press enter to search

Selasa, 25/09/2018 11:48 WIB

Kisah Malana, Desa di Pegunungan Himalaya yang Diselimuti Mitos

| Selasa, 11/09/2018 01:57 WIB

HIMACHAL PRADESH (aksi.id) - Lembah Parvati di India terkenaldi kalangan wisatawan karena pesta-pesta psikedelik dan mabuk hasis itu asal muasalnya dari desa tua Malana di wilayah Himachal Pradesh, India Utara.

Tetapi jika Anda memandang menembus kabut, Anda akan menemukan harta karun berupa legenda, intrik dan aneka pertanyaan yang tidak terjawab.

Teronggok di sekitar pegunungan Himalaya, dikelilingi tebing-tebing nan curam dan pegunungan yang selalu diselimuti salju.

Para wisatawan telah lama tertarik terhadap desa yang berpenduduk sekitar 1.700 jiwa itu, yang menghabiskan waktu di tengah kepungan angin dingin yang menggigit tanpa henti dan dipagari deretan pohon deodar yang gelap kehijauan.

Di sanalah, para pengelana dapat mengkonsumsi apa yang oleh penduduk setempat dianggap sebagai tanaman rempah suci dan orang luar memandangnya sebagai cara membebaskan pikiran: krim Malana yang termasyhur.

Getah ganja atau hasis ini amat terkenal, baik karena teknik menggosoknya dengan tangan dan efek memabukkan, yang katanya, sangat luar biasa. Tetapi saya datang ke Malana untuk mencoba memahami mitos-mitos yang melingkupi desa itu.

MalanaHak atas foto MYLOUPE/UNIVERSAL IMAGES GROUP VIA GETTY IMAGES
Desa tua Malana di Himachal Pradesh, India, bagi orang luar terkenal karena hasisnya.

Menurut legenda, sejumlah pasukan Iskandar Agung membangun tempat perlindungan di desa yang terkucil ini pada 326 Sebelum Masehi, sesudah terluka akibat perang melawan Porus, pemimpin di wilayah Punjab, India.

Para serdadu ini sering disebut-sebut sebagai leluhur orang-orang Malana. Artefak-artefak dari masa itu ditemukan di desa tersebut, seperti sebilah pedang yang dilaporkan ditemukan di dalam kuil.

Meski begitu, hubungan genetik dengan para serdadu Iskandar Agung itu belum pernah diteliti atau ditemukan. Faktanya, banyak penduduk lokal yang saya temui tidak mengerti dari mana mitos itu berasal.

"Klaim orang Malana merupakan keturunan serdadu Iskandar Agung telah menjadi kebenaran yang diterima secara luas, tetapi saya tidak menemukan apapun yang mendukung hal tersebut.

"Memang ada beberapa senjata dan benda-benda lain ditemukan yang dapat memperkuat hubungan itu, tetapi saya yakin tidak ada bukti untuk kisah ini," ungkap Amlan Datta, seorang pembuat film yang sudah menghabiskan satu dekade di Malana.

Tetapi teori-teori itu dipicu oleh ciri-ciri fisik yang nyata dan berbeda dari bahasa setempat, yang tidak seperti suku lokal lain, menambah teka-teki seputar orang-orang Malana dan identitas mereka.

Mereka berbicara dalam bahasa Kanashi, yang dianggap suci dan tidak diajarkan kepada orang asing. Juga tidak digunakan di bagian lain di dunia.

Selama mengunjungi desa itu, saya menyebut beberapa orang laki-laki yang saya temui sebagai `Bhaiji` (cara sopan untuk menyebut saudara laki-laki), yang merupakan cara yang cukup umum untuk menyebut laki-laki di Himachal.

Meskipun penduduk lokal memahami ketika saya berbicara dengan bahasa Hindi dengan mereka, jawaban mereka yang menggunakan bahasa Kanashi tidak dapat saya mengerti.

MalanaHak atas foto WIKIPEDIA
Penduduk Malana konon merupakan keturunan pasukan Iskandar Agung.

Sebuah penelitian tentang bahasa Kanashi sekarang sedang berlangsung di Uppsala University, Swedia, dipimpin oleh profesor linguistik, Anju Saxena.

"Bahasa Kanashi memenuhi syarat sebagai bahasa lisan dan hampir tidak terdefinisikan, yang terancam punah," kata Saxena pada saya.

"Bahasa itu milik keluarga bahasa Sino-Tibetan, dan semua desa-desa di sekitarnya, bahasa Indo-Aryan diucapkan, yang sama sekali tidak terkait dengan bahasa Kanashi. Hal ini menimbulkan pertanyaan menarik tentang struktur prasejarah dan linguistiknya."

Bahkan menuju Malana merupakan perjalanan ke tempat yang asing. Tidak ada jalan desa yang dapat dilewati kendaraan bermotor, dan saya menghabiskan waktu sekitar empat jam untuk menuju ke sana dari desa Jari di dasar Parvati Valley.

Jalannya sangat curam, tetapi panoramanya mengagumkan. Tidak lama kemudian saya bertemu orang Malani - ditandai rambut dan mata mereka yang berwarna coklat terang, hidung mancung dan kulit yang berwarna coklat gandum atau coklat keemasan - kebanyakan mereka mengenakan jubah tradisional berwarna coklat terang, topi dan sepatu rami.

Bagi saya mereka lebih mirip orang-orang Mediterania ketimbang Himachali.

 

MalanaHak atas foto MYLOUPE/UNIVERSAL IMAGES GROUP VIA GETTY IMAGES
Orang-orang Malana berbicara dengan bahasa Kanashi, sebuah bahasa yang dianggap suci dan tidak digunakan di tempat lain mana pun di dunia.

