press enter to search

Jum'at, 20/07/2018 04:08 WIB

Dibayar Rp50.000/Hari, 2 Pemuda Cirebon & Brebes Ini Baru 15 Hari Kerja di Kapal yang Terbakar

| Selasa, 10/07/2018 21:15 WIB
Cerita pilu 2 ABK saat puluhan kapal di Pelabuhan Benoa terbakar 2 ABK korban kebakaran puluhan kapal di Benoa. ©2018 Merdeka.com

DENPASAR (aksi.id) -  Dua pemuda yang berprofesi sebagai anak buah kapal (ABK) melepaskan lelah di sebuah gasebo. Dengan wajah lesuh, kedua pemuda tersebut memandang puluhan petugas pemadam kebakaran yang berjibaku memadamkan puluhan kapal ikan yang terbakar di Pelabuhan Benoa, Denpasar Selatan.

Kedua pemuda tersebut bernama Wahyu Suandi (19) dan Samsudin Saginan (21). Keduanya ABK yang baru bekerja sekitar setengah bulan di PT Bandar Nelayan, pemilik kapal tempat kedua pemuda tersebut bekerja.

"Saya capek semalam membantu memadamkan kapal yang terbakar," ucap Wahyu Suandi sambil menunjuk kapal tempatnya bekerja yang bernamakan Kapal Bandar Jaring 810, Senin (9/7).

Pemuda asal Desa Banjarwangunan, Kecamatan Mundu, Kabupaten Cirebon, Jawa Barat, menceritakan bahwa saat kebakaran terjadi, dia sedang beranjak tidur.

"Sekitar jam 02.30 WITA. Iya saya panik dan takut baru mau tidur terus tahu-tahu dibangunin ada kebakaran. Saya baru bekerja setengah bulan di PT Bandar Nelayan. Saya bekerja sebagai penyambung jaring ikan dan dibayar Rp 50 ribu sehari," ungkapnya.

"Uang saya sama sekali tidak ada, tadi baru dapat makan jam 12 siang dari perusahaan dikasih nasi bungkus. Tidur juga susah, biasanya saya tidur di kapal," keluhnya.

Menurut Wahyu, saat kebakaran banyak barang-barang miliknya dan rekan yang tertinggal. Dia berharap secepatnya dapat bekerja kembali.

Hal senada juga disampaikan oleh Samsudin Saginan, pemuda yang berasal dari Desa Cenang, Kecamatan Songgom, Brebes, Jawa Tengah ini, mengutarakan bahwa pada saat kejadian banyak barang-barang pribadinya tertinggal di kapal Bandar Nelayan 810.

"Hanphone saya juga tertinggal, dan handaphoe teman-teman banyak yang ketinggalan di kapal. Iya saya cuma bawa kaos ini, uang saya juga sudah habis. Semalam saya tidur di pinggir jalan," ungkapnya.

Samsudin juga menyampaikan baru setengah bulan bekerja di kapal ikan tersebut, sebagai penyambung jaring ikan. Saat ini, dia masih kebingungan mau bekerja di mana lagi.

"Saya baru kali ini bekerja di sini, buat cari pengalaman saja. Pagi tadi saya bantuin memadamkan kapal. Saat ini mau tidur di mana saya tidak tahu. Saya belum tahu mau ngapain. Saya masih menunggu kabar dari kantor, ini juga masih belum jelas," ujarnya.

"Harapan saya biar dapat kerjaan lagi, biar cepat melaut lagi dan ikut belayar. Biasanya, setiap tanggal 15 itu saya gajian, saya berkerja dalam sehari itu dibayar Rp 50 ribu. Karena sekarang kebakaran, saya tidak tahu tanggal 15 digaji apa tidak," ungkapnya dengan wajah murung.

(bulan/sumber: merdeka.com).