press enter to search

Minggu, 16/12/2018 14:43 WIB

Di Usia 88 Tahun Ilmuwan Ini Tetap Geluti Matematika

| Selasa, 09/10/2018 01:48 WIB
Di Usia 88 Tahun Ilmuwan Ini Tetap Geluti Matematika Alison Harcourt mulai belajar matematika di tahun 1947 dan masih bekerja sebagai pengajar. Alison Harcourt mulai belajar matematika di tahun 1947 dan masih bekerja sebagai pengajar. (ABC News: Lauren Day)

MELBOURNE (aksi.id) - Alison Harcourt bukanlah warga biasa. Nama perempuan 88 tahun pelopor statistik ini di dunia matematika sudah setingkat selebriti.

Karyanya telah membantu mengukur kemiskinan di Australia dan memainkan peran kunci dalam Undang-Undang Pemilu di sana. Dan ia masih mengajar siswa-siswa muda dari generasi di bawahnya.

Kecintaan terhadap profesi-lah yang membuat Alison masih bekerja setelah 20 tahun dari usia pensiunnya.

"Sulit untuk menjelaskannya karena saya selalu menyukai angka dan matematika," katanya.

"Konsep logika dan bahwa hal-hal harus berjalan sebagaimana mestinya itu yang membuat saya bertahan."

Dan statistik, khususnya, menarik perhatiannya.

"Statistik adalah angka dengan konteks dan konteksnya selalu penting bagi saya," kata Alison.

"Anda tidak hanya melakukannya untuk bersenang-senang."

Karir dalam bidang angka

Alison memulai gelar matematikanya di Universitas Melbourne pada tahun 1947 sebagai satu dari dua perempuan yang mempelajari subyek ini.

Pada tahun 1960 ia lanjut menerbitkan sebuah makalah terobosan tentang pemrograman linier -bagian dari matematika yang kemudian digunakan untuk mengoptimalkan semuanya mulai dari logistik transportasi hingga radioterapi kanker.

Pada pertengahan 1960-an, ia bekerja dalam sebuah tim yang memperkirakan tingkat kemiskinan di Melbourne untuk pertama kalinya.

Dan pada 1980-an, ia menggunakan kejeniusan matematikanya untuk menunjukkan kekurangan pada kertas suara voting, yang akhirnya, sejak saat itu, menyebabkan perubahan yang berlaku dalam setiap Pemilu.

Kepala Ikatan Ilmuwan Matematika Australia, Profesor Kate Smith-Miles mengatakan itu adalah karir yang mengesankan.

"Itu benar-benar cerita luar biasa bagi seorang perempuan yang hanya melakukan kesenangannya," kata Kate.

"Dan ia benar-benar melakukan sesuatu yang istimewa dalam masa yang, saya bayangkan, cukup menantang, tidak banyak dukungan."

"Tapi ia benar-benar bertahan dan membuat perubahan."

Upaya menutup disparitas gender dalam matematika

Untungnya bagi para siswa saat ini, teknologi yang digunakan dalam matematika telah banyak berubah dibandingkan ketika Alison masih muda.

"Kami memiliki kalkulator genggam di mana ada roda di dalam tubuh benda itu," katanya.

"Dan ketika anda membalikannya, hal itu memutar roda berupa nomor sehingga informasi semacam itu dipindahkan."

Tetapi ia mengatakan, perubahan untuk kaum perempuan masih terlalu sedikit. Perempuan hanya berkontribusi 16 persen dalam lapangan kerja di bidang sains, teknologi, teknik dan matematika, dan berkontribusi kurang dari 10 persen dalam daftar profesor matematika Australia.

"Itu sudah lebih mudah tapi masih banyak yang harus dilakukan," kata Alison.

"(Menjadi) perempuan sendirian atau bahkan ketika hanya ada kalian berdua, masih jauh untuk mendapatkan pengakuan yang lebih baik."

"Apa yang tidak ada selama masa perkuliahan saya dan apa yang ada sekarang adalah lebih banyak pekerjaan yang dilakukan untuk melibatkan perempuan."

Alison berharap ceritanya akan menjadi bagian dari sebuah langkah untuk menutup kesenjangan gender dalam matematika.

"Kepada gadis muda, atau bahkan pria muda, saran saya jangan terdesak oleh waktu," katanya.

"Ada hal yang sangat menyenangkan dalam matematika!."

Sumber: abc.net.au