan ibu mereka.

Kenyataan bahwa ini faktor keturunan adalah hal yang penting. Begitu mencapai ulang tahun ke-30, jauh sebelum berakhirnya masa subur, 25-30% pria kehilangan rambut. Bukan hanya itu. Hal ini terjadi di seluruh dunia, pada semua kelompok suku.

Jika menjadi botak suatu yang buruk, hal ini akan berhenti. Kenyataan bahwa ini suatu hal yang umum kemungkinan mengisyaratkan kegunaannya, tetapi bagaimana? Dan jika memang begitu, mengapa hanya terjadi pada pria?

“Pada umumnya di alam ketika pria memiliki sesuatu yang tidak dipunyai perempuan bukan berarti sifat ini suatu isyarat,” kata Frank Muscarella, psikolog Universitas Barry. Pada tahun 1990-an, hal ini membuatnya berpikir.

botakHak atas foto GETTY IMAGES
Sir Winston Churchill terkenal akan keberanian dan dominasinya saat Perang Dunia Kedua (Kredit: Getty Images).

Sebagian besar bentuk “dimorfik seksual” ini juga memiliki kemiripan. “Biasanya dikaitkan dengan kedominanan dan kemungkinan reproduktif lebih besar,” kata Muscarella. Dengan kata lain, kebotakan dapat dibandingkan dengan ekor warna-warni burung merak jantan. Hal ini berevolusi karena menarik perhatian perempuan.

Kajian sebelumnya memperlihatkan perempuan tidak memandang pria botak seksi, tetapi ini kemungkinan karena pria botak cendering tua dan perempuan tidak tertarik terhadap usia tua.

“Kita mengetahui perempuan tertarik pada pria dengan status sosial yang lebih tinggi, sehingga meskipun secara fisik tidak menarik kemungkinan (kebotakan) terkait dengan daya tarik nonbadaniah," kata Muscarella.

Sebelum Anda bertanya, Muscarella tidak memiliki kepentingan pribadi dalam teori ini. “Saya tidak botak. Rambut saya cukup bagus,” katanya.

Pada tahun 2004, dia memutuskan untuk menyelidiki mewakili kelompok yang tidak beruntung ini. Untuk menghilangkan faktor yang mengganggu hasil, Muscarella mengetahui dia perlu merekayasa sejumlah pria botak. Tetapi dia mengetahui dia tidak bisa hanya memfoto sejumlah pria dan kemudian mengedit rambut mereka.

Muscarella melibatkan seorang penata rambut dan mereka mengunjungi toko rambut palsu. “Saya meminta dia untuk memotong rambut di wig agar satu orang terlihat memiliki rambut lebat, satu terlihat mulai kehilangan rambut dan satu orang lagi terlihat botak,” katanya.

Pria yang botak secara alamiah cenderung memiliki rambut di telinga dan di kepala bagian belakang, sehingga dia memerlukan rambut palsu bahkan untuk gaya botak.

Setelah temannya selesai memangkas rambut palsu, Muscarella membeli tiga penutup kepala plastik dan menempatkan rambut dengan menggunakan Velcro. Dia kemudian meminta enam mahasiswa untuk mengenakannya dan kemudian memfoto mereka. “Tentu saja mereka terlihat mengerikan,” katanya.

Kematangan sosial

Untungnya, rekan penulisnya memiliki perangkat lunak editing foto kuno, sehingga dari satu pixel ke pixelberikutnya, mereka berhasil menghapus garis antara topi dan kening sehingga membuat foto terlihat cukup normal.

Mereka kemudian menguji foto. Dia memperlihatkannya kepada 101 pria dan 101 perempuan yang mempelajari psikologi dan meminta mereka membuat peringkat daya tarik dan aspek kepribadian.

Sementara pria botak atau membotak tidak dipandang menarik secara fisik dibandingkan pria lainnya, mereka memiliki satu angka yang lebih tinggi.

Mereka secara konsisten dipandang lebih cerdas, berpengaruh, berpengetahuan, lebih berpendidikan, berstatus sosial tinggi, jujur dan penolong, sifat yang secara umum dipandang sebagai kematangan sosial.

Dia memperkirakan kebotakan kemungkinan berubah sebagai isyarat status sosial yang lebih tinggi, sesuatu yang dipandang perempuan menarik. Yang menarik, pria botak juga dipandang lebih tidak agresif. “Jika Anda berpikir, manusia pria kuno kemungkinan berkeliaran telanjang dan sangat berbulu, Anda dapat membayangkan kepala berambut lebat, kumis lebat, semua bulu tubuh, mereka akan terlihat sangat mengancam,” kata Muscarella.

Menjadi botak membedakan pria dewasa, berstatus tinggi dari laki-laki dewasa yang tidak bersahabat.

