press enter to search

Kamis, 15/11/2018 23:26 WIB

Knafa, Makanan Khas `Cuci Mulut` yang Tak Dapat Dinikmati Seluruh Warga Gaza

| Rabu, 13/06/2018 23:58 WIB
Knafa, Makanan Khas `Cuci Mulut` yang Tak Dapat Dinikmati Seluruh Warga Gaza Knafa tidak mampu dibeli oleh banyak orang di Gaza, yang memiliki tingkat pengangguran tertinggi di dunia. Hak atas foto: Miriam Berger/BBC Travel

GAZA (aksi.is) - Knafa versi Jalur Gaza, sebuah kue gula khas Timur Tengah, sangat jarang ditemukan di luar daerah pantai mungil ini.

Toko kue Abu al Saoud beraroma seperti Gaza pada umumnya. Di dalam pintu kaca besar, pajangan yang mengkilat dan meja yang bersih diselimuti bubuk gula dan adonan yang hangat.

Suasana sepi, yang terdengar hanya obrolan pelanggan dan suara denting alat pengiris kue manis buatan toko ini yang terkenal dan menjadi daya tarik: Knafa Arabiya.

Kue berlumur gula khas Timur Tengah, Knafa versi Jalur Gaza, jarang ditemukan diluar kota pelabuhan kecil ini. Yang lebih dikenal adalah Knafa dari Nablus, Knafa Nablusiya, dengan keju - makanan cuci mulut orang Palestina - berlapis mie yang dihancurkan atau semolina. Adapun Knafa Ghazawiya (Knafa Gaza), juga dikenal sebagai Knafa Arabiya merupakan makanan yang pedas dan manis, kaya dengan rasa kacang-kacangan khas Gaza, pala dan kayu manis menggantikan keju.

Toko Kue milik Saqallah, juga dikenal Abu al Saoud, telah memanggang penganan cuci mulut alias makanan penutup yang khas ini sejak 1896. namun asal-usul hidangan ini secara pasti sulit untuk digambarkan.

Mahmoud Saqallah, cucu dari kepala keluarga toko tersebut, dengan bangga menyambaikan sebuah teori. Bahwa pada abad ke-7 dan masa Nabi Muhammad hidup, ketika pengikutnya, Ali bin Abi Talib, dilaporkan meminta sebuah makanan penutup yang lezat - saat itulah, Kunafa Arabiya lahir, seperti disampaikan Saqallah. Benar atau tidaknya, kisah itu menggambarkan hidangan yang merupakan identitas warga Gaza Palestina.

Saat ini Anda memerlukan izin -yang sulit diperoleh- untuk memasuki atau keluar Gaza. Tetapi menurut sejarah, wilayah terisolasi ini pernah merupakan sebuah tempat perlintasan dan perdagangan. Di masa kuno, Gaza merupakan pelabuhan utama di sepanjang Mediterania dan pintu masuk bagi para pejalan dan pedagang di rute Syam dan Suriah Raya, Semenanjung Arab dan Afrika. Saat ini, hidangan yang berisi kombinasi unik ini masih mencerminkan masa lalunya.

"(Knafa Arabiya) menggambarkan Gaza itu sendiri," jelas Laila El-Haddad, penulis buku The Gaza Kitchen. "Ini merupakan hidangan penutup yang sederhana yang memiliki bumbu yang kaya."

Dia menambahkan," Di zaman modern ini, karena Gaza lebih tertutup, rasa ini relatif tidak diketahui, bahkan bagi warga Palestina lainnya."

Faktanya, saat ini secara fisik banyak orang yang tidak dapat mengaksesnya. Setelah beberapa dekade dikuasai oleh Turki, Inggris dan Mesir, Israel yang menguasai Gaza sejak 1967 sampai 2005; dua tahun kemudian Hamas, sebuah kelompok yang merancang teror, merebut kekuasaan dari saingannya dengan kekerasan, yaitu Otoritas Palestina PA yang lebih moderat di Tepi Barat. Israel dan Mesir kemudian menerapkan blokade perjalanan dan perdagangan di Gaza. Selama sembilan tahun, Israel dan Hamas telah terlibat dalam tiga perang yang menghancurkan; banyak tempat di Gaza yang belum sepenuhnya pulih dari konflik tiga tahun lalu.

GazaHak atas foto ABID KATIB
Gaza merupakan pelabuhan penting bagi jalur perdagangan atau perjalanan ke Mediteriania dan Afrika. (Kredit: Abid Katib / Stringer)

Saat ini, Israel membatasi sebagian besar perlintasan perbatasan. Di perlintasan Erez di bagian selatan Israel, hanya satu pintu masuk bagi orang-orang di Gaza, Israel dan Tepi Barat Palestina, "Makanan tidak dizinkan untuk diekspor dari Gaza atas dasar regulasi," menurut Koordinasi Aktivitas Pemerintah di Wilayah Kekuasaan Israel.

