press enter to search

Jum'at, 21/09/2018 15:33 WIB

Festival Banteng di Spanyol Dimulai, Aktivis Perempuan Gelar Demo

| Minggu, 08/07/2018 15:15 WIB

MADRID (aksi.id) - Festival San Fermin di Spanyol yang termasyur dengan pelepasan liar banteng ke kerumunan para pengunjung, resmi dibuka meski aktivis mendesak penundaan akibat kekerasan seksual terhadap penonton perempuan.

 Lima laki-laki dilaporkan melecehkan seorang perempuan saat festival itu digelar tahun 2016 dan April lalu, ribuan orang berunjuk rasa ketika para pelakunya hanya dijerat pasal yang lebih ringan dibandingkan pemerkosaan.

Sejumlah kelompok feminis mendorong para penonton perempuan mengenakan pakaian dan syal serba hitam pada upacara pembukaan San Fermin -sebagai ganti pakaian tradisional putih dan merah.

 

Di sisi lain, kelompok pembela hak perempuan malah mendesak festival itu dihentikan sama sekali.

Namun kelompok perempuan di Pamplona, kota penyelenggaraan San Fermin, berpendapat lain dengan meminta masyarakat menghargai pagelaran tradisional tersebut.

Melansir koran berbahasa Spanyol, El Pais, feminis setempat menganggap unjuk rasa di luar Pamplona digelar tanpa kesepakatan, konfirmasi, dan tak memiliki tujuan yang jelas.

Penolakan terhadap festival banteng itu dipicu vonis penjara selama sembilan tahun terhadap lima laki-laki yang melecehkan penonton perempuan muda.

Dikenal sebagai La Manada alias gerombolan serigala, perbuatan lima laki-laki itu mengejutkan masyarakat Spanyol.

Para pelaku baru-baru ini dilepaskan setelah penasehat hukum mereka mengajukan memori banding ke pengadilan. Artinya, mereka dapat kembali berada di antara ratusan ribu orang yang biasa menyaksikan pelepasliaran banteng di Pamplona.

Apa yang terjadi dalam festival itu?

Kekerasan seksual di Festival San Fermin terjadi tahun 2016 namun baru diadili di pengadilan setempat beberapa bulan lalu.

`Gerombolan serigala` adalah nama yang digunakan para pelaku untuk grup perbincangan pesan singkat. Di forum itu, mereka saling berbagi video pemerkosaan yang mereka lakukan.

Lima lelaki dilaporkan memperkosa perempuan berusia 18 tahun yang mereka culik dari jalanan Pamplona.

Kepolisian menyebut korban bersikap `pasif atau netral` saat kekerasan seksual terjadi dengan menutup matanya selama peristiwa itu.

Pengadilan setempat menjerat para pelaku dengan pasal kekerasan seksual yang memuat hukuman lebih ringan dibandingkan pemerkosaan.

Tuntutan itu memicu protes selama berhari-hari di seantero Spanyol dan di media sosial lokal, muncul pula tagar #cuéntalo yang disebut serupa dengan #MeToo yang digulirkan gerakan perempuan berbahasa Inggris.

Sarung tangan merah -warna khas syal tradisional Festival San Fermin- menjadi simbol para pengunjuk rasa.

Sementara pemerintah kota Pamplona berupaya mencitrakan daerah mereka sebagai wilayah yang aman bagi perempuan dengan situs resminya memuat tajuk "kegembiraan dan penghargaan terhadap sesama, terutama untuk semua perempuan".

Dalam panduan festival itu juga tertulis, "San Fermin bukanlah pesta yang mengizinkan kekerasan seksual."

"Setiap orang dihargai persis seperti saat mereka berada dalam situasi yang berbeda dan itu berlaku untuk laki-laki atau perempuan."

Ketua Dinas Kesetaraan Gender Pamplona, Laura Berro, menyebut sebelumnya masih ada pemikiran lawas yang membenarkan laki-laki menyerang perempuan atas pengaruh alkohol dan gegap gempita pesta.

"Dalam beberapa tahun terakhir, masyarakat lebih memperhatikan kasus itu karena dapat menyuarakan paham feminis."

"Dan secara bertahap, ada perubahan mendasar penting yang terjadi," kata Berro kepada AFP.

Di tengah pro dan kontra, festival `banteng melawan kerumunan penonton` di Pamplona tetap akan digelar selama satu pekan hingga 13 Juli mendatang.