press enter to search

Selasa, 25/09/2018 12:42 WIB

Anwar Nasution: Fundamental Ekonomi Indonesia Lemah Sekali, Bohong Kalau Dibilang Kuat

| Sabtu, 08/09/2018 22:06 WIB
Anwar Nasution: Fundamental Ekonomi Indonesia Lemah Sekali, Bohong Kalau Dibilang Kuat

JAKARTA (aksi.id) - Ekonom senior yang juga mantan Depuri Gubernur Bank Indonesia (BI) Anwar Nasution menilai sikap pemerintah yang kerap kali menyebut fundamental ekonomi Indonesia cukup kuat menahan gejolak eksternal dianggap hanya bualan belaka.

Nilai tukar rupiah yang cukup rentan bahkan hampir menembus level Rp 15.000/US$ jadi salah satu indikator bahwa fundamental ekonomi tersebut belum kuat. 

"Fundamental ekonomi kita lemah sekali. Bohong pemerintah katakan fundamental kuat. Omong kosong itu," kata Anwar dalam sebuah diskusi, Sabtu (8/9/2018).

Selain itu, indikator yang mencerminkan fundamental ekonomi Indonesia lemah, adalah dari sisi rasio penerimaan pajak atau tax ratio Indonesia terhadap produk domestik bruto (PDB) yang relatif rendah.

"Tax ratio hanya 10%. Kita sudah 73 tahun merdeka, kapan merdekanya? Utang melulu, minta sedekah melulu. Jadi tangan di bawah. Harus menutup defisit APBN dan neraca pembayaran," katanya.

Hal tersebut, kata Anwar, hanya satu dari beberapa masalah fundamental yang masih dialami Indonesia. Ekspor nasional yang tidak bergairah, juga menjadi penyebab nilai tukar rupiah cukup rentan.

Lantas, Anwar menyebut ekonomi Indonesia saat ini sedang sakit panas. "Sama seperti sakit panas, temperatur hampir 40 derajat celcius. Obat paling ampuh bukan lagi Panadol, bukan lagi Tolak Angin, tapi anti biotik yang paling kuat supaya turun," katanya.

"Dipaksa itu para eksportir sementara di Indonesia, supaya rupiah mereda. Baru secara perlahan, ekspor juga ditingkatkan," ungkap mantan Ketua Badan Pemeirksa Keuangan (BPK) itu.

Ia menilai, rasio penerimaan pajak terhadap produk domestik bruto (PDB) yang masih rendah, membuat Indonesia cukup rentan.

Pemerintah harus terus menerus menerbitkan utang untuk menutup defisit kas keuanga negara, karena penerimaan pajak tak pernah mencapai target. Setidaknya, sejak 2008 silam.

Lantas, masalahnya dimana? Porsi kepemilikan asing terhadap surat utang Indonesia saat ini hampir 40%. Tingginya kepemilikan asing terhadap obligasi negara, pun menyebabkan Indonesia rentan terhadap gejolak.

Misalnya, ketika kenaikan suku bunga di negara maju naik. Para investor asing bisa saja mengalihkan dananya dari indonesia ke negara maju, karena negara tersebut memiliki instrumen yang lebih menarik.

Maka dari itu, optimalisasi penerimaan pajak menjadi harga yang tidak bisa ditawar-tawar lagi agar Indonesia tidak terlalu rentan, ketika situasi ekonomi dunia berubah.

Mantan Ketua Badan Pemeriksa Keuangan itu pun meminta Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati untuk mengawasi betul-betul penerimaan pajak yang selama ini tidak pernah mencapai target.

"Suruh Sri Mulyani audit pajak. Siapa yang enggak bayar pajak, masuk penjara. Pemerintah harus tegas," kata Anwar.

"Lihat Singapura, punya uang satu sen pun orang kena pajak. Kalau tidak, masuk penjara. Ini negara apa? Kau malah kasih amnesti pajak," tegasnya.

Menurut Anwar, kas keuangan negara yang surplus akan membuat Indonesia tahan terhadap gejolak ekonomi global. Alasannya, pemerintah tak perlu lagi bergantung pada pembiayaan dari luar negeri.

"Kita harus punya surplus anggaran. Itu yang tidak ada sekarang," tegas Anwar.

Keyword Anwar Nasution