press enter to search

Selasa, 16/10/2018 23:13 WIB

Begini Perjuangan Perempuan Hamil Tua Asal Yogyakarta Selamat dari Gempa Palu

| Rabu, 03/10/2018 01:45 WIB
Begini Perjuangan Perempuan Hamil Tua Asal Yogyakarta Selamat dari Gempa Palu Surantina, wanita Palu yang tengah hamil tua, selamat dari gempa setelah berlari sejauh dua kilometer

PALU (aksi.id) - Wajahnya sudah terlihat pasrah. Perutnya yang terus membesar sudah tidak ia hiraukan. Surantina (38) warga Kampung Bamba Kadongo, Kelurahan Panau, Kecamatan Taweli, Kota Palu ini tengah hamil 8 bulan.

Pada Jumat (28/09/2018) sore, seperti biasa ia tengah di rumah bersama anak lelakinya yang berusia 10 bulan, Jestin Rafasya. Sang suami, Jefrie (29) baru saja pulang kerja. Sore itu ia duduk santai di depan rumah yang menghadap ke Pantai Bamba. Mendadak, bumi berguncang hebat. Dinding rumah mereka pun terbelah.

“Saya refleks langsung lari ke luar rumah sambil gendong Jestin di bahu. Saya tak peduli lagi hamil. Yang saya pikirkan bagaimana saya dan anak saya selamat,” tutur Surantina.

Lututnya sempat terantuk batu. Tapi, Surantina tak mau menyerah. Ia berlari sekuat tenaga hingga menjauhi pantai dan mendekati bukit, hingga sekitar dua kilometer jauhnya.

Suaminya, Jefrie, sibuk menyelamatkan ibu dan saudara-saudaranya yang masih di rumah. Alhamdulillah semua anggota keluarga mereka selamat.

“Sekarang tinggal di pengungsian di Desa Anja. Tak terlalu jauh dari sini,” imbuh wanita kelahiran Yogyakarta ini saat menengok ke reruntuhan rumahnya bersama sang suami untuk mencari sesuatu yang masih bisa dimakan.

Dikatakan Surantina, sejak gempa dengan magnitudo 7,4 skala richter yang terjadi pada tiga hari yang lalu, ia kesulitan untuk memperoleh makanan.

Tak terasa air mata Surantina mengalir membasahi pipinya saat ditanya apa yang dimakan selama kurang lebih empat hari tinggal di hutan.

“Saya makan pisang, kentang, kacang-kacangan buat bertahan hidup sama keluarga. Anak saya kasih air gula,” ujar wanita berkulit sawo matang ini sembari meneteskan air mata.

Pakaian pun, kata Surantina, hanya yang melekat di badan saja. Oleh karena itu, ia heran dengan belum adanya sedikitpun bantuan yang ia terima dari pemerintah. Padahal, rumahnya jelas-jelas hancur. Makanan tidak ada. Minum pun tak lagi dari air bersih. “Kami minum dari air sungai. Kami masak. Airnya kami endapkan,” ujar dia.

Surantina dan suaminya tak pernah menjarah. Ia tak berani sedikitpun untuk menghentikan kendaraan yang membawa bantuan. Menurut Surantina, para pelaku penjarahan justeru diduga didominasi oleh orang luar Palu, yang bukan pengungsi.

“Kami ini masih trauma pak. Mana berani kami berbuat itu (menjarah,red). Kami hanya minta diperhatikan oleh pemerintah, terutama minuman dan makanan. Itu saja,” ungkapnya.

Hal lain yang menjadi beban pikiran Surantina adalah kehamilannya. Memasuki usia 8 bulan, Surantina bingung mengenai persalinannya. Saat diperiksa terakhir satu bulan yang lalu, dokter menyatakan janin dalam kandungannya berada dalam posisi melintang.

“Harus caesar kata dokter. Uang dari mana? Sekarang aja Cuma punya uang Rp 200 ribu. Tak bisa dipakai. Tak ada warung yang buka untuk sekedar beli susu untuk anak saya,” keluh Surantina.

Ia hanya berharap bisa diterbangkan ke Bandung menggunakan pesawat Hercules. Kakaknya yang berada di Dayeuhkolot, Kabupaten Bandung berjanji akan mengurus persalinannya jika bisa ke Bandung.

“Tolong tanyakan ya pak. Barangkali saya bisa ke Bandung. Tolong ya pak,” pungkas Surantina.

 Yayasan Harapan Amal Mulia yang juga ada di lokasi berharap ingin membantu warga ini. “Insha Allah kita juga akan coba membantu teman-teman disini, ini juga kami lagi mendata apa kebutuhan warga disini,” kata Riffa salah satu perwakilan Yang Harapan Amal Mulia dari Bandung.

Reporter: Saifal/INA News/kiblat.net