Ketika saya memasuki desa, saya mendatangi sekelompok remaja yang dengan santai menawarkan apakah saya mau membeli hasis.

Meski ganja telah lama menjadi tulang punggung perekonomian desa kecil ini, ganja telah menimbulkan persoalan sosial-budaya.

Mungkin karena itulah, setahun silam, petinggi desa Jamdagni ishi - yang secara lokal dijuluki Jamlu Devta dan merupakan orang bijak dalam mitologi Hindu - mengharuskan semua penginapan di seluruh desa harus tutup, dan desa hanya terbuka bagi orang luar di siang hari saja.

Jamlu Devta merupakan sosok pemimpin penting dalam pemerintahan desa, yang membuat bingung para peneliti dan pendatang yang tidak dapat memahami bagaimana bentuk pemerintahan yang begitu maju bisa hadir di wilayah pedesaan Himalaya yang terpencil.

Sistem demokrasi Malana yang unik konon merupakan salah satu yang tertua di dunia, dan mirip dengan sistem demokrasi Yunani Kuno, terdiri dari majelis rendah dan majelis tinggi.

Walaupun demikian, lembaga itu memiliki sentuhan spiritual yang unik: keputusan akhir berada di pengadilan tinggi, termasuk tiga tokoh penting, yang salah satunya adalah perwakilan lokal, Jamlu Devta.

"Devta adalah kata terakhir, dan kami memiliki susunan dewan dan tiga tokoh politik, salah satu dari mereka - Gur, atau posisi yang dimiliki oleh Jamlu - mengkomunikasikan kepada kami keputusan Jamlu Devta," jelas Rohan, salah satu remaja penjual hasis.

 

MalanaHak atas foto COMMONS.WIKIMEDIA.ORG
Tidak ada jalan desa yang dapat dilewati kendaraan bermotor, dan saya menghabiskan waktu sekitar empat jam untuk menuju ke sana dari desa Jari di dasar Parvati Valley, kata penulis.

Datta mengisahkan kepada saya perihal legenda lokal yang menyebutkan bahwa Jamlu Devta pernah mendiami Malana, setelah menerima anugerah dewa Hindu, Siwa.

Ada dua kuil di desa, satu diperuntukkan untuk dirinya dan lainnya untuk sang istri, Renuka Devi.

Ketika saya berjalan melewati jalanan sepi di desa kuno ini, yang dihiasi rumah-rumah kayu dan batu bata, saya memasuki sebuah halaman luas, tempat di mana majelis rendah berkumpul, dan sebuah kuil yang dipersembahkan untuk Jamlu Devta.

Pemandangan itu berlatar belakang gunung-gunung yang tertutup salju.

Kuil itu, dengan pilar-pilar kayu nan lebar, pintu-pintu rumit dan tulang-belulang, tengkorak dan bagian tubuh binatang kurban ditempel di dinding tampak menarik. Tetapi ada tanda peringatan di luar bahwa Anda akan menerima denda 3.500 Rupee India `apabila menyentuh tempat suci Jamdagni Rishi`.

Tanda ini merupakan petunjuk untuk memperlihatkan tradisi yang sangat mencolok di Malana: sebuah upaya untuk menjaga `kemurnian` desa.

 

MalanaHak atas foto YOUTUBE
Bagi penulis, warga Malana lebih mirip orang-orang Mediterania ketimbang Himachali, India.

 

Orang-orang di seluruh Himachal Pradesh akan menceritakan pada Anda bahwa orang-orang Malana dikenal sangat ketat dalam berhubungan dengan orang asing, terutama dalam kontak fisik secara langsung.

Saya sendiri sudah diperingatkan agar dapat menjaga jarak dengan warga setempat, seperti diutarakan supir yang membawa saya dari Jari tadi pagi.

Kendatipun saya melihat sejumlah generasi yang lebih muda saling berpelukan atau bersalaman, kebanyakan orang di sini masih berpengangan kuat bahwa menyentuh orang asing adalah tabu.

Ketika saya membayar sebotol air minum, pemilik toko meminta saya meninggalkan uang di meja, dan bukannya memberikannya pada dia secara langsung.

Saya juga belajar bahwa pernikahan harus berlangsung di desa; pelanggaran dapat menyebabkan pengucilan sosial.

Karena sangat menyadari bahwa orang asing tidak diterima di sini, saya merasa seperti penyusup karena saya terus menyelidiki mereka untuk mencari lebih banyak informasi tentang desa ini.

MalanaHak atas foto WEAREHIMACHALI
Getah ganja atau hasis ini amat terkenal, baik karena teknik menggosoknya dengan tangan dan efek memabukkan, yang katanya, sangat luar biasa.

Pada umumnya orang-orang Himachali sangat hangat dan ramah, dan mereka senang berbagi cerita dan makanan kepada para pengunjung; sebaliknya di Malana percakapan panjang dengan penduduk lokal sangat jarang terjadi.

Menuruni bukit dan kembali dari dunia lain ini, membuat saya menyadari posisi saya sebagai pelancong yang akan tetap menjadi orang asing di desa misterius di Himalaya.

Tidak peduli apakah saya suka atau tidak, penduduk lokal tidak akan membawa saya masuk, dan saya harus menghormati budaya mereka.

Tetapi saat ini, beberapa pekan kemudian, saya melacak kembali upaya pencarian saya dalam mengungkap ihwal legenda Malana, saya telah tiba pada pemahaman bahwa keindahan pengalaman saya justru berdasarkan pada misteri yang tidak diketahui itu.

Menghormati Malana akhirnya membawa saya sampai pada tingkat apresiasi terdalam tentang dunia yang asing, kawasan pegunungan yang selalu dingin, serta orang-orangnya yang diselimuti teka-teki.

Sumber: BBC Indonesia.

 

Keyword Himalaya