press enter to search

Sabtu, 15/12/2018 13:22 WIB

Perempuan Berkuasa di Pulau Guna Yala Panama

| Kamis, 27/09/2018 02:21 WIB
Perempuan Berkuasa di Pulau Guna Yala Panama

GUNA YALA (aksi.is) - Di sebuah komunitas kecil masyarakat adat di Guna Yala, lepas pantai timur Panama, menantang stereotipe dan sangat menghormati perempuan.

Saat perahu tua berderit yang kami tumpangi melewati perairan Karibia yang tenang, saya tiba-tiba merasa bahwa kami baru saja sampai di surga.

Pulau-pulau kecil yang tersebar di antara perairan biru muda dengan pasir putih berkilau, lengkap dengan pohon kelapa dan kelapa hijau, terlihat terlalu sempurna untuk jadi kenyataan.

Inilah Guna Yala, atau juga dikenal dengan San Blas: kepulauan di lepas pantai timur Panama yang terdiri dari 300 pulau, dan 49 di antaranya ditinggali oleh orang-orang suku Guna.

Orang-orang Guna, yang berjumlah 50.000 orang, hidup mengikuti cara nenek moyang mereka, tinggal di pondok-pondok kayu yang atapnya terbuat dari daun pohon kelapa, dan kayu bakar memenuhi tungku mereka, dan hammock atau tempat tidur berayun adalah satu-satunya perabot di rumah mereka.

Guna Yala punya banyak keistimewaan: kawasan ini merupakan wilayah masyarakat adat yang otonom, dan mereka punya bendera berwarna hitam dengan lambang swastika yang menghadap ke kiri, dan mewakili empat arah mata angin dan penciptaan dunia.

Namun yang paling unik dalam tradisi Guna Yala adalah kesamaan gendernya yang merupakan bagian dari kebiasaan mereka — serta toleransi, atau malah perayaan, akan kecairan gender.

 

Kepulauan Guna Yala di lepas pantai timur Panama ditinggali oleh suku asli orang-orang Guna.Hak atas foto PAUL STEWART
Kepulauan Guna Yala di lepas pantai timur Panama ditinggali oleh suku asli orang-orang Guna.

"Ibu saya mengajari cara membuat mola, pakaian tradisional dengan bordir, yang indah ini," kata Lisa, sambil memperlihatkan karya buatan tangannya yang luar biasa.

"Beberapa bordiran ini mewakili burung dan hewan lain, tapi yang lain sangat kuat — bordiran ini bisa melindungi Anda dari roh jahat," katanya sambil tersenyum lembut.

Buat seorang pengunjung seperti saya, tak ada yang istimewa dari Lisa. Seperti banyak perempuan Guna Yala lainnya, dia duduk di kano kecilnya sambil menawarkan kerajinan tangan yang dibuatnya untuk turis di perahu. Tapi Lisa terlahir sebagai seorang lelaki.

Dalam sebuah masyarakat di mana perempuannya menjadi penyalur makanan utama, pemilik properti dan pengambil keputusan, anak laki-laki boleh memilih untuk menjadi Omeggid, atau berarti `seperti perempuan`, dan mereka bisa berlaku dan bekerja seperti perempuan lain di komunitas ini.

`Jenis kelamin ketiga` ini adalah sesuatu yang sangat normal di kepulauan tersebut.

Jika seorang anak laki-laki mulai menunjukkan kecenderungan `perempuan`, keluarga dengan wajar menerimanya dan membiarkannya tumbuh menjadi seorang perempuan.

Sering Omeggid akan mempelajari kemampuan yang biasanya dilakukan oleh perempuan; contohnya, sebagian besar Omeggid yang tinggal di kepulauan itu akan menguasai kemampuan untuk membordir mola yang paling rumit.

 

`Jenis kelamin ketiga` atau Omeggid adalah fenomena yang sangat biasa di kepulauan tersebut.Hak atas foto NANDÍN SOLÍS GARCÍA
Jenis kelamin ketiga` atau Omeggid adalah fenomena yang sangat biasa di kepulauan tersebut.

Diego Madi Dias, seorang antropolog dan peneliti pasca-doktoral di Universitas Sao Paulo, tinggal di Guna selama lebih dari dua tahun dan melihat dengan langsung sosok matriarkal yang berkuasa di Guna yang berpengaruh besar dalam kehidupan pria Guna.

