press enter to search

Selasa, 13/11/2018 11:22 WIB

Penyakit Kelamin Spilis Mewabah di Australia, Bayi Ikut Tewas

| Kamis, 12/07/2018 01:33 WIB
Penyakit Kelamin Spilis Mewabah di Australia, Bayi Ikut Tewas Tes darah dan pengobatan menggunakan pinisilin efektif untuk sipilis tetapi penyebarannya tidak terkendali di Queensland sekarang ini. (ABC News: Allyson Horn)

QUEENSLAND (aksi.id) - Penyakit ini pernah menjadi wabah yang menakutkan beberapa abad lalu, dan sekarang di Australia muncul lagi dan memakan korban bayi-bayi di negara bagian Queensland.

Dalam enam tahun terakhir, enam bayi meninggal karena sipilis, penyakit yang ditularkan lewat hubungan seksual yang sebenarnya hampir pernah punah di awal tahun 2000-an.

Di tahun 2008, dua kasus ditemukan di Queensland, dan sekarang 10 tahun kemudian, lebih dari 1100 kasus sudah tercatat diidap oleh warga di sana, dengan adanya tambahan 200 kasus baru setiap tahun.

Jumlah penderita terus meningkat, padahal obat yang tersedia yaitu penisilin, mudah didapat dan efektif untuk mematikan bakteri tersebut.

Dr Darren Russell yang bekerja di sebuah klinik di kota Cairns, sekitar 1680 km dari ibukota Queensland, Brisbane mengatakan situasinya sekarang boleh disebut `tidak terkendali` berkenaan dengan wabah sipilis.

"Jadi dari hampir musnah, sipilis ini sekarang menjadi salah satu epidemi terbesar dalam tahun-tahun terakhir." katanya.

"Di sini kita memiliki alat uji yang bagus, perawatan yang baik namun kita masih tidak berhasil mencegah penyebarannya."

"Saya prihatin ini masih terus menyebar."

Bagaimana bisa menyebar?

Wabah ini dimulai dari komunitas aborijin suku Doomadgee, di Gulf of Carpentaria, di tahun 2011 dengan munculnya beberapa kasus.

Saat itu, dana untuk jasa layanan kesehatan seksual di seluruh Queensland dipotong oleh pemerintah pimpinan Menteri Utama Campbell Newman, dan para pekerja kesehatan mengatakan kesempatan untuk menghilangkan sama sekali bakteri tersebut tidak dapat diwujudkan.

Jumlah kasus meningkat dengan cepat dan tidak bisa dikontrol karena kebiasaan warga aborijin yang melakukan banyak perjalanan, dan wabah ini kemudian menyebar di berbagai wilayah di Queensland, masuk ke negara bagian Northern Territory dan juga ke Ausrtalia Selatan dan Australia Barat.

Pekerja kesehatan mengatakan tindakan yang dilakukan untuk memberantas penyakit tersebut sudah beberapa tahun terlambat, hal yang juga diakui oleh Menteri Kesehatan Warga Aborijin Ken Wyatt.

Diperlukan waktu paling sedikit lima tahun sejak dimulainya wabah bagi pemerintah negara bagian dan pemerintah Federal Australia untuk memberikan dana khusus guna mengatasi wabah sipilis.

Di tahun 2016, pemerintahan Queensland dibawah Menteri Utama Anastasia Palaszczuk menjanjikan dana $AUD 15,7 juta bagi peningkatan kesadaran akan sipilis dan juga uji klinis.

Sekarang wabah ini sangat berbahaya bagi perempuan hamil, yang akan menularkan infeksi itu kepada bayi yang dikandungnya.

"Tingkat kematian bayi adalah 50 persen dalam situasi seperti ini." kata Dr Russell.

"Dan bila bayinya berhasil dilahirkan hidup, ada potensi masalah jangka panjang seperti kebutaan, tuli dan masalah kerusakan otak."

Tes darah untuk mengetahui adanya bakteri tersebut sangat dianjurkan, namun keberhasilannya tidaklah besar.

Menurut seorang pekerja kesehatan yang banyak menangani warga aborijin Neville Reys, tes darah dan kemudian pengobatan sering kali terhalang karena rasa malu dan stigma.

"Ini hampir seperti tabo dan warga tidaklah mau mengakui bahwa mereka mengidap sipilis ada faktor malu di sini." katanya.

"Sipilis bisa tidak terdeteksi selama enam bulan sebelum kita bisa melihat reaksinya, dan selama itu, seseorang bisa saja memiliki banyak perilaku seksual, sehingga wabah ini bisa menyebar dengan mudah."

Sumber: abc.net.au

Artikel Terkait :

-