press enter to search

Sabtu, 15/12/2018 13:42 WIB

Kisah Rahmat Saiful Bahri Selamat dari Tsunami Aceh & Palu

| Sabtu, 06/10/2018 14:03 WIB
Kisah Rahmat Saiful Bahri Selamat dari Tsunami Aceh & Palu Rahmat Saiful Bahri, warga Aceh yang selamat dari bencana sulteng. (Foto:Zuhri Noviandi/kumparan)

PALU (aksi.id) - Lolos dari maut dalam bencana yang menewaskan ribuan orang dan meluluhlantakkan segalanya, merupakan pengalaman luar biasa. Tetapi lolos dari dua bencana serupa? Itulah yang terjadi pada Rahmat Saiful Bahri.

Pada 2004, pria berusia 50 tahun itu selamat dari tsunami yang menerjang Aceh dan menewaskan 200.000 orang lebih.

Dan Jumat (28/9) 2018 lalu, saat gempa-tsunami menghantam Sulawesi Tengah sehingga sejauh ini menewaskan lebih dari 1.500 orang, pria Aceh ini sedang berada di Palu, salah satu kawasan yang paling parah diterjang tsunami.

Ia kembali lolos dari maut yang sudah begitu dekat.

Sebagai Kepala Sekretariat Majelis Adat Kota Banda Aceh, Rahmat Saiful Bahri berada di Palu untuk menghadiri lokakarya nasional best practice implementasi penguatan peran tokoh informal dan lembaga adat, sebuah acara tentang peran adat tradisional daerah dalam kebudayaan Indonesia.

Ia tiba di Palu pada Kamis (27/08), sehari sebelum pembukaan acara yang dijadwalkan berlangsung Jumat (28/08), dan menginap di sebuah wisma dekat bandara.

Baru pada Jumat itu Rahmat pindah ke Swiss Belhotel tempat berlangsungnya acara. Setelah menyelesaikan registrasi sebagai peserta dan chek-in di hotel yang terletak tak jauh dari di tepi pantai Palu, ia pun masuk kamar.

"Baru masuk kamar mandi di kamar, tiba-tiba gempa mengguncang, sampai saya terbontang-banting di dalam kamar mandi," kata Rahmad Saiful Bahri, kepada Hidayatullah, wartawan di Aceh yang melaporkan untuk BBC News Indonesia.

Rahmat Saiful BahriHak atas foto RAHMAT SAIFUL BAHRI
Rahmat Saiful Bahri, menunggu giliran terbang dari Palu, setela lolos dari terjangan tsunami.

Pengalaman sebagai penyintas tsunami Aceh 2004, membuatnya bergerak cepat.

"Ketika gempa itu, saya sudah terpikir akan terjadi tsunami, (karena letak Palu di dekat pantai). Maka dari kamar hotel yang berada di lantai tiga, saya bukan lari keluar, tapi berusaha lari ke lantai lima untuk menyelamatkan diri, dari kemungkinan tsunami," katanya.

Dalam perhitungannya, "kalau pun hotel ambruk karena gempa, yang jadi korban itu di bawah, jadi saya masih bisa selamat karena berada di atas," kata Rahmat.

Beberapa orang mengikuti jejaknya naik ke lantai lima, lantai tertinggi hotel itu. Bahkan ada yang naik melalui jendela.

Di lantai lima sudah ada beberapa orang. Dan betul saja, tsunami terjadi.

"Tetapi ada juga yang berlarian turun ke bawah dalam keadaan panik, walaupun diserukan untuk jangan turun. Akhirnya jadi korban, terbawa air bah," kata Rahmat.

Dari jendela lantai lima, dalam kecemasan menyaksikan dahsyatnya peristiwa tsunami itu.

"Kita lihat ombak mungkin tingginya tiga meter, menggulung arah daratan, menghempas hotel kami," kata Rahmat.

Untunglah bangunan hotel mereka cukup kokoh. "Hanya lantai bawah yang rusak," kata Rahmat pula.

Swiss belhotelHak atas foto MOHD RASFAN/AFP/GETTY IMAGES
Saat gempa, Rahmat berlari ke lantai lima karena yakin akan ada tsunami. Dan betul: mereka selamat, dan hanya bagian bawah bangunan yang rusak.

Beberapa puluh menit kemudian, gempa selesai dan gelombang sudah mulai reda, Rahmat bersama beberapa orang lain yang selamat baru berani turun ke lantai bawah.

"Masih ada air, ketinggiannya tinggal sekitar 30 cm, tapi sudah tenang. Lalu kami bersama yang lain lari ke Bukit Sirei yang jaraknya sekitar dua kilometer dari hotel," katanya, seraya menjelaskan bahwa hal itu untuk mengantisipasi kemungkinan terjadinya tsunami susulan.

Bukit Sirei tingginya sekitar 50 meter.

