press enter to search

Jum'at, 20/07/2018 03:56 WIB

Tahun 2017, 240.000 Orang Pindah dari Australia

| Kamis, 12/07/2018 01:03 WIB
Tahun 2017, 240.000 Orang Pindah dari Australia Keluarga asal Indonesia, Didit, Fiska dan Delmar kini tinggal dan bekerja di Malaysia, namun telah menganggap Australia sebagai kampung halaman. (Kiriman/abc.net.au)

CANBERRA (aksi.id) - Tahun lalu, Didit Yudistira (39) meninggalkan Australia menuju Malaysia setelah beberapa tahun bekerja sabagai peneliti pada School of Electrical and Computer Engineering di RMIT University Melbourne.

"Pada Juni 2017 kami sekeluarga dalam proses mengurus tunjangan keluarga dan job opportunity dengan Centrelink," kata Didit.

Beberapa tahun sebelumnya, Didit dan istirnya Fiska Ananda serta anak mereka Delmar telah mendapatkan status penduduk tetap (permanent resident atau PR) di Australia.

Didit menghubungi Centrelink, lembaga pemerintah Australia yang menyalurkan tunjangan sosial, karena posisinya di kampus tidak diperpanjang. Otomatis dia harus mencari pekerjaan baru di bidangnya.

Didit meraih gelar PhD-nya dari ICFO Institute of Photonic Sciences Barcelona di Spanyol.

Bidang kepakarannya pun tidak sembarangan: Integrated Optics, Optoelectronics, Surface Acoustic Waves, Photonic Crystals, Lithium Niobate, Silicon Photonics, dan Microfluidic.

Berikut perbicangannya dengan wartawan ABC Farid M. Ibrahim:

Apa yang menjadi alasan utama meninggalkan Australia?

Lebih karena idealisme saya untuk berkarir di bidang R&D di industri. Ketersediaan posisi tersebut di Australia untuk bidang saya, photonics atau semikonduktor, relatif terbatas jika dibandingkan IT, pertambangan, perminyakan, keuangan dan jasa lainnya.

Bagaimana posisi Australia di bidang photonics? Bukannya justru semakin membutuhkan pakar di bidang ini?

Photonics sebagai riset di Australia bisa dikatakan cukup bersaing dibandingkan negara di Eropa atau Amerika. Ini bisa dilihat dari research output berupa publikasi internasional.

Tetapi photonics sebagai industri mungkin masih jauh tertinggal.

Hal ini bisa dimaklumi, karena industri photonics di dunia pun sebenarnya belum begitu marak jika dibandingkan industri sejenis seperti semikonduktor.

Meskipun begitu, di Australia industri semikonduktor yang menjadi penopang industri photonics pun relatif tidak begitu banyak.

Selain itu kebanyakan pakar di bidang ini mengisi posisi sebagai akademisi, pengajar dan peneliti.

Setelah segala kerepotan mengurus PR, apakah Didit tidak menyesal meninggalkan Australia?

Mungkin bukan menyesal. Tetapi, lebih karena merasa kehilangan "kehidupan" di Australia terutama Melbourne yang sangat kondusif untuk keluarga dengan segala memori dan persahabatan selamat 5 tahun kami tinggal di sana.

Dengan status PR, kami merasakan adanya ikatan emosional dengan Australia. Kami selalu merasa Indonesian sebagai negara kami, namun Australia sebagai kampung halaman.

Namun kami melihat status PR bukan sebagai alasan utama untuk tinggal di Australia.

Apakah Didit berencana untuk kembali ke Australia?

Tentunya kami berencana untuk mempertahankan status PR yang sudah kami miliki, dan suatu saat bisa kembali ke Australia.

Dibandingkan dengan Malaysia, bagaimana Didit melihat dan mengalami social security di Australia?

Social security di Australia sangat jauh lebih maju dibandingkan Malaysia. Bahkan, jika dibandingkan negara Eropa yang pernah saya tinggali, yaitu Belanda dan Perancis.

Saya kira social security di Australia jauh lebih bagus dan menyeluruh. Misalnya untuk childcare benefit, system online untuk semua aplikasi dan sangat transparan.

Ribuan orang tinggalkan Australia

Kasus yang dialami Didit Yudistira bukanlah satu-satunya. Data menunjukkan pada 2017 lebih dari 240 ribu orang meninggalkan negara ini.

Direktur Demografi Biro Statistik Australia (ABS) Anthony Grubb menyatakan peningkatan ini umumnya disebabkan oleh mahasiswa asing yang pulang ke negaranya.

Namun pakar demografi dari Macquarie University Profesor Nick Parr kepada ABC menjelaskan kemungkinan diperketatnya kriteria untuk menjadi penduduk tetap dari para pekerja temporer turut mendorong orang meninggalkan Australia.

Menurut Leanne Stevens dari Migration Institute of Australia, ketidakjelasan di tengah semakin ketatnya syarat menjadi PR, diperkirakan berdampak pada keputusan para pekerja ahli yang bekerja di Australia.

"Mereka yang bekerja di Australia dari negara dengan standar hidup setara dan memiliki pilihan mendapatkan pekerjaan bagus di negara lain, mungkin mereka tak menghendaki ketidakpastian mengenai status mereka di Australia," jelasnya.

Adapun Didit yang kini bekerja di sebuah perusahaan semi-konduktor di Penang, Malaysia, mengakui bahwa keputusan itu justru sebagai upaya mempersiapkan diri untuk suatu saat kembali ke Australia.

Dia memperkirakan Australia akan bergeser dari perekonomian berbasis bahan baku ke industri teknologi tinggi. Dan dia berharap bisa berkontribusi pada negara yang telah dianggapnya sebagai kampung halaman sendiri.

Sumber: abc.net.au