press enter to search

Minggu, 21/07/2019 11:56 WIB

Penembakan Massal di Florida, 4 Tewas & 11 Luka

| Senin, 27/08/2018 05:13 WIB
Penembakan Massal di Florida, 4 Tewas & 11 Luka Keluarga korban penembakan yang sebelumnya terjadi satu SMA di Florida pada 14 Februati 2018

FLORIDA (aksi.id) - Drini Gjoka mengaku sangat beruntung. Tangannya hanya terluka terserempet peluru yang dimuntahkan seseorang di lomba video game di Jacksonville, Florida, Amerika Serikat, hari Minggu (26/08).

"Ini hari paling buruk dalam hidup saya ... tapi saya sangat beruntung," kata Gjoka dalam pesan di akun Twitternya.

Ia mengatakan insiden ini mengubah cara pandang dirinya tentang kehidupan.

"Nyawa bisa hilang hanya dalam hitungan detik," kata Gjoka.

Ia menyelamatkan diri dan kemudian berlari menuju pusat kebugaran di dekat arena lomba.

Beberapa lainnya tak seberuntung Djoka. Mereka tewas dalam penembakan massal yang dilakukan seorang laki-laki berkulit putih di acara lomba video game.

"Sejumlah orang tewas di lokasi kejadian," kata kepolisian Jacksonville.

Aparat keamanan meminta semua orang untuk menghindari lokasi penembakan.

Seruan pembatasan hak memiliki senjata

Surat kabar The Miami Herald memberitakan empat orang tewas dan 11 lainnya luka-luka. Para korban luka tengah menjalani perawatan di rumah sakit.

Lokasi penembakanHak atas foto GLHF GAME BAR
Penembakan terjadi di restoran yang menggelar acara lomba video game.

Salah seorang peserta lomba, Steven Javaruski, kepada LA Times mengatakan tersangka pelaku adalah peserta lomba yang kalah.

Ia diduga bunuh diri setelah mengeluarkan tembakan.

Rekaman video di media sosial yang diambil dari siaran langsung lomba video game menunjukkan ada beberapa bunyi tembakan sebelum siaran langsung diputus.

Ini untuk kesekian kalinya terjadi insiden penembakan massal di Amerika Serikat.

Februari lalu, penembakan massal di satu sekolah di Parkland, Florida, menewaskan 17 siswa dan guru, 17 lainnya luka-luka.

Delaney Tarr, salah satu siswa di sekolah ini mengatakan, "Sekali lagi, hati saya hancur dan insiden ini membuat saya marah. Kita tak bisa menerima ini sebagai realitas."

Beberapa siswa di sekolah ini mendirikan gerakan yang mendesak pemerintah membatasi kepemilikan senjata api.

(via/sumber: BBC Indonesia).