press enter to search

Kamis, 19/07/2018 03:20 WIB

Merokok Ternyata Juga Bisa Bikin Impoten. Maka Berhentilah Merokok!

| Senin, 09/07/2018 11:24 WIB

MELBOURNE (aksi.id) - Mungkin sudah banyak diketahui bahwa dampak dari merokok adalah penyakit kanker paru-paru dan penyakit jantung.

Namun hanya 30 persen warga Australia yang mengetahui bahwa merokok juga bisa menyebabkan penyakit seperti kanker darah, impoten dan rematik.

Demikian menurut sebuah penelitian terbaru dan karenanya menimbulkan peertanyaan apakah pesan yang sekarang ditempel di rokok mengenai bahaya kesehatan merokok perlu diperbaiki.

Penelitian yang diterbitkan di Medical Journal of Australia, menanyai 1800 warga Australia mengenai apakah mereka mengetahui merokok meningkatkan bahaya terhadap 23 kondisi kesehatan, selain kanker paru-paru, stroke dan diabetes.

Delapan dari 10 orang yang ditanyai mengetahui bahwa kanker paru-paru, tenggorokan, dan mulut, penyakit jantung dan empisema ada hubungannya dengan merokok.

Namun banyak yang tidak mengetahui bahwa merokok juga bisa menyebabkan impoten, ketidaksuburan pada perempuan, diabetes dan juga kanker ginjal.

Bahaya merokok
Tahukah anda merokok bisa menyebabkan ...

Dari 23 kondisi kesehatan yang disurvei, kondisi kesehatan yang paling banyak tidak diketahui adalah:

Rematik
Kanker darah akut
Kehamlan ektopik
Diabetes
Kanker pencernaan
Kebutaan
Impoten (Gangguan fungsi seksual)
Peptic ulcer
Kanker ginjal
Ketidaksuburan pada perempuan


Michelle Scollo dari Dewan Kanker di negara bagian Victoria (Australia) yang melakukan penelitian mengatakan bahwa peringatan tanda bahaya merokok yang sudah ada selama ini cukup berhasil meningkatkan pengetahuan, dan sudah waktunya memperluas dengan informasi baru.

"Sudah bisa diduga dan kita senang bahwa perokok tahu dampak kesehatan dari apa yang sudah tertulis di bungkus rokok dan juga kampanye iklan." kata Dr Scollo.

"Namun kurang dari setengah diantara mereka tahu soal merokok mengurangi kesuburan, dan juga berdampak pada kehidupan kita."

"Banyak perokok mengira bahwa merokok hanya memperpendek usia beberapa tahun saja tetapi dua dari tiga perokok meninggal lebih dini, mereka meninggal di usia paruh baya."

Dr Scollo berharap penelitian ini akan menyebabkan adanya peringatan baru mengenai bahaya merokok, dengan lebih banyak contoh penyakit lain.

"Kita perlu selalu diingatkan dengan hal seperti ini sehingga kita akan selalu ingat, jadi saya tidak melihat mengapa kita hanya harus memuat 14 peringatan saja."

"Saya kira kita perlu melihat sebanyak mungkin peringatan, sehingga orang mendapat informasi yang cukup mengenai resiko yang mereka hadapi."

Peringatan lebih banyak belum tentu efektif

Label peringatan bahaya merokok mulai diperkenalkan pertama kali di Australia di tahun 2012.

Peringatan mengenai dampak kesehatan di bungkus rokok memang berguna kata Simone Dennis, antroplog dari Australian Natiional University yang meneliti mengenai dampak peringatan di bungkus rokok terhadap perilaku perokok.

Namun dia meragukan apakah peringatan yang lebih banyak lagi akan menghasilkan dampak yang sama.

Peringatan bahaya merokok menurutnya kebanyakan ditujukan kepada `kelompok perokok kelas menengah` dengan perkiraan semakin mereka tahu bahaya merokok akan membuat mereka mengubah perilaku.

"Saya tidak tahu apakah peringatan terus menerus di bungkus merokok mengubah perilaku mereka yang sedang merokok." katanya.

"Saya tidak tahu apakah ini akan semakin mengurangi jumlah perokok yang selama ini tidak berubah walau sudah ada peringatan bahaya di bungkus rokok. Saya meragukan untuk mengikuti model seperti ini lagi."

Bahaya dari pendekatan ini, kata Prof Dennis adalah mereka yang perilakunya tidak berubah adalah mereka yang berasal dari kelompok yang sudah termarjinalkan, dan ini hanya akan membuat mereka semakin terisolasi.

"Kalau kita sudah berada di kelompok marjinal, mereka sudah memikul beban berat, karena mereka dianggap melakukan sesuatu yang sangat berbahaya."

"Kampanye yang sudah ada tidak bisa mengubah mereka, mereka tetap merokok, dan kemungkinan juga mereka tidak akan akan berubah. Dan karenanya kelompok inilah yang akan paling banyak meninggal." kata Prof Dennis.

Keyword Merokok Rokok