press enter to search

Sabtu, 15/12/2018 16:49 WIB

Mengenal Utuy Tatang Sontani Sastrawan Asal Cianjur yang Melarikan Diri & Wafat di Rusia

| Senin, 08/10/2018 03:11 WIB
Mengenal Utuy Tatang Sontani Sastrawan Asal Cianjur yang Melarikan Diri & Wafat di Rusia Utuy Tatang Sontani

MOSKOW (aksi.id) - Melalui media sosial, seorang warganet asal Rusia bernama Pavel Serin mengantar kita ke depan nisan Utuy Tatang Sontani — salah satu dramawan perintis Indonesia` yang meninggal dalam pelarian politik di Moskow. Masih perlukah kita mengingat dia?

``Saya suka gayanya. Banyak canda, walaupun sesungguhnya makna tulisannya serius,`` gumam Pavel, yang mencabuti gulma di sekitar makam Utuy Tatang Sontani pada pertengahan Mei.

``Itu seperti kebiasaan orang Sunda ya, suka tertawa saat membahas hal serius.``

Pavel baru tuntas membaca `Badut` — salah satu tulisan pendek Utuy yang sudah diterjemahkan ke dalam bahasa Rusia. Sepulang belajar bahasa Indonesia setahun di Bandung, dia berjumpa dengan tulisan Utuy saat mencari-cari sastra Indonesia yang sudah diterjemahkan.

Lahir di Cianjur  pada 13 Mei 1920, Utuy menjadi nama yang populer saat sastra Indonesia bersentuhan dengan Rusia pada dekade 1950-an.

``Saya membeli satu buku yang ditulis ilmuwan Rusia tentang sastra Indonesia, dari situ saya tahu bahwa Utuy pernah tinggal lalu meninggal di Moskow,`` lanjut Pavel, memperlihatkan buku tebal bersampul biru karya Profesor Vilen Sikorsky, yang apabila diterjemahkan berjudul `Tentang Literatur dan Budaya Indonesia`.

Secara kebetulan, di salah satu postingan di dinding Facebook, Pavel membaca seorang teman dekat asal Cianjur sedang mencari makam Utuy di Moskow.

``Saya pikir saya harus antar. Saya tidak tahu di mana makam Utuy, tapi begitu saya cari rupanya bisa ditemukan dengan cepat.``

Pembaringan terakhir sang sastrawan eksil itu adalah pekuburan Mitino, Moskow. Tepatnya pada sektor muslim - yang yang pertama kali dibuka dalam jenisnya di Moskow.

``Dari jauh sudah kelihatan nisannya. Makamnya kotor dan penuh tanah. Semua tertutup daun yang gugur,`` kata Pavel, menceritakan kembali pertemuan dengan penulis yang kemudian menjadi favoritnya.

``Saya merasa kasihan. Tidak pernah ada yang datang``

Grey line

Karya-karya Utuy Tatang Sontani

  • 1948: Suling (drama)
  • 1948: Bunga Rumah Makan (Drama satu babak)
  • 1949: Tambera (roman)
  • 1951: Orang-Orang Sial (kumpulan cerita 1948-1950: 1. Paku dan Palu; 2. Doger; 3. Mengarang; 4. Jaga Malam; 5. Keluarga Wangsa; 6. Badut; 7. Kekasih Pujaan; 8. Lukisan; 9. Ditraktir; 10. Suami-Isteri; 11. Bendera; 12. Usaha Samad), Awal dan Mira (drama satu babak)
  • 1953: Manusia Iseng (drama satu babak), Sangkuriang - Dayang Sumbi (drama tiga babak)
  • 1954: Sayang Ada Orang Lain (drama satu babak)
  • 1955: Di Langit Ada Bintang (drama satu babak) Sang Kuriang (Drama)
  • 1956: Selamat Jalan, Anak Kufur (drama satu babak)
  • 1957: Di Muka Kaca (drama), Saat Yang Genting (drama satu babak)
  • 1959: Si Kabayan (komedi dua babak), Sang Kuriang (libretto dua babak)
  • 1961: Segumpal Daging Bernyawa (drama)
  • 1961: Manusia Kota (kumpulan drama satu babak: 1. Sayang Ada Orang Lain; 2. Di Langit Ada Bintang; 3. Saat Yang Genting; 4. Pengakuan)
  • 1962: Sang Kuriang (opera dua babak dalam bahasa Sunda)
  • 1963: Si Sapar (novelet tentang kehidupan penarik becak di Jakarta), Kumpulan Drama: Selamat Jalan, Anak Kufur dan Di Muka Kaca, Tak Pernah Menjadi Tua (drama)
  • 1964: Si Kampeng
Grey line