Kalau itu yang terjadi, kemungkinan kita telah membajak isyarat alamiah ini sejak lama. Seperti yang ditegaskan Muscarella, gaya botak digemari para filsuf, guru dan pendeta selama berabad-abad. Biarawan Kristen bahkan melangkah lebih jauh, bukannya mencukur kepala, tetapi mereka melakukannya dengan meniru proses pria menjadi botak.

Temuan ini didukung sejumlah kajian lainnya. Di dunia, pekerja perkebunan tebu di Brasil sampai ke murid sekolah menengah atas Zambia, memandang pria botak sebagai lebih dominan. Ini bahkan berlaku bagi pria yang mencukur semua rambutnya.

Bahkan terdapat bukti yang menarik, meskipun agak kontroversial, bahwa kepala botak menyelamatkan nyawa.

Sejak lama, yang terjadi adalah sebaliknya. Sejak lama diketahui pria yang tidak bisa menghasilkan DHT, seperti yang dikebiri, memiliki rambut yang sehat selama mereka tetap hidup. Yang menarik juga, tidak terdapat catatan mereka mengalami kanker prostat.

DHT menentukan pertumbuhan kelenjar prostat di bayi, sehingga masuk akal jika hal ini juga mempengaruhi pertumbuhan tumor saat dewasa. Kanker prostat dan kebotakan kemungkinan dipengaruhi kepekaan hormon yang sama di keluarga. Ini ditegaskan permulaan tahun ini lewat temuan pria dalam proses menjadi botak kemungkinan besar mempunyai kanker prostat agresif yang membunuh 300.000 orang setiap tahun.

Kedengarannya tidak terlalu positif, tetapi ada sisi lain. Tingkat vitamin D yang rendah, di mana tubuh hanya dapat menghasilkannya jika terkena sinar matahari, adalah salah satu faktor penyebab kanker prostat. Dan seperti yang dikatakan oleh kebanyakan pria botak kepada Anda, mereka lebih terkena sinar matahari dibandingkan orang pada umummnya. Apakah kebotakan menghilangkan sejumlah pengaruh mematikan DHT?

“Puluhan ribu tahun lalu di Eropa ini kemungkinan akan membantu orang menerima lebih banyak radiasi UV dan menghasilkan lebih banyak vitamin D,” kata Peter Kabai dari Universitas István di Hungaria, yang memikirkan hal ini ketika dia mulai menjadi botak. Ini juga menjelaskan mengapa perempuan tidak menjadi botak, karena mereka tidak memiliki prostat.

Buktinya terus menumpuk. Pria yang bekerja di luar gedung lebih besar kemungkinannya dibandingkan pekerja kantoran. Ini juga terbukti benar di antara pria yang kulitnya terbakar, yang kulitnya terbakar saat anak-anak, tinggal di iklim yang lebih hangat, atau berlibur di luar negeri. Pengaruhnya sangat kuat, bahkan musim saat Anda didiagnosa juga berpengaruh, orang-orang yang didiagnosa pada musim panas lebih kecil berkemungkinan meninggal karena kanker.

“Ini semua berhubungan dengan vitamin D, sebagian besar orang kekurangan hal ini,” kata Kabai. Bukti terakhir berasal dari percobaan klinis tahun lalu. Tiga puluh tujuh pria penderita kanker prostat diberikan suplemen vitamin D hampir tujuh kali dari yang biasa dianjurkan, sebagian diberikan placebo.

Enam puluh hari kemudian, prostat mereka diangkat. Pada kelompok yang memakan vitamin D, tumor mereka mengecil. Di kelompok placebo, keadaan memburuk. Suplemen juga mengubah gen penting mematikan peradangan, yang dikenal mempengaruhi perkembangan kanker.

Dengan kata lain, pria dalam proses menjadi botak kemungkinan lebih terkena kanker prostat meskipun mereka kehilangan rambut, bukan karena kehilangan rambut; kebotakan itu sendiri kemungkinan membantu menghilangkan sejumlah risiko.

Ini juga dapat menjelaskan sejumlah bukti yang membingungkan: sebuah kajian sebelumnya menemukan pria yang garis rambutnya mundur dan mengalami kebotakan sebelum umur 30, sampai 45% lebih kecil berkemungkinan mengalami kanker prostat kemudian. “Sebagian pria botak kemungkinan lebih suka memakai topi selamanya, sementara yang lainnya tidak begitu. Perbedaannya dapat menjadi sumber kebingungan pada kajian seperti ini,” kata Kabai.

Jadi begitulah: menjadi botak dapat membantu pria maju, menggaet perempuan atau menjadi sehat. Mungkin sekarang saatnya membuang kotoran burung dara dan memberikan penghormatan kepada kepala botak.

Sumber: BBC Indonesia

Keyword Botak Plontos

Artikel Terkait :

-