"Orang-orang Guna mengajari saya bahwa anak-anak harus memiliki otonomi, karena `diri` mereka yang sebenarnya ada dalam hati, dari dalam, dan mulai mewujud sejak awal. Jadi jika seorang anak laki-laki mulai menunjukkan kecenderungan menjadi transgender, mereka tidak akan dicegah untuk menjadi diri mereka sendiri," katanya.

Nandín Solís García, seorang transgender penyuluh kesehatan dan aktivis hak LGBTQ di Panama City, berasal dari komunitas pulau Aggwanusadub dan Yandub di Guna Yala, mengatakan pada saya bahwa tumbuh besar menjadi seorang anak laki-laki gay dengan identitas gender yang cair bukan hal sulit di pulau itu karena dia selalu mendapat dukungan keluarganya, serta teman dan masyarakat.

Biasanya laki-laki yang menjadi perempuan transgender — perubahan perempuan yang menjadi laki-laki cukup jarang terjadi, tapi jika terjadi maka perubahan itu juga mendapat penerimaan yang sama, katanya.

"Secara historis, memang selalu ada orang transgender di Guna," katanya.

Keberadaan Omeggid di Guna Yala pun berasal dari mitologi Guna.

"Ada kisah-kisah penciptaan penting tentang para pemimpin asli yang membawa tradisi ini, serta aturan dan panduan bagi kehidupan orang-orang Guna: seorang laki-laki bernama Ibeorgun, saudarinya, Gigadyriai, serta adik laki-laki mereka Wigudun — sosok yang kini menjadi `jenis kelamin ketiga`," kata Dias.

Dia menjelaskan bahwa Wigudun adalah laki-laki dan perempuan.

Diego Madi Dias: Hak atas foto PAUL STEWART
Diego Madi Dias: "Jika seorang anak laki-laki mulai menunjukkan kecenderungan transgender, maka dia tidak akan dicegah untuk menjadi dirinya sendiri."

Berjalan di jalanan Crab Island, salah satu komunitas terbesar di area wisatawan di Guna Yala, saya melihat perempuan di mana-mana.

Mereka mengenakan pakaian tradisional yang dibordir dengan indah, mereka juga mengerjakan kerajinan tangan, menjaga toko-toko kecil dan menjual makanan serta minuman.

Berbeda dari perempuan di negara-negara Amerika Tengah lainnya, perempuan Guna tampak lebih terbuka dan suka mengobrol: membuka percakapan di sini jauh lebih mudah daripada di desa-desa di Guatemala atau Nikaragua.

Menurut David, pemandu saya di Crab Island, perempuan di Guna Yala menikmati status yang terhormat.

Dalam upacara pernikahan tradisional di Guna, ada acara penculikan mempelai laki-laki, dan bukan pengantin perempuan, dan jika seorang lelaki sudah menikah, maka istrinya yang memutuskan apakah si suami bisa membagi ikan, kelapa, atau tanaman plantain-nya untuk orangtua atau saudara mereka.

Bahkan acara pesta di sini, kata David, dilakukan untuk menghormati perempuan: tiga perayaan paling utama di pulau Guna Yala adalah kelahiran perempuan, pubertas perempuan dan pernikahannya.

Semua orang berkumpul untuk minum chicha, bir lokal yang keras, untuk merayakan kehadiran dan tumbuh dewasanya perempuan. Dalam perayaan pubertas, septum (dinding tipis yang membatasi kedua lubang hidung) seorang gadis akan ditindik dan kemudian dipasangi cincin emas.

"Emas adalah harta karun, jadi perempuan mengenakan emas untuk menunjukkan betapa berharga dan bernilainya mereka," kata seorang perempuan tua Guna pada saya, sambil menunjuk ke cincin emas di hidungnya.

 

Perempuan di Guna Yala menikmati status yang terhormat.Hak atas foto PAUL STEWART
Perempuan di Guna Yala menikmati status yang terhormat.

Meski para pria secara tradisional menjadi nelayan, pemburu, petani atau kepala suku, namun pekerjaan perempuan dianggap sama atau malah lebih penting.

Dengan meningkatnya wisatawan, orang-orang Guna mulai memperoleh penghasilan dari sumber-sumber lain selain berdagang kelapa, menyelam untuk mencari lobster, mencari ikan atau bertani, seperti yang dilakukan pendahulu mereka.

Perempuan Guna bisa mendapat penghasilan besar dari menjual bordiran mola yang rumit dan winis (gelang warna-warni yang dibuat dari kaca). Satu mola bisa terjual $30-$50, sementara seorang pria hanya mendapat $20 dari seharian membersihkan bagian bawah kapal yang berkunjung.

