press enter to search

Selasa, 13/11/2018 11:45 WIB

KRI Rencong Terbakar di Perairan Sorong

| Selasa, 11/09/2018 17:26 WIB
KRI Rencong Terbakar di Perairan Sorong KRI Rencong nomor lambung 622 terbakar hebat hingga tenggelam di perairan Pulau Senapan, Sorong, Papua Barat, Selasa (11/9/2018). (Foto: iNews.id/Chanry Andrew Suripatty)

BEKASI (aksi.id) - Kapal KRI Rencong dengan nomor lambung 622 yang sedang melakukan patroli terbakar dan tenggelam di sekitar perairan Pulau Senapan Kota Sorong, Papua Barat, Selasa (11/9/2018). 

Sebanyak 37 personel termasuk komandan KRI dilaporkan selamat dalam peristiwa tersebut. Iinformasi yang diperoleh iNews, posisi KRI Rencong yang terbakar dan tenggelam berada di koordinat  00 52` 028" s - 131 03` 973"e dengan jarak kurang lebih 8 mil dari Kota Sorong, Papua Barat.

Dari video amatir yang didapatkan iNews, KRI Rencong terbakar sekitar pukul 08.15 WIT. Berselang 5 jam kemudian, kapal tersebut akhirnya tenggelam tepatnya pukul 12.45 WIT.

Sebelum tenggelam, kru KRI Rencong sudah meminta bantuan ke kapal-kapal lain yang sedang berlayar di sekitar lokasi termasuk kapal nelayan yang dilengkapi dengan water cannon. Namun, kobaran api yang sudah membesar membuat upaya pemadaman sulit dilakukan. Kapal tersebut akhirnya tenggelam.

Informasi dari kru KRI Rencong Mayor Djoko, KRI Rencong Lantamal XIV ini mengalami kebakaran. Dia kemudian meminta bantuan kapal lain. Posisi kapal tersebut berjarak sekitar 8 mil dari Kota Sorong. 

Kepala Kantor SAR Sorong, Emy Freezer  mengatakan, setelah mendapat laporan KRI Rencong Lantamal XIV terbakar, Lantamal XIV langsung berkoordinasi dengan sejumlah pihak terkait untuk membantu pemadaman dan evakuasi kru kapal. 

“Kami dapat informasi dari masyarakat bahwa KRI Rencong terbakar pukul 08.15 WIT. Kami langsung berkoordinasi dengan Kepala KSOP Sorong. Pukul 09.11 WIT, tug boat Pertamina bergerak ke lokasi kejadian,” katanya, Selasa (11/9/2018).

Setelah itu, kata dia, disusul tim SAR Baladewa bergerak ke lokasi. Namun, mereka disarankan tidak mendekat ke lokasi kapal oleh Kapal Wayag karena masih banyak amunisi di KRI Rencong. Tim SAR kemudian ikut membantu menginformasikan kepada perahu-perahu nelayan untuk tidak melintas di jalur KRI.

Dia menjelaskan, upaya pemadaman api melibatkan sejumlah unsur di antaranya kru Kapal Baladewa 12 personel, Rescuer Kantor SAR Sorong, Polairud Sorong, Lantamal XIV, dan Kapal Pelikan Mabes Polri. “Tim SAR gabungan ini kemudian mengevakuasi 38 personel KRi Rencong yang terbakar,” ucapnya.

KRU SELAMAT

Menurut Kepala Subdinas Penerangan Umum Dinas Penerangan TNI AL Kolonel Khusus Heddy Sakti, kapal sudah tidak dapat dipertahankan lagi serta seluruh personel di KRI Rencong-622 diperintahkan meninggalkan kapal.

Di dalam tradisi angkatan laut, kata dia, perintah itu dinamakan "peran peninggalan" adalah "peran" alias perintah tindakan aksi dari komandan kapal yang paling akhir dikeluarkan jika suatu kapal perang ada dalam keadaan sangat kritis dan tidak bisa dipertahankan lagi keberadaannya.

Mereka dapat meninggalkan kapal dalam keadaan aman dan selamat serta saat ini sudah dievakuasi ke Markas Komando Armada III TNI AL Sorong.

Hingga berita ini diturunkan, penyebab kebakaran masih belum diketahui sehingga akan dibentuk Tim Penyidik TNI AL untuk penyelidikan lebih lanjut.

"Apabila ada perkembangan dari berita ini akan disampaikan lebih lanjut dalam keterangan pers Dinas Penerangan TNI AL," katanya.

KRI Rencong-622 ada di kelas kapal cepat berpeluru kendali. Kapal perang ini dibuat di galangan kapal Tacoma SY, Masan, Korea Selatan, pada 1979.

Saat musibah terjadi, dia ada di sana dalam penugasan di bawah kendali Gugus Keamanan Laut Komando Armada III TNI AL itu.

Kapal lain dalam kelas yang sama adalah KRI Mandau-621, KRI Badik-623, dan KRI Keris-624. Cikal bakal kapal perang ini berasal dari rancang-bangun kapal patroli kelas Dagger/Ashville, buatan Amerika Serikat.

Kapal dengan bodi dari alumunium itu--bobotnya ringan dan lincah--digerakkan mesin gas turbin General Electric LM 1.500 selain dua mesin diesel untuk kecepatan rendah.

Jika semua sistem propulsi ini dioperasikan, kapal itu bisa mencapai kecepatan 40 knot (setara 74,08 kilometer per jam untuk wahana darat).

Yang menarik dari kapal perang yang dirancang-bangun dan dioperasikan pada masa Perang Dingin ini adalah kehadiran empat peluru kendali permukaan-ke-permukaan atau permukaan-ke-udara MM-38 Exocet buatan Aeropastiale, Prancis, yang legendaris. Perang Falkland menjadi kampanye efektif bagi MM-38 Exocet.

Sejak ada kerja sama alih teknologi dengan Tiongkok, kehadiran peluru kendali yang sudah terbukti itu digantikan peluru kendali C-802 buatan SACCADE, Tiongkok.

Kapal perang ini juga dilengkapi sistem pertahanan titik meriam Bofors 40/70 dan 57/70 mm buatan Bofors/Saab, Swedia, pemandu tembakan Signaal WM28, kanon penangkis serangan udara Rheinmetall 20 mm, dan kapal ini mampu membawa satu helikopter.

Di ruang sistem manajemen tempurnya, terdapat sistem radar MR-302/Strut Curve untuk memandu tembakan sistem pertahanan MR-123 Vympel/Muff Cob.

(dien/sumber: inews.id dan antaranews.xom).