"Semua lari ke bukit, di sana kami berlindung selama setengah hari. Untuk makan ada bantuan dari warga berupa nasi dengan mi instan."

tsunamiHak atas foto CARL COURT/GETTY IMAGES

 

Setelah merasa keadaan sudah lebih stabil, mereka memutuskan untuk turun dari bukit. Rahmat dan beberasapa sesama peserta lokakarya dari luar Sulawesi, langsung mencari cara untuk terbang meninggalkan Palu.

"Jadi semua orang berinisiatif untuk pergi ke bandara," kata Rahmat. Bandara Mutiara Sis Al-Juffrie berjarak sekitar 10 km dari tempat mereka.

Mereka berjalan beberapa jam, menembus lumpur, puing, dan berbagai jenis sampah.

Jenazah manusia dan bangkai hewan tampak bergelimpangan. Kendaraan yang rusak dan terbalik akibat tsunami terlihat di mana-mana. Juga perabotan-peraboitan rumah dan berbagai benda lain.

bandara PaluHak atas foto GETTY IMAGES
Ribuan orang memadati bandara Palu, untuk menumpang pesawat Hercules agar bisa meninggalkan Palu.

Di bandara, ternyata sudah sangat banyak orang yang mengantre dengan harapan yang sama: untuk bisa naik pesawat militer jenis Hercules untuk dievakuasi.

Jumlah pesawat dan mereka yang ingin pergi sangat tidak seimbang, Rahmat harus menunggu selama tiga hari ditempat tersebut.

"Semua orang kesulitan, tidak ada bantuan, tidak ada makanan. Keributan mulai terjadi, karena semua yang ada di situ ingin keluar dari wilayah Palu, lantaran gempa terus terjadi. Syukurnya, pada hari keempat, saya mendapat giliran, dievakuasi ke Makassar, lalu Jakarta. Dan Alhamdulillah, akhirnya tiba kembali ke Aceh," kisah Rahmat.

Sebelumnya, keluarga Rahmat resah ketika dua hari hilang kontak padahal laporan mengenai gempa dan tsunami bermunculan.

Pada Rabu (03/10), Rahmat kembali mendarat di Aceh, kampung halamannya, tempat ia mengalami kejadian serupa 14 tahun lalu dalam skala yang bahkan jauh lebih dahsyat.

Gempa dan tsunami Aceh pada 26 Desember 2004 menewaskan lebih dari 220.000 orang di berbagai negeri, termasuk Thailand. Namun yang paling menderita dan paling banyak korban, adalah Aceh, dengan lebih dari 170.000 korban jiwa.

Rahmat Saiful Bahri mengenang, pada 2004 ia selamat dari gempa dan tsunami Aceh dengan berlindung di atas surau yang tinggi. Pengalaman yang memberinya pelajaran penting dalam menyelamatkan diri di Palu.

"Tanggal 26 Desember tahun 2004 itu saya sedang bersiap-siap untuk berangkat kerja, walaupun hari Minggu, karena ada tugas menyiapkan pidato wali kota untuk rapat paripurna," Rahmat Saiful Bahri, mengenang gempa dan tsunami Aceh 14 tahun lalu.

Itu tsunami pertama yang dialaminya dalam hidupnya, dan Rahmat tak pernah membayangkan akan mengalami yang kedua kalinya, dan, untungnya, selamat.

"Mulanya tidak ada yang tahu itu tsunami, semua berpikir itu banjir saja," kata Rahmat.

Saat itu rumahnya yang berada di Desa Jeulingke, Kecamatan Syiah Kuala, Banda Aceh, hanya berjarak sekitar satu kilometer dari bibir pantai.

"Saya pikir banjir biasa, makanya saya masih sempat mengunci pintu dan membawa semua keluarga ke surau didekat rumah. Namun tiba-tiba gelombang tinggi datang, dan menggulung apa saja," kenang Rahmat.

"Banyak orang yang di depan mata kita terhimpit bangunan dan dibawa ombak, semua meminta tolong, tapi kita hanya bisa melihat sampai mereka meninggal. lailahaillallah... lailahaillallah... awalnya hidup walaupun terhimpit, tepat didepan mata, tapi tidak ada yang berani menolong.

"Saat itu semua orang berzikir dan mengucapkan apa pun yang bisa diucapkan untuk berdoa," ungkap Rahmat dengan suara yang semakin serak.

Keluarga Rahmat sempat panik karena salah satu anaknya tak ada. Namun ternyata sang anak sudah dievakuasi ke Kabupaten Pidie oleh tetangga, "Semua kami sehat."

Surau dengan bangunan dua tingkat tempat mereka mengungsi dan berlindung dari tsunami, masih ada sampai saat ini, jelas Rahmat Saiful Bahri.

Pengalaman itulah yang membuatnya bisa mengendus bahaya, Jumat pekan lalu, ketika gempa terjadi.

"Jadi langsung sya mencari tempat tinggi, dan alhamdulillah, selamat untuk kedua kalinya."

Tentu saja, Rahmat berharap peristiwa Palu akan mrupakan tsunami terakhir yang dialaminya, dan tak akan pernah mengalami yang ketiga kali.

(aisha/umber: BBC Indonesia)

 

Keyword Tsunami