press enter to search

Sabtu, 15/12/2018 13:39 WIB

Kisah Guru Honorer Jadi Pengamen di Akhir Pekan

Redaksi | Jum'at, 21/09/2018 11:06 WIB
Kisah Guru Honorer Jadi Pengamen di Akhir Pekan

JAKARTA (aksi.id) - Di alinea ke-4 isi pembukaan UUD 45, berbunyi bahwa salah satu tugas negara adalah mencerdaskan kehidupan bangsa. Tentu ini menjadi hal yang mustahil terjadi tanpa pejuang pendidikan, yaitu guru. Guru ibarat pencetak seluruh profesi di suatu negara. Bahkan jika tidak ada guru, tidak mungkin lahir seorang insinyur, polisi, dokter, pengacara, dan profesi-profesi lainnya.

Di negara kita, tidak semua guru dapat menikmati hidup layak. Seperti kita tahu, besaran gaji guru honorer jauh di bawah guru yang sudah menjadi PNS (Pegawai Negeri Sipil). Inilah masalah besar bangsa. Guru yang sama-sama ikut mencerdaskan siswa, mendapatkan gaji yang jauh dari kata layak.

Salah satu kisah miris guru honorer terjadi di daerah Bogor. Adalah Igo Riyanto, pria berusia 46 tahun itu sudah mengabdi sebagai guru honorer 26 tahun lamanya di SMP Negeri 1 Cigombong, Kabupaten Bogor

`Pak Igo’ sapaannya, mengaku sudah menjadi pengajar honorer ketika rambutnya masih belum memutih.

Dikarenakan upah guru honorer tak cukup memenuhi kebutuhan keluarganya, bapak empat anak ini harus memutar otak. Pak Igo pun terpaksa bekerja sampingan di hari libur.

"Upah tiap sekolah beda ya, tapi kalau SMP biasanya per jam, 1 jam mengajarnya itu dibayar Rp 35 ribu, jadi kalau saya ngajar 20 jam itu kisaran Rp 700 ribu per bulan, jauh sekali dari UMR,” tutur guru pelajaran PPKN tersebut.

Untuk menutupi kurangnya pendapatan sebagai guru honorer, Pak Igo mengaku kerap menjadi pengamen organ tunggal keliling di hari Sabtu dan Minggu.

“Untuk menutupi kekurangan itu, paling saya ngamen, organ tunggal, dari hajatan ke hajatan, panggung ke panggung,”ujar Igo.

Selain Pak Igo, di luar sana masih banyak guru honorer yang hidup dengan segala keterbatasan karena kecilnya gaji yang diterima. (ny/Tribunnews.com)

Keyword Guru Honorer