press enter to search

Sabtu, 15/12/2018 13:55 WIB

Nelayan Balikpapan Blokade Tongkang Batubara

| Minggu, 10/06/2018 23:49 WIB
Nelayan Balikpapan Blokade Tongkang Batubara

BALIKPAPAN (aksi.id) - Tumpahan batu bara pada proses bongkar muat kapal tongkang ke kapal tengker yang semakin masif terjadi dinilai telah merugikan nelayan tradisional di Balikpapan, Kalimantan Timur.

Para nelayan pun melakukan aksi perlawanan dengan menggelar Blokade Ponton Batubara.

Ketua Kesatuan Nelayan Tradisional Indonesia Balikpapan, Kalimantan Timur, Husain menjelaskan, aksi memblokade itu digelar lantaran sudah tak tahan dengan terpuruknya kondisi kehidupan nelayan akibat pencemaran yang terjadi.

"Aksi blokade ponton batubara ini sebagai bentuk perlawanan kami terhadap aktivitas industri batu bara yang telah menggangu ruang nelayan," ujar 
Ketua Kesatuan Nelayan Tradisional Indonesia Balikpapan, Kalimantan Timur, Husain dalam siaran persnya, Minggu (10/6).



Aksi blokade dilakukan mulai dari Tempat Pelelangan Ikan (TPI) Manggar, bergerak ke kapal tengker batubara di perairan laut, sekitar 7 mil dari pesisir Manggar. 

"Dimulai jam sembilan pagi, dengan peserta aksi sebanyak 100 kapal," ujar Husain. Aksi digelar kemarin (Sabtu, 9/6). 

Ketua Departemen Advokasi dan Penguatan Jaringan DPP KNTI, Misbachul Munir menjelaskan, aksi protes damai ini merupakan sinyal bahwa nelayan tidak tinggal diam atas pencemaran batubara di perairan Balikpapan.

"Tentu akan berdampak meluas dari turunnya hasil tangkapan nelayan hingga dampak masa depan karena masuk dalam rantai makanan," katanya.

Menurut Munir, berdasarkan UU 7/2016 tentang Perlindungan Nelayan, pemerintah daerah dan pemerintah pusat wajib melindungi perairan wilayah tangkap dari kerusakan dan pencemaran lingkungan.

Oleh karena itu, lanjut dia, sangat penting bagi Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) turun tangan memastikan sumber kehidupan nelayan bebas dari kapal tongkang batubara yang mencemari dan merusak ekosistem perikanan di perairan Balikpapan.

Dia juga meminta agar pemerintah pusat dan daerah memastikan Rencana Zonasi Wilayah Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil (Perda RZWP3K) Provinsi Kaltim.

"Untuk melindungi wilayah tangkap nelayan dan tidak tumpang tindih dengan kawasan pelabuhan yang menjadi tempat kapal tongkang batubara parkir," ujarnya.

Kegiatan unjuk rasa para nelayan itu dilakukan di tengah laut. Ada dua kapal tangker besar yang menjadi sasaran aspirasi para nelayan.

Di antara arus air laut begitu kuat dan ombak tinggi, para nelayan melakukan blokade ponton batubara.

Saat diprotes, pihak kapal tangker dan tongkang tidak terlihat ada aktivitas pergerakan mengolah batu bara, namun para awak kapal tangker berada di dek kapal.

Nelayan pun berkesempatan membentangkan spanduk protes yang berisi kritikan. Hal ini berlangsung sekitar pukul 10.30 WITA.

Tulisan spanduk berisi, "Batu Bara Membunuh Nelayan." Dan ada juga bentangan spanduk bertuliskan, "Usir Tongkang Batu Bara dari Wilayah Tangkapan Nelayan." (RMOL).