"Saya tidak akan mengatakan Guna adalah sebuah matriarki, karena meski perempuan mengambil semua keputusan domestik, mereka jarang menjadi politisi atau kepala suku. Mungkin yang menarik soal Guna adalah tidak ada hierarki dalam nilai kerja.

Mencari ikan atau berburu dianggap kerja, tapi begitu juga memasak dan merawat anak: orang-orang Guna tidak melihat pekerjaan perempuan sebagai `lebih rendah`, seperti yang biasanya terjadi di Barat.

Tapi karena laki-laki yang pindah ke rumah perempuan, dan karena perempuan menjadi pengatur distribusi makanan, maka maskulinitas kadang dilihat sebagai sesuatu yang sulit dicapai," kata Dias.

David mengakui bahwa pernikahannya diatur oleh orangtuanya dan orangtua istrinya, dan dia tak bisa ikut campur dalam urusan properti atau pembagian makanan di rumahnya.

"Istri saya yang memutuskan…Perempuan selalu yang memutuskan," katanya sambil tersenyum, kemudian buru-buru pergi untuk menyiapkan chicha. Hari ini, anaknya sudah puber, dan seluruh Crab Island akan ikut merayakannya.

Namun meski perempuan memiliki peran yang jelas di masyarakat Guna, Omeggid kadang tidak memilikinya.

"Dengan semakin seringnya orang Guna berhubungan dengan budaya barat, sayangnya kami mulai meniru praktik-praktik diskriminasi terhadap keragaman, salah satunya terhadap orang-orang LGBTQ," kata Garcia.

Menurut Garcia, banyak Omeggid yang meninggalkan Guna Yala ke Panama City untuk pendidikan atau kesempatan karir.

Meski ada yang mimpinya jadi kenyataan, tapi banyak yang justru bernasib buruk.

"Kami punya masalah besar dengan HIV di sini. Di Guna Yala, tidak ada pendidikan seks dan orang-orang tidak tahu soal penyakit yang menular secara seksual. Alhasil, banyak (laki-laki dan) Omeggid yang terinfeksi HIV di kota, dan kemudian, tanpa sadar, membawanya ke Guna saat mereka pulang.

Wigudun Galu [sebuah LSM] bekerja untuk mencegah infeksi HIV dan memberikan pelajaran kesehatan reproduksi ke komunitas Omeggid," katanya.

Perempuan Guna bisa mendapat pemasukan yang berarti dari menjual mola dengan pola bordiran rumit.Hak atas foto PAUL STEWART
Perempuan Guna bisa mendapat pemasukan yang berarti dari menjual mola dengan pola bordiran rumit.

Namun terlepas dari isu-isu ini, Omeggid yang tinggal di Guna Yala cukup sukses.

Baik di pulau besar atau utama dan pulau-pulau yang lebih kecil, mereka banyak terlihat. Omeggid muda dengan rambut panjangnya belajar kerajinan tangan dari ibu-ibu mereka, dan Omeggid yang lebih tua dan mengenakan scarf penutup kepala menjual mola atau menjadi pemandu turis dan penerjemah.

Mereka diperlakukan seperti anggota masyarakat Guna serta anggota keluarga Guna yang setara.

"Saya pikir daripada hanya menggambarkan bagaimana masyarakat adat atau cara hidup mereka, antropologi harusnya membantu untuk menganalisis tradisi kami. Terlepas dari waktu, di banyak benua dan budaya, kecairan gender dan konsep jenis kelamin ketiga terus muncul: hijra di India, Meti di Nepal, Fa`afafine di Samoa; orang-orang `dua roh` di Amerika Utara.

Mereka bukan perkecualian, malah kita yang perkecualian. Tradisi Barat telah mengkonstruksi mitos sains dan dua jenis kelamin. Dan tampaknya, akhirnya jenis kelamin bukan hanya soal biologi, hormon atau sains, tapi juga soal ekspresi diri dan kepribadian, sebuah cara unik untuk hadir di dunia," kata Dias.

Saat Lisa menjauh dari perahu kami, dan kano kecilnya berayun-ayun di laut biru, saya berpikir bahwa Guna Yala tampaknya menjadi dunia alternatif yang damai, penuh dengan toleransi dan pemahaman — dan ada banyak yang bisa kita pelajari dari masyarakat adat di kepulauan kecil di Karibia ini.

Sumber: 

Keyword Panama

Artikel Terkait :

-