 

``Entah apa karena saya kuliah di Bandung kemudian merasa ya zyimliki (sebangsa). Dari tanah yang sama,`` ujar Pavel.

Dengan begitu banyak orang Indonesia yang datang dan tinggal di Moskow, dia menaruh harapan bahwa akan ada yang mau datang berziarah. ``Sabilulungan, gotong royong. Sebab makam ini di Rusia, tapi milik Indonesia,`` tegas dia.

``Makam itu harus dibersihkan dan dijaga dengan baik, karena menurut saya Utuy salah satu penulis penting untuk sastra dan budaya Indonesia. Dia tidak memilih untuk hidup di rantau. Dia di sini karena tidak bisa pulang ke Indonesia. Tragis.``

Pavel menunjuk ukiran nama pada nisan Utuy yang mulai kabur, susah dibaca, dan kusam termakan cuaca. Granit hijau itu baru kembali mengkilat setelah disikat oleh Pavel. Di situ tersebut tertulis nama Utuy Tatang Sontani dalam aksara sirilik.

Berikutnya tertera keterangan, Indonesiyskiy Pisatel yang artinya, Penulis Indonesia.

Penulis Indonesia, yang seakan lenyap dari sejarah sastra Indonesia.

Padahal, ``Saya pikir, dialah yang menciptakan drama modern di Indonesia,`` ujar kata Profesor Vilen Sikorsky, kepada Clara Rondonuwu, pelajar Indonesia di Moskow yang melaporkan untuk BBC News Indonesia.

Sebelum era Utuy, imbuh dia, drama yang ditulis di Indonesia berbentuk `bacaan`. Tapi Utuy mulai menulis `drama untuk dimainkan`.

Tentang bagaimana Utuy tiba di Moskow, dia mengisahkan kembali bahwa tiga hari sebelum peristiwa 30 September 1965, Utuy terbang ke Cina untuk `berobat`.

``Istrinya batal ikut, sebab paspor belum jadi.``

Dalam bukunya, Vilen juga menulis bahwa antara 30 September dan 1 Oktober 1965, Utuy berobat di rumah sakit di Peking. Sementara itu, di tanah air Gestapu pecah dan orang-orang Lekra dijebloskan ke penjara dan pengasingan.

Dia terjebak di tanah asing, tak bisa kembali. Kesehatan memburuk pada Oktober 1973, saat itu dia memperoleh izin dari Cina untuk berobat ke Belanda. Kereta Trans-Siberia yang ia tumpangi dari Beijing lewat di Moskow, kemudian ia memutuskan untuk turun.

Di Moskow, awalnya Utuy menempati sebuah flat di kawasan tenang Rayon Zyuzino, barat daya Moskow. Menurut Vilen pada masa itu persatuan penulis Uni Soviet begitu solid. ``Mereka yang memberikan flat sama dia dan selalu membantu dia,`` terang Vilen.

Mendapat sambutan hangat di Moskow, Utuy menjadi pengajar bahasa Indonesia dan literatur di Institut Asia dan Afrika di Universitas Negeri Moskow.

