press enter to search

Rabu, 14/11/2018 04:01 WIB

Tabung Berputar di Pembatas Jalan Alternatif Cegah Kendaraan Masuk Jurang

| Sabtu, 15/09/2018 07:09 WIB
Tabung Berputar di Pembatas Jalan Alternatif Cegah Kendaraan Masuk Jurang

BANDUNG (aksi.id) - Gubernur Jawa Barat Ridwan Kamil mencetuskan solusi penggunaan teknologi untuk mengurangi kecelakaan lalu lintas.

Dalam unggahan di akun media sosial, Ridwan mengungkap Jawa Barat bakal menggunakan pagar pembatas jurang dengan tabung berputar yang bernama Roller System.

Roller System merupakan produk buatan Evolution in Traffic Innovation (ETI) asal Korea Selatan. Teknologi ini diklaim punya kemampuan lebih bagus menyerap energi tumbukan dibanding pembatas jalan model lain.

Silinder di bagian tengah akan berputar ketika mengalami tumbukan kendaraan. Saat terjadi tabrakan, silinder yang dijelaskan dalam situs resmi ETI tidak pernah rusak itu mengubah tumbukan frontal menjadi rotasi. Akibatnya, efek tumbukan kendaraan berkurang hingga bisa mengurangi potensi kehilangan nyawa. 

Menurut Ridwan, jalan besar antarkota dan antarprovinsi yang berliku banyak melewati jurang. Roller System memang biasanya digunakan di pinggir jalan tepi jurang atau di tengah pembagi jalan. 

"Road Barrier dengan teknologi silinder putar ini secepatnya kita terapkan. Semoga jalanan Jawa Barat lebih aman. Tapi tetep jangan ngebut, lengkapi keamanan mobil, pakeseatbelt  dll. INGAT keluarga anda setiap hari menunggu anda pulang dengan selamat di rumah. Aamiin," tulis Ridwan dalam unggahannya yang lain.

Roller System sudah lolos uji pengetesan di Korea Selatan. Setiap silinder yang bentuknya seperti botol minuman ukuran galon bisa diganti bila rusak, hal itu poin positif dalam hal perawatan.

RESPON KEMENHUB

Kementerian Perhubungan (Kemenhub) mengaku tertarik dengan ide Gubernur Jawa Barat Ridwan Kamil tentang penggunaan tabung pembatas jalan atau Roller System. Perangkat keselamatan itu berguna mengurangi dampak potensi kecelakaan dan mencegah kendaraan terjun ke jurang.

Direktur Jenderal Perhubungan Darat Kemenhub Budi Setiyadi menjelaskan pembatas jalan berteknologi Korea Selatan itu rencananya akan dipasang di sejumlah jalan nasional atau penghubung antar provinsi yang mempunyai jalur berbahaya. Realisasinya dikatakan paling cepat pada tahun depan.

"Kalau memang itu bagus ya kenapa tidak. Kan teknologi itu terus berkembang terus ya. Dari mulai pakai pelat baja, dan sekarang ada kawat, terus teknologi yang sekarang (Roller System) mungkin ini," ungkap dia.

Prioritas pada tahap pertama nanti, Budi menyampaikan, pemasangan perangkat tersebut diarahkan ke jalan nasional yang rawan kecelakaan. Misalnya di jalan-jalan yang memiliki kontur curam, berliku, hingga diapit jurang.

"Jalan nasional banyak yang seperti itu. Kalau jalan tol belum dulu karena kan lurus itu, lagipula pengamannya sudah ada, dari pembatas jalan yang baja sampai parit untuk cegah mobil keluar jalur," ucap dia.

Budi melanjutkan bahwa pihaknya ingin mengundang pembuat Roller System. Kemenhub ingin mengetahui detail pasti dari teknologi tersebut, manfaat, hingga material apa yang digunakan oleh pembuatnya.

KECELAKAAN MENONJOL

Edo Rusyanto, pengamat transportasi dan keselamatan jalan raya, mengatakan, upaya pemerintah menciptakan fitur-fitur meningkatkan keselamatan bagi pengguna jalan mutlak didukung. 

Edo menilai tabung berputar sebagai pembatas jalan logis dikaitkan dengan kondisi jalan berkelok, menanjak, dan menurun yang banyak dijumpai di sejumlah kawasan pegunungan Jawa Barat.

Catatan Edo ada empat kecelakaan bus yang menonjol di Jawa Barat selama 2012 - 2018. Pada 1 Februari 2012 terjadi kecelakaan bus di Jalan Raya Malangbong, Sumedang yang menyebabkan 12 tewas dan 19 luka-luka. Pada 2013 terjadi kecelakaan bus lagi di Ciloto, Cianjur dengan jumlah 17 korban jiwa dan puluhan luka. 

Pada tahun ini ada dua kecelakaan bus yang sangat menarik perhatian, yaitu terjadi di Emen, Subang pada 10 Februari dengan catatan korban 27 tewas dan terkini kecelakaan bus di Cikidang, Sukabumi yang merenggut 21 korban jiwa serta belasan luka pada 8 September.

"Kecelakaan-kecelakaan fatal tadi tentu perlu diantisipasi oleh segenap pemangku kepentingan keselamatan jalan. Jika Pemerintah Provinsi Jawa Barat hendak menerapkan rolling barrier system, itu merupakan satu dari banyak aspek yang perlu terus kita tingkatkan," kata Edo.

Komentar sehat lainnya datang dari Jusri Pulubuhu Training Director Jakarta Defensive Driving Consulting. Dia mengatakan ide memasang komponen keselamatan seperti itu di titik berbahaya merupakan ide inovatif dari petinggi.

"Saya setuju. Pembatas seperti itu sudah seharusnya jadi perhatian Indonesia karena sudah termasuk dalam negara dengan tingkat kecelakaan lalu lintas yang tinggi," ucap Jusri.

Selain bisa mengurangi tumbukan kendaraan karena tabung berputar mengubah energi hantam menjadi rotasi, pembatas dengan warna cerah seperti ditunjukan dalam unggahan Ridwan dikatakan bisa meningkatkan perhatian pengguna jalan saat melintas.

Jusri menilai sejak unggahan itu muncul ada sebagian masyarakat yang melempar kritikan. Salah satunya tentang potensi kecelakaan lain setelah kendaraan menabrak pembatas jalan tabung putar.

Ilustrasi seperti itu dikatakan Jusri sebagai kondisi ekstrem yang bisa kejadian namun jarang. Saat kendaraan menabrak pembatas jalan tabung putar energi hantam sudah berkurang banyak.

Bila nantinya kendaraan itu menyebabkan kecelakaan lain, momentum yang dibawa dianggap tidak menyebabkan kerusakan lebih parah.


"Kalau bisa gerakan seperti ini dicontoh pemprov lain, jangan diinisiasi nasional karena tingkat pencapaiannya susah dimonitor. Lebih bagus memang inisiasi daerah," kata Jusri.

Jusri merasa bila Jawa Barat akhirnya memasang pembatas jalan tabung putar maka menjadi pemprov pertama di Indonesia yang menggunakannya.

"Saya mendukung sekali. Penemuan alat itu sebenarnya sudah lama, tapi kok belum digunakan di Indonesia. Mungkin Jabar akan jadi yang pertama karena saya belum pernah dengar sebelumnya," kata Jusri.

(della/sumber: cnnindonesia.com).