press enter to search

Rabu, 14/11/2018 21:03 WIB

Ini Rahasia Erdogan Selalu Didukung Rakyat Turki

| Kamis, 05/07/2018 01:03 WIB
Ini Rahasia Erdogan Selalu Didukung Rakyat Turki

ANKARA (aksi.id) - Di Turki dan di luar negeri, sosok Recep Tayyip Erdogan menimbulkan efek berlawanan. Ada yang menggambarkannya sebagai "sultan" Ottoman baru dan ada juga yang menganggapnya pemimpin yang otoriter.

DW mengeksplorasi bangkitnya pemimpin Turki ini dari masa awal berkampanye untuk urusan Islamis hingga menjadi presiden di negara yang memiliki kekuatan militer terbesar kedua di NATO.

Setelah bertahun-tahun bergerak di jajaran Partai Kesejahteraan yang berakar Islamis, Erdogan terpilih sebagai walikota Istanbul pada 1994.

Namun empat tahun kemudian, partai itu dinyatakan inkonstitusional karena mengancam sistem pemerintahan sekuler Turki dan dibubarkan.

Pada Desember 1997, Erdogan membacakan sebuah puisi karya Ziya Gokalp, seorang aktivis pan-Turkisme awal abad ke-20.

Dalam puisi itu Erdogan menyebut bahwa masjid adalah barak, kubah adalah helm tempyr, menara masjid adalah bayonet dan iman adalah tentaranya.

Karena puisi aslinya tidak berbunyi seperti itu, pemerintah menangkap Erdogan karena dianggap memicu kekerasan serta menyuarakan kebencian rasial atau agama.

Pengadilan menjatuhkan hukuman penjara 10 bulan, tetapi Erdogan hanya menjalani selama empat bulan mulai Maret hingga Juli 1999. Selain itu Erdogan juga dilarang berpolitik dan ikut pemilihan anggota parlemen.

Kesuksesan reformasi ekonomi Erdogan

Pada 2001, Erdogan mendirikan Partai Keadilan dan Pembangunan (AKP) yang langsung memenangkan pemilihan umum 2002 dengan merebut hampir dua per tiga kursi parlemen.

Kemenangan Erdogan kemungkinan besar terkait dengan kondisi perkonomian Turki yang morat-marit saat itu sebagai warisan dari kudeta 1997 terhadap Erbakan.

Usai kudeta itu, Turki dibayangi kekacauan politik di mana para politisi tak bisa membentuk pemerintahan yang kuat, ujungnya dunia internasional tak mau berinvestasi di Turki.

Krisis ini memuncak pada Februari 2001 ketika bursa saham Turki hancur, suku bunga mencapai 3.000 persen dan nilai tukar lira Turki terhadap dolar jatuh amat drastis. Saat itu satu dolar AS setara dengan 1,5 juta lira Turki.

Alhasil dalam delapan bulan pertama 2001, sebanyak 14.875 lapangan pekerjaan hilang dan bank sentral Turki kehilangan 5 miliar dolar AS karena banyaknya warga Turki yang menukarkan uangnya dengan dolar AS.

Itulah kondisi ekonomi yang diwarisi Erdogan saat menduduki jabatan perdana menteri pada 2002. Sama seperti saat menjadi wali kota Istanbul, Erdogan melakukan hal terpenting terlebih dahulu yaitu memperbaiki perekonomian Turki.

Dan Erdogan terbukti sukses memperbaiki ekonomi Turki. Saat pertama kali menjadi perdana menteri, Erdogan mewarisi utang ke IMF sebesar 23,5 miliar dolar AS dan pada 2012, utang tersebut tersisa 900 juta dolar AS.

Demikian juga dengan cadangan devisa Turki. Pada 2002, bank sentral Turki hanya memiliki cadangan devisa sebesar 26,5 miliar dolar AS. Jumlah itu meningkat hingga 92,2 miliar AS pada 2011.

Pada 2012, Turki memiliki rasio utang terhadap GDP yang terendah dari 21 anggota Uni Eropa dan defisit anggaran terkecil dari 23 anggota Uni Eropa.

Prestasi Erdogan lainnya adalah meningkatkan jumlah universitas di Turki, menambah jumlah bandara, menambah jumlah jalan tol, menambah rel kereta api dan kini tengah membangun jalur kereta api cepat.

Selain itu, pemeirntahan Erdogan juga membangun terowongan Marmaray di bawah Selat Bosphorus yang menghubungkan sisi Eropa dan Asia kota Istanbul.

Berbagai keberhasilan ini membuat Turki kini menjadi salah satu negara dengan perekonomian yang diperhitungkan di dunia.

Kesuksesan ini pula membuat Erdogan tetap mendapatkan dukungan besar dari rakyat, bahkan di saat perekonomian Turki menurun pada 2014 dengan angka pertumbuhan hanya 2,9 persen dan angka pengangguran meningkat di atas 10 persen.

Tinggalkan sekularisme?

Yakin dengan dukungan rakyat ini, Erdogan terpilih menjadi presiden pada 2013 dan kemudian memperbesar wewenang presiden yang selama ini hanya sebatas peran seremonial.

Di masa pemerintahannya, pemerintah Turki mulai sedikit demi sedikit mencabut berbagai larangan yang diberlakukan pemerintah Turki yang sekular.

Pada 2013, Erdogan mencabut larangan mengenakan jilbab di ruang publik dan institusi pemerintahan, kecuali di institusi hukum, militer dan kepolisian.

Para lawan politik Erdogan, menuduh pria kelahiran 1954 itu tengah berupaya mengubah Turki dari sebuah negeri sekuler menjadi negeri dengan asas Islam.

Upaya Erdogan melarang minuman beralkohol hingga keputusan Erdogan tetap memerangi etnis Kurdi yang melawan ISIS, dianggap sebagai pertanda Turki akan meninggalkan sekularisme.

Tak hanya itu, Erdogan juga dianggap mulai menjadi pemimpin otoriter, salah satunya dengan membangun istana megah di ibu kota Ankara.

Istana yang dinamai Ak Saaray atau Istana Putih itu berdiri di atas sebuah bukit dan memiliki 1.000 kamar. Bangunan ini jauh lebih besar dari Gedung Putih atau Kremlin dan didirikan dengan biaya 615 juta dolar AS.

Erdogan berulang kali membantah tuduhan bahwa dia akan menggiring Turki meninggalkan sekularisme warisan Kemal Ataturk dan membantah dia kini menjadi seorang pemimpin otoriter.

Meski demikian, kekhawatiran bahwa Turki akan menjadi negara sektarian tak bisa hilang begitu saja, terutama dari benak para penjaga ideologi.

Kekhawatiran inilah yang kemungkinan menjadi dasar sebagian anggota militer Turki memutuskan, untuk melakukan kudeta seperti pernah dijalankan para senior mereka di masa lalu.

Bedanya, militer Turki sekarang tak satu suara dalam hal ini bahkan panglima militer negeri itu sudah menegaskan akan memberantas para pembangkang.

Namun, hal yang paling berpengaruh adalah dukungan rakyat yang sangat besar terhadap Presiden Erdogan.

Keberanian rakyat turun ke jalan menghadapi militer yang bersenjata lengkap menjadi faktor terpenting kegagalan kudeta militer keempat dalam sejarah Turki modern.

 

Keyword Erdogan