Secara informal, bagaimanapun, setengah kilo atau satu kilo kue manis - atau sekitar dua piring besar Knafa Arabiya - dapat dikirimkan.

Ketika saya mengunjungi toko milik Abu al Saoud pada Juli lalu, situasi sulit dan makin sulit. Gaza mengalami krisis listrik yang berat yang menyebabkan warga hanya dapat menikmati aliran listrik hanya dua atau tiga jam per hari - turun dari delapan jam pada bulan sebelumnya. Yang beruntung, seperti Abu al Saoud, dapat menikmati listrik lebih lama dengan generator.

Bahkan hanya dengan lima syikal per potong - harga yang sama seperti di Nablus - Knafa ini tidak terjangkau bagi banyak orang di Gaza, yang memiliki tingkat pengangguran terbesar di dunia.

Meskipun mengalami kesulitan, Abu al Saoud memiliki sejumlah tempat yang sukses di Gaza. Pada 1994, saat perundingan yang sekarang beku, membuat prospek negara Palestina tampak menjanjikan, Saqallah Sweets menambahkan Knafa Nablusiya dalam menu mereka.

Keluarga tersebut membuka lokasi yang sekarang di pusat Kota Gaza pada 2009, hanya beberapa pekan sebelum perang dengan Israel. Ketika perang berakhir, bom telah menghancurkan jendela mereka dan menyebabkan pengeluaran sampai puluhan ribu pounds akibat kerugian dan kerusakan.

 

Makanan manisHak atas foto MIRIAM BERGER
Makanan yang pedas dan manis, kaya dengan rasa acang-kacangan khas Gaza, pala dan kayu manis menggantikan keju.

Sekarang dengan blokade perbatasan dan uang yang semakin sulit diperoleh, "Sangat sulit untuk membuat sebuah sistem," kata Saqallah, sambil menjelaskan bahan-bahan berkualitas tinggi - dan bahkan hanya beberapa bahan dasar - menjadi semakin sulit untuk diperoleh.

Padahal, menurut Saqallah, "Ini tak hanya sekedar tentang bahan-bahan, tetapi bagaimana memasaknya."

Di dapur di bawah toko yang ramai, tim Saqallah menciptakan seni. Saqallah menolak untuk memberikan resep yang tepat untuk Knafa Arabiyanya, tetapi menggambarkan bagaimana memulainya dengan bahan dasar semolina panggang, air dadih dan susu yang dimasak dan disempurnakan untuk mendapatkan kekasaran khas hidangan tersebut.

Selanjutnya, adonan itu dituangkan ke dalam panci berlapis yang besar, diikuti dengan campuran kayu manis, gula dan pala serta lapisan ein jamal - mata unta atau kenari. Kemudian ditekan dengan panci yang lebih kecil dan diletakkan di atas tungku api besar selama sekitar 20 menit. Sentuhan terakhir, tentu saja, adalah lapisan gula manis yang dituangkan di atasnya.

Hidangan ini paling enak disajikan panas - jika sudah terlalu lama, warnanya akan kering dan berkerut, itu merupakan tanda dari Knafa berkualitas rendah, Saqallah memperingatkan.

KnafaHak atas foto MIRIAM BERGER

Tekstur yang rumit sulit untuk didapat di rumah, yang menjadi salah satu sebab mengapa hidangan ini tak banyak dikenal di luar Gaza, kata El-Haddad. Sebagai gantinya, resep rumahan, seperti dalam buku resep masakannya, bergantung pada campuran bulgur dan semolina untuk mendapatkan adonan dasar kue Knafa.

Saqallah telah bekerja di toko selama 40 tahun. Sekarang salah satu dari enam anaknya, Saud, 31, dipersiapkan untuk menggantikannya. Pada siang dan malam, toko ini penuh sesak, terutama selama masa liburan atau di awal bulan, ketika warga sudah menerima gaji.

"Kami selalu datang ke sini," kata Nur yang berusia 20 tahunan, yang sebelum 10 pagi sudah menunggu bersama dengan empat rekan kuliahnya untuk knafa pertama pada hari itu. Mereka telah membuat janji di dekat lokasi toko dan memutuskan untuk menyenangkan diri mereka sendiri; tiga diantaranya ingin Arabiya yang pedas dan dua ingin rasa keju.

Mereka sedikit kaget pada ketertarikan saya pada hidangan itu, "Tidak aneh sama sekali bagi kami semua," kata Nur sambil tersenyum.

Keyword Gaza