press enter to search

Kamis, 18/10/2018 10:32 WIB

Setelah Jaksa Agung & Gubernur Bank Sentral, 2 Hakim Tinggi Malaysia Mengundurkan Diri

| Kamis, 14/06/2018 00:25 WIB
Setelah Jaksa Agung & Gubernur Bank Sentral, 2 Hakim Tinggi Malaysia Mengundurkan Diri Najib Razak dan Mahathir Mohamad

KUALA LUMPUR (aksi.id) - Dua hakim tinggi Malaysia mengundurkan diri, Rabu (13/06), menyusul pengunduran diri jaksa agung dan gubernur Bank Negara setelah kembalinya Mahathir Mohamad ke kursi perdana menteri.

Pria berusia 92 tahun itu secara mengejutkan berhasil memimpin kubu oposisi mengalahkan koalisi pemerintah pimpinan Najib Razak dalam pemilihan umum bulan lalu.

Begitu kembali menjabat perdana menteri, Mahathir ke kursi menegaskan akan menyelidiki dugaan korupsi yang melibatkan badan investasi negara, 1MDB.

Di bawah pemerintahan Najib Razak, kasus itu tidak ditindaklanjuti di Malaysia walau diselidiki di beberapa negara, seperti Amerika Serikat, Singapura, dan Swiss. Najib sendiri membantah tegas tuduhan korupsi yang diarahkan kepadanya maupun terkait 1MDB.

Pernyataan pengadilan Malaysia, Rabu (13/06), menyebutkan Ketua Hakim Negara, Raus Sharif, dan Ketua Mahkamah Banding, Zulkefli Ahmad Makinudin, akan mengundurkan diri per 1 Juli.

Ditambahkan bahwa pengunduran diri keduanya sudah disetujui Sultan Malaysia, yang dibutuhkan untuk jabatan-jabatan tinggi.

Masa jabatan keduanya sempat diperpanjang oleh Najib Razak walau sudah berusia di atas 66 tahun, yang sempat memicu protes dari kubu oposisi pimpinan Mahathir Mohamad waktu itu.

Para pengkritik mengatakan kemandirian pengadilan Malaysia memburuk dalam beberapa tahun belakangan. .

Pekan lalu Gubernur Bank Sentral Malaysia, Muhammad Ibrahim, mengundurkan diri setelah muncul tuduhan bahwa bank sentral itu membantu pemerintahan sebelumnya untuk membayar sebagian utang badan investasi negara, 1MDB.

Sementara Jaksa Agung Apandi Ali diganti dengan Tommy Thomas, yang berjanji akan mengupayakan gugatan pidana maupun perdata sehubungan dengan raibnya miliaran dolar dari 1MDB.

Najib sendiri, bersama istrinya, sedang dalam penyelidikan terkait dengan masalah keuangan di 1MDB dan sudah dilarang bepergian ke luar negeri.

Bayang-bayang tuduhan korupsi di 1MDB itu diperkirakan mempengaruhi kekalahan Najib Razak dan membawa Mahathir Mohamad, yang pada masa pemerintahan pertama antara tahun 1981 hingga 2003, juga dituduh kelompok oposisi melemahkan kemandirian pengadilan Malaysia. 

(aisha/sumber: BVC Indonesia).