press enter to search

Minggu, 16/12/2018 16:14 WIB

Di Tengah Cuaca Buruk, Nahkoda dan 12 ABK Bunga Hati 2 Dievakuasi dari Kapal Terbalik

| Minggu, 05/08/2018 22:37 WIB
Di Tengah Cuaca Buruk, Nahkoda dan 12 ABK Bunga Hati 2 Dievakuasi dari Kapal Terbalik

INDRAMAYU (aksi.id) – Sebanyak 13 kapal Bunga Hati 2 ditemukan selamat di gugusan pulau rakit perairan Sampit, Kalimantan Tengah.

Seluruh ABK itu berhasil di-intercept kapal SPOB Bahari Maju II yang melihat awak kapal mengapung di atas perahu terbalik.

Kepala Basarnas Bandung, Deden Ridwansyah mengatakan, 13 nelayan asal Indramayu yang sempat dinyatakan hilang akibat kecelakaan kapal terbalik, Jumat (3/8) berhasil dievakuasi oleh awak Kapal Bahari Maju II.

“Pagi hari kami mendapat informasi bahwa 13 ABK nelayan itu selamat. Saat ini kondisi mereka masih mendapat perawatan intensif di Sampit, Kalimantan Tengah,” katanya saat dikonfirmasi, Minggu (5/8).

Tim SAR Basarnas mendapat informasi dari pemilik Kapal Bahari Maju II melihat para ABK sedang melambaikan kain sambil berteriak meminta pertolongan. Tak pikir panjang, kapal tersebut memutar balik haluan untuk mengevakuasi korban.

Menurut informasi dari pemilik Kapal Bahari Maju II, evakuasi korban berlangsung dramatis karena cuaca buruk dengan ombak mencapai 3 meter. Tim Kapal Bahari Maju II berhati-hati menuju kapal terbalik yang ditumpaki 13 nelayan itu.

Saat kapal mendekati perahu nelayan, mesin kapal pun langsung dimatikan agar jaring-jaring nelayan tidak masuk ke kapal.

“13 ABK berhasil dievakusi dengan tali dan pelampung, selanjutnya dinaikkan ke kapal. Kecepatan angin saat itu mencapai 18 knot dari arah tenggara,” katanya.

Karena cuaca sedang tidak bersahabat, maka Kapal Bahari Maju II memilih tidak meneruskan perjalanan.

Pada pukul 08.30 seluruh ABK berhasil diselamatkan, kemudian pelayaran dilanjutkan menuju Sampit Kalimantan Tengah. Tidak mau menanggung risiko, Kapal Bahari Maju II pun memilih melanjutkan perjalanan ke Sampit, Kalimantan Tengah.

“13 nelayan itu sekarang masih mendapat perawatan intensif dan membutuhkan istirahat di Sampit,” katanya.

Deden pun mengatakan, saat mendapat informasi penyelamatan 13 nelayan tersebut, pihak Kapal Bahari Maju II kesulitan menghubungi pihak berwenang dengan menggunakan gelombang radio. Akan tetapi, karena kondisi cuaca buruk sinyal gelombang radio tidak terhubung.

“Kapal Bahari Maju II berusaha menghubungi Basarnas dan Pol Air, namun terhubung,” katanya.