press enter to search

Jum'at, 21/09/2018 05:33 WIB

PKS Sesalkan Jokowi Biarkan Wantimpres Yahya Staquf Ke Israel

| Rabu, 13/06/2018 11:38 WIB
PKS  Sesalkan Jokowi Biarkan Wantimpres Yahya Staquf Ke Israel
JAKARTA (aksi.id) - Kunjungan anggota Wantimpres yang juga Katib Aam Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) KH Yahya Cholil Staquf ke Yerusalem tak lepas dari tanggung jawab Presiden Joko Widodo. Kedatangan Gus Yahya ini bahkan dinilai telah merusak sikap Indonesia memperjuangkan kemerdekaan Palestina.
 
"Saya menyesalkan Presiden Jokowi membiarkan kunjungan Wantimpres Saudara Kyai Yahya Staquf Ke Israel. Ini sangat menciderai proses perjuangan bangsa Palestina atas kemerdekaannya," ujar Ketua DPP PKS Mardani Ali Sera dalam keterangan tertulis yang diterima kumparan, Rabu (13/6).
 
Menurut Mardani, hal yang dilakukan Yahya telah menyalahi kebijakan Indonesia yang sejak dulu telah memprioritaskan Palestina serta mendukung perjuangan bangsa Palestina dalam memperjuangkan kemerdekaannya.
 
"Kehadiran seorang Wantimpres dalam undangan itu secara tidak langsung merusak perjuangan Indonesia dari dulu," imbuh Mardani.
 
Wakil Ketua Komisi II DPR itu bahkan menegaskan, setidaknya Presiden dapat mempertimbangkan efek baik dan buruknya atas kunjungan Yahya itu. Sekalipun Jokowi menyebut kunjungan tersebut merupakan kunjungan Yahya pribadi, tidak membawa nama negara.
 
"Presiden mestinya tidak boleh lepas tangan begitu saja. Mau atas nama pribadi ataupun negara, kan bisa dihitung dulu risikonya?" ucap Mardani.
 
"Sikap Indonesia yang dari dulu dikenal dunia mendukung kemerdekaan Palestina itu jelas dan tidak ada tawar-menawar untuk itu. Namun semuanya buyar karena pembiaran ini," sambungnya.
 
Untuk mengklarifikasi hal tersebut, Mardani pun berharap agar nantinya Joko Widodo selaku Presiden dapat menyampaikan permintaan maafnya atas kekeliruan yang telah diperbuat anggota wantimpres-nya.
 
"Jangan rusak perjuangan founding fathers kita memperjuangkan hak bangsa Palestina untuk merdeka," tutupnya.
 
KOMENTAR JOKOWI
 
Presiden Joko Widodo angak bicara dan mengatakan langkah Yahya yang berdialog dengan organisasi Yahudi itu merupakan urusan pribadi.
 
"Itu adalah urusan pribadi. Beliau kan sudah menyampaikan itu urusan pribadi. Pak Kiai Haji Yahya Staquf karena dia diundang berbicara di Israel," kata Jokowi di Istana Bogor, Selasa (12/6).
 
Sejauh ini, Jokowi mengetahui Yahya di Israel berbicara soal perdamaian. Bahkan, kata dia, Yahya juga mengungkapkan dukungannya terhadap Palestina.
 
"Saya melihat, karena saya belum mendapatkan laporan, beliau juga belum pulang, saya panggil. Intinya juga memberikan dukungan kepada Palestina," jelasnya.
Gus Yahya di IsraelGus Yahya di Israel (Foto:Youtube/AJCGlobal)
Terkait kritikan dari pihak Palestina, Menteri Luar Negeri Retno LP Marsudi mengatakan dirinya telah memberikan penjelasan bahwa langkah Yahya merupakan individu. Langkah Yahya tidak berkaitan dengan kebijakan pemerintah Indonesia.
 
"Jadi di New York saya sudah menjelaskan, dan saya akan menjelaskan kembali bahwa tidak ada perubahan apa pun mengenai kebijakan atau policy Indonesia terhadap Palestina," tegasnya.
 
Bahkan, dia mengungkapkan bahwa perdamaian Palestina menjadi prioritas Indonesia saat terpilih menjadi anggota tidak tetap Dewan Keamanan PBB.
 
"Jadi sekali lagi, saya ingin tekankan tidak ada perubahan atau bahkan justru terjadi penebalan keberpihakan pemerintah Indonesia terhadap perjuangan rakyat Palestina dalam mencapai atau dalam berjuang merebut hak-hak Palestina. Sekali lagi Indonesia selalu bersama dengan Palestina," ucanya.
 
Katib Aam Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU)  KH Yahya Cholil Staquf, atau yang biasa disapa Gus Yahya, dikabarkan mendapat undangan dari Israel. Dalam surat undangan yang tengah viral di media sosial, disebutkan bahwa Gus Yahya diundang sebagai pembicara oleh Israel Council on Foreign Relations.
 
Dalam surat undangan itu, tertulis bahwa Gus Yahya yang saat ini menjabat sebagai Anggota Dewan Perimbangan Presiden (Wantimpres) diundang dalam kapasitasnya sebagai perwakilan ulama dari PBNU. Dia diharapkan menjadi pembicara pada 13 Juni mendatang.
 
Adapun tema yang diangkat adalah soal upaya penyelesaian konflik global. Materi yang dibawakan berjudul `Shitfing the Geopolitical Calculus: From Conflict to Cooperation`.
 
Ketua Pengurus Besar Nadlatul Ulama (PBNU) Bidang Hukum Robikin Emhas tak menampik adanya undangan tersebut. Meski demikian, dia menegaskan bahwa undangan tersebut ditujukan ke Gus Yahya secara pribadi.
 
"Kehadiran Gus Yahya Staquf adalah selaku pribadi, bukan dalam kapasitas sebagai Katib Aam PBNU, apalagi mewakili PBNU," ujar Robikin seperti dalam keterangan tertulis yang diterima kumparan, Sabtu (9/6).
 
Selain itu, Robikin juga meminta masyarakat agar tak salah paham dengan undangan tersebut. Dirinya meyakini bahwa apa yang akan dibawa Gus Yahya pada 13 Juni itu merupakan merupakan upaya dari penyelesaian konflik Palestina-Israel.
 
"Saya yakin kehadiran Gus Yahya tersebut untuk memberi dukungan dan menegaskan kepada dunia, khususnya Israel bahwa Palestina adalah negara merdeka. Bukan sebaliknya," tegas Robikin.
 
Robikin juga menjelaskan, selama ini PBNU tak memiliki kerjasama apapun dengan Israel. Namun itu bukan berarti PBNU menutup ruang diskusi bagi upaya penyelesaian konflik. Terlebih, kata dia, setiap insan yang mencintai perdamaian pasti akan mendambakan penyesesaian menyeluruh dan tuntas atas konflik Israel-Palestina.
 
"Boleh jadi Gus Yahya Staquf memenuhi undangan dimaksud untuk menawarkan gagasan yang memberi harapan bagi terwujudkan perdamaian di Palestina dan dunia pada umumnya," pungkasnya
 
(dien/sumber: kumparan.com).