Grey line

Karya-karya Utuy Tatang Sontani dalam arsipnya di Moskow:

  1. Anjing
  2. Berbicara tentang Drama
  3. Benih
  4. Bukan Orang Besar (drama satu babak)
  5. Di Bawah Langit Tak Berbintang
  6. Di Sanatorium
  7. Kata Pengantar
  8. Kenangan dan Renungan: Mengapa Mengarang, Haru yang Tak Kunjung Kering, What is in a name?
  9. Kolot Kolotok. Sebuah dongeng.
  10. Pemuda Telanjang Bulat. Dongeng Tiga Malam
  11. Tumbuh
Grey line

Nusantara, sebuah perkumpulan akademisi dan ilmuwan yang mempelajari kawasan penutur bahasa Melayu, dua kali menggelar pertemuan antara Utuy dengan masyarakat Rusia.

``Acara tersebut diiklankan dengan poster besar dan digelar di ruangan yang besar sekali untuk dua sampai tiga ribu orang. Di situ dia membacakan karya-karya barunya,`` urai Vilen.

``Kami berusaha membujuk dia untuk terus menulis."

Drama yang tercecer

Vilen mengingat Utuy sebagai sosok yang selalu `berusaha mempertahankan kepribadian tanpa ingin mengganggu orang lain`.

``Dan, kalau boleh juga membantu orang lain. Itulah yang terpokok dari dia.``

Profesor di Universitas Negeri Moskow tersebut menyebut kepribadian Utuy `agak menyerupai` tokoh dalam novel Tambera.

``Di sana juga ada tokoh Kawisa yang seperti Aidit, orang yang juga ia kenal baik.``

Utuy berangkat ke Beijing, karena melihat ada kesempatan berobat di sela mengikuti pertemuan penulis di sana.

``Saat Utuy meninggal, Kuslan (Budiman) yang telepon saya,`` kata Vilen. ``Saya bilang tidak mungkin. Sudah coba pakai kaca (didekatkan ke hidung Utuy)? Sebab, kalau masih bernafas, paling tidak berembun sedikit.``

Utuy meninggal sepekan sesudah keluar dari rumah sakit. ``Penyakitnya jantung,`` ungkap Vilen. ``Hadir kira-kira 50 orang di pemakaman. Banyak sekali orang.``

Adapun, karya-karya peninggalan Utuy diserahkan Vilen ke Ajip Rosidi dan Pusat Dokumentasi Sastra HB Jassin untuk diterbitkan.

``Saya tidak serahkan ke pemerintah Indonesia, sebab waktu itu masih zaman Suharto. Itu tidak mungkin.``

Namun, karya Utuy Tatang Sontani dalam tulisan aslinya masih disimpan oleh Vilen, yang kini usianya sudah lebih dari 80 tahun.

``Saya akan berusaha melalui kedutaan barangkali, untuk menyerahkannya ke Indonesia.``

Karya-karya tersebut yaitu tulisan Utuy selama di Moskow dan sudah diterjemahkan ke dalam bahasa Rusia yaitu Kolot Kolotok dan Pemuda Telanjang Bulat. `

`Karyanya yang ketiga belum selesai, ditulis ketika dia berada di sanatorium. Dia menulis catatan kehidupannya, terutama tentang seorang perempuan Spanyol. Dia banyak menulis di sana, tapi ini semua belum selesai.``

Seberapa penting tempat Utuy di zaman ini? Menurut Vilen, karya-karya Utuy `mengandung ciri-ciri untuk semua waktu`. Yaitu, ciri kemanusiaan.

``Yang jelas Indonesia harus mengingat dia. Dia penulis yang menonjol,`` kata Vilen yang membawakan empat kuntum anyelir ke nisan Utuy Tatang Sontani, tepat di hari lahirnya 13 Mei lalu -menandai ulang tahun Utuy ke 98 tahun.

(lia/sumber: BBC Indonesia).