press enter to search

Kamis, 20/09/2018 23:27 WIB

Komunikasi Politik Kelompok Melek Internet dan Milenial

Redaksi | Kamis, 12/07/2018 20:23 WIB
Komunikasi Politik Kelompok Melek Internet dan Milenial

JAKARTA (Aksi.id) - Komisi Pemilihan Umum (KPU) Kota Semarang, Jawa Tengah menetapkan Daftar Pemilih Tetap (DPT) pemilihan gubernur (Pilgub) Jawa Tengah 2018 untuk Kota Semarang sebesar 1.114.643 jiwa. Jumlah tersebut termasuk daftar pemilih pemula sebesar 1.503 jiwa.

Angka pemilih itu hampir 80 persen adalah mereka yang melek internet, apalagi generasi muda dan pemilih pemula. Penggunaan media digital smartphone sangat efektif dalam menjangkau kaum muda dan pemilih pemula—yang sering disebut sebagai generasi milenial.

Kelompok ini merupakan segmen masyarakat yang paling sulit untuk dilibatkan melalui strategi-strategi konvensional.

Konon, meski masih muda, generasi milenial berpotensi terserang demensia digital akibat tingginya interaksi dengan gadget dan smartphone. Demensia adalah gejala kelainan otak dan perilaku.

Muncul sejumlah anggapan, bahwa generasi milenial hanyalah sekumpulan generasi yang gila foto selfie tapi asosial, dan sulit menjadi agen perubahan.

Tidak adil bila menilai generasi ini hanya dari kacamata generasi tua, karena setiap generasi punya miliu, value, dan tuntutannya sendiri-sendiri. Ini penting kita pahami, sebab perbedaan generasi akan menjadikan pendekatan yang berbeda, termasuk dalam partisipasi politik.

CEB Iconoculture, sebuah lembaga riset dan layanan bisnis yang berdiri di New York, dalam laporannya tahun 2013 menguraikan perbedaan value yang digenggam masing-masing angkatan.

Pertama, mereka yang sudah kepala empat, atau berusia di atas 40 tahun, rata-rata menganggap tinggi terhadap nilai keadilan (justice), integritas (integrity), kekeluargaan (family), kepraktisan (practicality), dan kewajiban (duty).

Sementara itu, mereka yang kita sebut generasi milenial—pemiluh pemula ada di rentang usia ini—lebih memandang penting kebahagiaan (happiness), passion, keberagaman (diversity), berbagi (sharing), dan penemuan (discovery).

Maka, nilai yang berbeda ini membuat persepsi dan cara berpolitik yang khas anak muda. Apalagi, ke depan akan ada di antara generasi milenial ini yang menjadi pelaku-pelaku politik, baik sebagai pemilih, medioker, maupun politisi itu sendiri. Akan ada dari generasi mereka ini di masa depan yang mengisi ceruk-ceruk pemimpin di segala level.

Generasi milenial adalah mayoritas dalam angkatan kerja saat ini. Lalu apa yang terjadi jika mereka tidak diberi bekal optimal agar tongkat estafet kebaikan bisa tetap berpindah di ranah politik ini? Milenial itu bisa jadi anak-anak kita sendiri.

Ataupun anak-anak zaman yang memang dititipkan kepada kita agar dibimbing dan didukung untuk tetap jadi orang baik, termasuk dalam dunia politik.
Pendidikan politik, yang merupakan salah satu tugas utama dari Komisi Pemilihan Umum, perlu menyasar cara yang khas generasi milenial.

Bagaimana caranya?

Yaitu dengan memasuki budaya, nilai dan cara-cara yang biasa anak muda pakai. Metode sosialisasi, pesan dan tayangan kampanye, sampai cara mengajak mereka untuk aktif secara politik, baik sebagai aktor maupun agen penyelenggara.

Selain mekanisme teknis sosialisasi untuk menarik tingkat partisipasi, yang harus dipikirkan adalah konten atau isi dari sosialisasi politik itu. Bukan hanya meminta mereka datang ke bilik suara, paling penting adalah misi pendidikan politik.

Politik suatu pekerjaan yang mulia dan mendidik. Namun, hal itu bila tidak disalahgunakan seperti adanya black campaign atau negatif campaign. Semua pihak mustinya mewaspadai penyebaran hoax dan politik uang.

Dalam era demokrasi digital ini, yang harus diwaspadai berita palsu, hoax dan pesan yang membuat suasana politik tidak sehat. KPU yang sadar akan demokrasi digital akan terus menerus mengusahakan pemilih menjadi sosok rasional.

Pemilih yang baik dan rasional, bisa menentukan pilihan karena empat hal yakni, ideologis, sosiologis (terpenuhi dari segi ekonomi), prospektif (memiliki visi dan misi yang jelas), dan restroprektif (memiliki rekam jejak, baik atau buruk). Di titik inilah, kesadaran komunikasi dunia digital bagi penyelenggara pemilu menjadi sangat penting.

*Much Pudji Wibowo, anggota PPK Gunungpati, Kota Semarang/helmi

Keyword

Artikel Terkait :

-