press enter to search

Selasa, 25/09/2018 12:13 WIB

Tetap Shalat Saat Gempa, Imam Masjid di Denpasar Ini Mendunia

| Selasa, 07/08/2018 19:59 WIB

LOMBOK (aksi.id)  - Unggahan Facebook Live dari musala As-Syuhada, Denpasar, menjadi viral dan mendunia setelah seorang imam terlihat tetap melanjutkan ibadah salatnya saat terjadi gempa berkekuatan tujuh skala Richter di Lombok dan Bali, pada Minggu (5/8) malam.

Unggahan di akun Facebook musala tersebut sudah ditonton lebih dari 200.000 kali, disebar hampir 5.000 kali, dan mendapat hampir 9.000 tanggapan.

Video tersebut juga ikut disebarkan oleh ustaz Yusuf Mansur lewat akun Instagramnya, dan sudah ditonton lebih dari 400.000 kali dan mendapat lebih dari 4.000 komentar.

Menurut takmir musala As-Syuhada, Denpasar, Pungkasandi Putra, imam dalam video itu bernama Arafat.

"Dia tinggal di sekitar musala. Dia datang sesekali untuk salat wajib, dan kebetulan di musala kita tidak ada imam tetapnya. Jamaah itu pada dorong-dorongan menyuruh untuk maju jadi imam. Baru seminggu ini (jadi imam)," kata Pungkasandi.

Dalam video itu, posisi Pungkasandi berada di belakang mimbar.

"Sudah terasa seperti bangunan itu mau rubuh. Sebenarnya awal-awal merasakan gempa itu tidak terlalu kencang, jadi pas bacaan salat Al Fatihah di ujung mau `amin` itu baru agak keras. Setelah itu terasa goncangan gempa yang keras disertai bunyi-bunyi dari atap, kayu-kayu, plafon, genteng-genteng itu kayak mau jatuh. Baru pada lari," kata Pungkasandi.

Saat itu, menurutnya ada sekitar 35 orang yang beribadah di dalam masjid, namun saat gempa terjadi, hanya ada 10 orang yang bertahan dan melanjutkan ibadah mereka.

Menurut Pungkasandi, dia sempat bertanya pada Arafat, apa yang membuatnya terus melanjutkan ibadah.

Arafat, menurut Pungkasandi mengatakan, "Pertama, dia posisinya sebagai imam. Yang kedua, dia meyakini setiap muslim itu wajib jiwa dan raganya hanya untuk Allah. Padahal saya tanyakan, beliau seumur hidupnya belum pernah merasakan gempa sekeras itu. Bagi dia, masjid itu tempat terbaik untuk berlindung, jadi alasan itu yang membuat dia memutuskan tetap bertahan."

Sementara, mereka yang memutuskan untuk menyelamatkan diri, menurut Pungkasandi, meyakini hadis yang menyatakan boleh membatalkan salat jika ada bencana alam.

Namun, semenjak videonya menjadi viral, menurut Pungkasandi, Arafat belum kembali ke musala karena `takut ditemui media. "Takutnya riya, cuma kita nasihatin kan ini di luar dugaan kita juga," kata Pungkasandi.

Video Arafat yang bertahan di tengah gempa juga tersebar di media-media internasional, seperti The Guardian, Times of Israel, The Express Tribune di Pakistan, dan Kuwaiti Times.

Sebuah video lain yang beredar dan viral juga memperlihatkan jemaah di Masjid Agung Bangli, Bali, menyelamatkan diri saat gempa.

Jamaah yang terdiri dari satu baris menyelamatkan diri keluar masjid, kemudian terlihat atap masjid yang kemudian jatuh di bagian tempat jemaah sebelumnya berdiri. Video tersebut sudah ditonton lebih dari 350.000 kali.

Sementara itu, seorang warga berhasil diselamatkan dalam kondisi hidup setelah terhimpit lebih dari 15 jam di bawah reruntuhan bangunan masjid di Desa Lading-Lading, Lombok Utara, yang roboh akibat gempa, demikian menurut BNPB.

Pria itu terlihat menangis dan berucap "la ilaha illallah..." sesaat setelah tim penolong berhasil mengeluarkannya dari reruntuhan masjid.

(via/sumber: BBC Indonesia).